Bau Limbah MBG Serbu Rumah Warga Bojong Menteng, Air Sumur Keruh & Warga Alami Gatal-Gatal

JinggaNews.com, Bekasi, 01 Nov 2026 – Warga RW 04, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, tengah menghadapi masalah serius terkait kualitas air sumur mereka.

Air yang biasanya jernih kini berbau menyengat dan keruh, bahkan menimbulkan gatal-gatal setelah mandi.

Dugaan sumber pencemaran berasal dari aktivitas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beroperasi di lingkungan dekat permukiman.

Air sumur kami berubah, bau menyengat muncul, dan anak-anak sampai gatal-gatal. Kami berharap pemerintah segera menindaklanjuti,” ujar Hasan Kanung, Ketua RW 04

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sosial, meski bertujuan baik, tetap harus selaras dengan lingkungan agar kesejahteraan masyarakat tidak terganggu.

Air, sebagai simbol kehidupan, menuntut perhatian dan perlindungan bersama.

DLH Kota Bekasi Segera Ambil Tindakan

Menanggapi laporan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi langsung melakukan pengambilan sampel air dari sumur, saluran limbah dapur MBG, dan tampungan biotank untuk dianalisis di laboratorium lingkungan. Kepala DLH, Kiswatiningsih menegaskan,

Pengambilan sampel ini penting untuk mengetahui kandungan pencemar dan menentukan langkah konkret untuk memulihkan kualitas air sumur warga.”

DLH memastikan tindakan ini dilakukan secara profesional, sehingga warga mendapatkan perlindungan dan pengawasan yang tepat.

Dapur MBG Tetap Berjalan, Pengelolaan Limbah Diperbaiki

Dapur MBG tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, sambil menyesuaikan pengelolaan limbah agar tidak menimbulkan dampak lebih luas.

DLH mencatat adanya tiga aktivitas berdekatan: dapur MBG, pengolahan kayu, dan besi, yang memerlukan pengawasan lebih ketat.

Sistem biotank diperbarui untuk menahan limbah cair sebelum masuk ke lingkungan permukiman.

Kami berharap perbaikan ini bisa meminimalkan dampak bagi warga,” ujar Zainab, warga setempat.

Kolaborasi dan Pengawasan Lingkungan

RW, kelurahan, warga, dan pengelola MBG kini bekerja sama untuk memperbaiki kondisi lingkungan.

Lurah Bojong Menteng, Wario, menegaskan,

Program sosial harus selaras dengan kualitas hidup warga. Kolaborasi dan pengawasan memastikan semua pihak mendapatkan manfaat tanpa merugikan lingkungan.”

Kasus ini menegaskan filosofi sederhana: pembangunan sosial dan lingkungan harus berjalan beriringan.

Kepedulian pemerintah dan warga terhadap lingkungan adalah fondasi kesejahteraan masyarakat.

Harapan Warga dan Pemerintah

DLH akan terus memantau kondisi sumur dan lingkungan sekitar.

Warga berharap agar kualitas air tetap terjaga, dan dampak kesehatan diminimalkan, dan program sosial seperti MBG tetap berjalan secara bertanggung jawab.

Kisah Bojong Menteng menjadi pelajaran bahwa keberlanjutan, tanggung jawab, dan perhatian aktif adalah kunci harmoni antara manusia, alam, dan kegiatan sosial.

Kita belajar bahwa pembangunan sosial yang baik harus sejalan dengan perlindungan lingkungan. Air bersih dan warga sehat adalah hak yang harus dijaga bersama,” kata Hasan Kanung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *