Banjir Bekasi Meluas ke 7 Kecamatan, Ribuan Warga Bertahan di Tengah Luapan Kali Cikarang
Jingga News, Bekasi, 02 November 2025 — Banjir Bekasi kembali datang bersama awal November 2025.
Tujuh kecamatan terendam, dan Kali Cikarang kembali menguji daya tahan warga.
Hujan deras menumpahkan langit, tapi semangat manusia justru menyalakan harapan baru.
Langit Bekasi dan Air yang Tak Habis-Habis
Sejak malam Jumat, langit Bekasi menurunkan curah hujan tinggi tanpa jeda.
Menurut Liputan6.com, air kiriman dari hulu mempercepat luapan Kali Cikarang hingga melimpas ke pemukiman.
Kombinasi hujan deras dan drainase yang lelah membuat air mencari jalannya sendiri.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, jalan itu melewati halaman rumah, sekolah, dan jalan yang tak lagi kering.
Tujuh Kecamatan Menyatu dalam Genangan
Air merambah tujuh kecamatan: Serang Baru, Cikarang Selatan, Cikarang Barat, Cikarang Utara, Karang Bahagia, Sukatani, dan Cibitung.
AntaraNews.com mencatat, ada 3.548 jiwa dari 1.377 kepala keluarga yang terdampak langsung.
Lebih dari 1.300 rumah terendam, sebagian di antaranya digenangi air hingga 140 sentimeter di Sukatani.
Namun laporan yang sama menegaskan: tak ada korban jiwa — hanya banyak kenangan yang harus dijemur di bawah matahari besok pagi.
Warga Bertahan, Pemerintah Bergerak
Warga kini lebih siaga daripada panik.
Melalui GoBekasi.id, seorang warga Karangbaru berkata, “Air datang seperti biasa, tapi kali ini kami siap.”
Beberapa mengungsi ke masjid dan balai desa, sebagian lain memilih bertahan sambil menyalakan kompor kecil di dapur darurat.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Bekasi menurunkan pompa air dan menyiapkan tenda logistik di kawasan Serang Baru dan Karangbahagia.
Drainase yang Tersumbat dan Kesabaran yang Mengalir
Menurut laporan Liputan6.com, banjir ini bukan hanya soal curah hujan, tapi soal kota yang tumbuh lebih cepat dari salurannya.
Kawasan industri dan perumahan baru menggusur ruang resapan air, meninggalkan sistem tata air yang tersengal.
Bekasi berdiri di persimpangan: antara beton yang berkilau dan tanah yang merindukan daya serapnya sendiri.
Air kini menjadi saksi bisu, mengalir di antara kesalahan kecil yang dibangun dari rencana besar.
Keteguhan yang Tak Pernah Surut
Antara menulis, sebagian warga tetap menolak meninggalkan rumahnya.
Mereka menata perabot di atas meja, menjemur pakaian di atap, dan menatap arus yang pelan-pelan surut.
Bagi mereka, banjir bukan kutukan — hanya pengingat bahwa hidup tak selalu berjalan di dataran tinggi.
Keteguhan itu tumbuh seperti teratai di air keruh: tetap mekar, meski di tengah genangan.
Bekasi Belajar dari Air
Pemerintah daerah Kabupaten Bekasi berjanji mempercepat normalisasi Kali Cikarang Hilir dan memperbaiki saluran sekunder.
BMKG memperingatkan curah hujan masih tinggi hingga awal pekan depan, tapi warga diminta tetap waspada tanpa cemas.
Dari setiap pompa yang berdengung dan setiap ember yang diserahkan, tampak satu hal sederhana: Bekasi tidak menyerah.
Kota ini belajar menyalurkan harapan sebaik air menyalurkan arusnya.
Saat Air Menjadi Cermin
Air akhirnya surut, meninggalkan jejak lumpur dan pelajaran.
Bekasi mungkin kembali kering, tapi genangan itu menyisakan refleksi:
bahwa manusia bisa tenggelam oleh bencana, tapi selalu terapung oleh harapan.
Karena setiap banjir adalah ujian, dan setiap warga Bekasi adalah jawabannya.

