Batu, Darah, dan Bambu di Persimpangan Cengkareng: Potret Luka dari Negeri yang Mudah Tersulut

Oplus_131072

Jakarta Barat, 10 November 2025 —
Siang yang semula biasa berubah mencekam di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Sekitar pukul 12.30 WIB, dua kelompok massa—anggota Ormas BPPKB Banten dan kelompok debt collector atau mata elang (matel)—terlibat bentrokan sengit di persimpangan lampu merah Cengkareng, tepat di sebelah Mal Ciplaz Cengkareng.
Dalam hitungan menit, suasana jalan raya yang ramai mendadak berubah menjadi ajang saling serang dan saling lempar batu.


Ketegangan Tiba-Tiba Pecah di Tengah Jalan

Awalnya, situasi tampak normal. Namun, tak lama kemudian, puluhan orang datang beramai-ramai sambil membawa benda tumpul. Mereka berteriak, mendorong, lalu mulai melempar batu ke arah kelompok lain.
Sementara itu, kelompok mata elang bertahan di dalam kompleks ruko Cengkareng, mencoba menahan serangan dengan menutup rolling door berwarna hijau. Sayangnya, bagian bawah pintu itu rusak parah akibat lemparan batu dan benturan keras.

Batu-batu bertebaran di sepanjang jalan. Bambu, kayu, dan serpihan kaca berserakan di aspal, menjadi saksi betapa cepat ketegangan berubah menjadi kekerasan terbuka.
Lalu lintas berhenti total, dan warga berlarian menjauh untuk menyelamatkan diri.


Kesaksian Warga: “Ributnya Cepat Sekali, Tiba-Tiba Ada yang Berdarah”

Irma (38), warga sekitar yang menyaksikan peristiwa itu, masih terkejut ketika menceritakannya.

“Saya enggak tahu awalnya gimana, tapi katanya ada yang motornya diambil. Terus mungkin ngadu ke teman-temannya, tiba-tiba datang ramai-ramai,” ujarnya dengan nada gemetar.

Menurutnya, bentrokan berlangsung cepat dan brutal.

“Saya lihat sendiri ada orang dari ormas yang jatuh di tengah jalan, berdarah-darah. Enggak lama polisi datang, baru agak reda,” tambahnya.


Saksi Lain: Serangan Datang dari Luar

Senada dengan Irma, Rahmat (42), seorang pengemudi ojek yang biasa mangkal di sekitar lokasi, menyebut bahwa bentrokan dimulai dari arah luar kompleks.

“Katanya ormas datang ke arah kantor matel, langsung bentrok. Warga panik semua,” ucap Rahmat.

Ia menuturkan bahwa bentrokan itu berlangsung sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya aparat datang. Menurut Rahmat, setelah polisi tiba, kedua kelompok berangsur mundur, namun suasana tetap tegang hingga sore hari.


Viral di Media Sosial, Polisi Bergerak Cepat

Tak lama setelah kejadian, rekaman video bentrokan itu viral di berbagai platform media sosial. Dalam video berdurasi singkat, terlihat dua kelompok saling lempar batu di tengah jalan, sementara pengendara berusaha memutar balik untuk menghindari lokasi.
Menanggapi hal tersebut, Polres Metro Jakarta Barat langsung bergerak cepat. Petugas diterjunkan ke lokasi untuk mengamankan situasi dan mencegah bentrokan susulan.

Kepolisian kini tengah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan barang bukti.
Meski belum ada keterangan resmi soal korban jiwa, laporan awal menyebut beberapa orang mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan pukulan benda tumpul.


Jejak Luka di Tengah Kota

Kini, setelah massa bubar dan debu mulai turun, Cengkareng menyisakan luka di jalanannya.
Rolling door hijau yang penyok, batu berserakan di aspal, dan bercak darah yang belum sempat dibersihkan menjadi pengingat bahwa amarah tak pernah melahirkan solusi.

Di balik hiruk-pikuk kota, bentrokan ini seolah kembali mengajarkan satu hal:
selama amarah lebih cepat diangkat daripada kepala yang dingin, kedamaian hanya akan menjadi jeda—bukan keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *