Bujang Katak : Legenda Bangka Belitung Episode 3 — Janji Di Hadapan Alam

Cerita Rakyat Belitung

Saat Kekuatan Diuji Sekali Lagi

Musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Matahari menggantung garang di langit, membakar sawah hingga retak, mengeringkan sungai yang biasanya jernih.

Desa yang dulu hijau kini berubah menjadi tanah cokelat berdebu. Orang-orang resah. Air semakin sulit didapat, padi gagal panen, dan ternak mulai mati satu per satu.

Di tengah kesulitan itu, ibunda Bujang Katak jatuh sakit. Tubuhnya lemah, napasnya pendek, dan wajahnya pucat.

Tabib desa sudah mencoba ramuan, tapi tak ada yang berhasil. Orang-orang berbisik, “Mungkin ini akibat roh hutan yang marah lagi.”

Bujang Katak duduk di samping ibunya, menggenggam tangannya.

Ia tahu, kali ini bukan sekadar penyakit biasa. Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang menuntut pengorbanan.

Malam itu, ia bermimpi. Dalam mimpinya, seekor burung putih hinggap di bahunya dan berbisik:

Carilah bunga putih di puncak gunung tertinggi.

Hanya itu yang bisa menyembuhkan ibumu. Tapi hati-hati, jalan ke sana penuh badai dan petir.

Kau harus berjanji pada alam, menyerahkan sesuatu yang paling berharga.”

Ketika terbangun, Bujang Katak tahu apa yang harus dilakukan. Ia berpamitan pada ibunya.

Ibu, aku akan mencari bunga itu. Jangan khawatir, aku akan kembali.”

Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca. “Nak, jalan itu berbahaya. Jangan korbankan dirimu.”

Tapi Bujang Katak hanya tersenyum.

Ibu, bukankah hidupku sejak awal sudah dianggap kutukan? Jika aku bisa mengubahnya menjadi berkah, biarlah aku mencoba.”

Ia pun berangkat. Orang-orang desa menatapnya dengan heran.

Ada yang mencibir, ada yang diam-diam berharap.

Mereka tahu, tak ada yang berani mendaki gunung itu.

Petir sering menyambar, angin kencang merobohkan pohon, dan jurang menganga di setiap sisi.

Perjalanan panjang dimulai. Ia melewati hutan lebat, menyeberangi sungai yang hampir kering, dan mendaki tebing curam.

Tubuh kecilnya berkeringat, tapi matanya tetap teguh. Setiap kali hampir jatuh, ia mendengar suara angin yang seolah berkata, “Bangkitlah, kau belum selesai.”

Ketika malam tiba, badai datang. Petir menyambar, angin meraung, hujan deras mengguyur.

Bujang Katak berpegangan pada batu besar, tubuhnya gemetar. Tapi ia tak mundur. Ia menatap langit dan berteriak:

Wahai alam, aku tahu ini ujianmu. Aku berjanji, jika kau izinkan aku menemukan bunga itu, aku rela menyerahkan wujudku. Biarlah aku berubah, asal ibuku selamat dan desa ini kembali hidup.”

Seolah mendengar sumpah itu, badai mereda. Petir berhenti, angin tenang, dan hujan berubah menjadi gerimis lembut.

Di hadapannya, di celah batu, tumbuh bunga putih bercahaya. Kelopaknya lembut, aromanya menenangkan.

Dengan hati-hati, Bujang Katak memetik bunga itu.

Ia tahu, ini bukan sekadar bunga. Ini adalah simbol janji, pengikat antara dirinya dan alam.

Ia pun turun gunung dengan langkah mantap.

Ketika tiba di desa, orang-orang berkumpul.

Mereka menatapnya dengan takjub. Tubuhnya basah kuyup, tapi matanya bersinar.

Ia masuk ke rumah, meletakkan bunga itu di dahi ibunya.

Perlahan, napas ibunya kembali teratur, wajahnya memerah, dan matanya terbuka.

Tangis bahagia pecah.

Ibunya memeluknya erat. “Nak, kau telah menyelamatkanku.”

Orang-orang desa berlutut, menunduk pada Bujang Katak.

Mereka sadar, anak yang dulu mereka hina, kini menjadi penyelamat. Tapi Bujang Katak hanya berkata pelan:

Jangan berlutut padaku. Berterimakasihlah pada alam. Aku hanya menjalankan janji.”

Malam itu, hujan turun deras membasahi sawah, mengisi sungai, dan menghidupkan kembali desa.

Orang-orang menari di bawah hujan, tertawa, menangis lega.

Tapi di hati Bujang Katak, ia tahu: janji itu belum selesai. Alam telah mendengar sumpahnya. Suatu hari, ia harus menepati: menyerahkan wujudnya.

Dan di kejauhan, di balik hujan, seekor burung putih terbang, membawa kabar bahwa perubahan besar akan segera datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *