Malin Kundang Episode 4: Pulang yang Pahit – Saat Anak Lupa Ibu

Setelah bertahun-tahun menaklukkan laut dan berdagang lintas negeri, Malin Kundang akhirnya kembali ke kampung halamannya.

Namun kepulangannya bukanlah kepulangan seorang anak yang merindukan pelukan ibu—melainkan kembalinya seorang saudagar besar yang ingin dipandang dunia.

Kapalnya megah, berlapis kayu jati dan dihiasi ukiran emas. Layarnya menjulang seperti sayap angin, dan benderanya berkibar gagah menantang matahari pagi.

Di pelabuhan kecil kampung nelayan, suara gonggongan anjing bercampur dengan riuh kagum warga. Anak-anak berlari di pasir, menunjuk-nunjuk ke arah kapal yang bersandar.

Itu Malin Kundang! Anak Mande Rubiyah!” seru seseorang.

Benarkah? Dia sudah jadi orang besar!” sahut yang lain dengan nada takjub.

Kabar itu menyebar cepat seperti angin dari laut.

Dari rumah panggung yang sudah mulai lapuk, Mande Rubiyah mendengar bisik-bisik itu.

Tangannya gemetar, napasnya terengah, tapi matanya berkilat—antara haru dan tak percaya.

Anakku… pulang?” bisiknya, hampir seperti doa yang akhirnya dijawab.

Ia bergegas keluar rumah, mengenakan selendang lusuh dan membawa kain tenun yang dulu ia berikan saat Malin berangkat merantau.

Setiap langkahnya seperti menembus tahun-tahun penantian: masa ketika ia menatap laut sendirian, masa ketika ia memeluk sepi dan hanya ditemani bayang-bayang anaknya.

Sesampainya di dermaga, ia melihat sosok yang dulu hanya ia kenang dalam doa:

Malin—gagah, berkulit bersih, berpakaian halus, dan di sampingnya berdiri seorang perempuan anggun dengan perhiasan berkilau.

Hatinya meledak oleh rindu yang terlalu lama tertahan. Ia berlari kecil, memanggil dengan suara bergetar:

Nak! Malin! Ini Mak, Nak! Makmu!”

Ia memeluk Malin dari samping, tubuh tuanya bergetar, wajahnya basah oleh air mata.

Namun yang ia terima bukanlah pelukan balik—melainkan tatapan dingin.

Malin menegakkan tubuhnya, menatap perempuan itu seolah melihat orang asing.

Siapa kamu?” tanyanya datar, suaranya seperti baja yang ditempa di antara jarak dan gengsi.

Mande Rubiyah terdiam. Bibirnya bergetar, suaranya hampir tak keluar.

Aku… ibumu, Nak. Makmu yang dulu melepasmu pergi.”

Orang-orang di dermaga terdiam. Angin laut seolah berhenti berhembus.

Tapi dari sisi Malin, istrinya memandang jijik pada sosok perempuan tua itu—kulitnya legam, pakaiannya kusam, kakinya berdebu.

“Mana mungkin suamiku anak perempuan miskin seperti itu?” katanya dengan nada sinis.

Wajah Malin mengeras. Ia bisa merasakan tatapan semua orang kepadanya, campuran kagum dan curiga.

Ia takut statusnya akan runtuh, takut gengsinya hancur oleh pengakuan sederhana: bahwa dirinya hanyalah anak nelayan miskin.

Dan dalam ketakutan itu, lahirlah kalimat yang akan mengguncang takdirnya.

Aku bukan anakmu,” katanya dingin. “Jangan ganggu kami.”

Kata-kata itu seperti pisau.

Menembus hati Mande Rubiyah yang selama ini hidup dari satu keyakinan: bahwa anaknya, bagaimanapun tingginya ia terbang, akan tetap tahu jalan pulang.

Orang-orang kampung tertegun. Angin kembali berhembus, tapi kali ini membawa sunyi yang panjang.

Mande Rubiyah berdiri kaku. Air matanya tak lagi jatuh; yang tersisa hanyalah sehelai kain tenun yang kini terasa berat di tangannya—berat oleh kenangan, berat oleh luka.

Ia menatap Malin untuk terakhir kali. Di matanya, bukan amarah yang menyala, melainkan kesedihan yang dalam dan doa yang tak padam.

Dengan suara lirih, ia berucap pelan tapi jelas:

Ya Tuhan, jika benar dia anakku, dan dia durhaka, tunjukkan kuasa-Mu. Bukan karena Mak marah, tapi karena hati yang tergores tak sanggup lagi menanggungnya.”

Langit seolah mendengar.

Dalam sekejap, awan hitam bergulung dari arah laut. Angin berubah menjadi teriakan. Ombak yang tadi jinak kini mengamuk, menggulung kapal besar Malin seolah menagih janji yang dulu ia bawa dari dermaga.

Petir menyambar di langit, guntur menggema. Warga berlarian, panik menyelamatkan diri.

Malin dan istrinya berusaha kembali ke kapal, tapi badai sudah terlalu besar.

Layar koyak, tali tambat putus, dan air laut mulai menghantam dek kapal dengan keras.

Ini… ini tak mungkin!” teriak Malin di antara deru badai. Tapi suara alam lebih keras dari penyesalannya yang terlambat.

Mande Rubiyah berdiri di tepi dermaga, tubuhnya basah oleh hujan, rambutnya menempel di wajah.

Tapi matanya tak lepas dari lautan yang bergolak. Ia tak bersorak, tak menjerit—ia hanya menatap, dengan hati yang perlahan mengerti:

Terkadang, Tuhan menjawab doa bukan dengan suara, tapi dengan kejadian.

Kapal Malin terbalik. Petir terakhir menyambar dengan cahaya menyilaukan.

Ketika badai reda, yang tersisa hanyalah batu besar di tepi pantai, menyerupai sosok manusia yang bersujud.

Orang-orang kampung berbisik ketakutan. Mereka tahu, itu bukan sekadar batu. Itu adalah pengingat tentang janji yang dilupakan, tentang akar yang tercabut oleh kesombongan.

Sejak hari itu, laut di kampung itu tak pernah sama. Kadang, di malam-malam tertentu, warga mengaku mendengar suara lembut di antara debur ombak:

Mak… Maafkan aku…”

Dan setiap kali itu terdengar, Mande Rubiyah hanya menatap ke laut yang hitam, berbisik lirih,

Mak sudah memaafkan, Nak. Tapi waktu tak bisa diulang.”


💭 “Kekayaan bisa menutup tubuh dengan sutra, tapi tak bisa menutupi luka di hati seorang ibu.

Karena cinta, sekalipun disangkal, akan tetap menuntut untuk diingat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *