Dinasti Ambruk di Tangan KPK: Ayah–Anak Bupati Bekasi Terseret OTT, Kepercayaan Rakyat Runtuh Seketika

Jingga News, Bekasi, (20/12/2025) —  Dinasti Runtuh di Tanah Bekasi OTT KPK Menyeret Bupati Ade Kuswara Kunang dan Sang Ayah

Malam itu, kepercayaan rakyat runtuh tanpa suara. Harapan yang dulu dicoblos dengan keyakinan, kini digiring ke Gedung Merah Putih KPK. Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi di Kabupaten Bekasi tak hanya menciduk Bupati Ade Kuswara Kunang, tetapi juga menyeret ayahnya sendiri, H. Kunang. Sebuah ironi pahit di tanah yang lelah menunggu keadilan.

OTT yang berlangsung Kamis, 18 Desember 2025, menjadi pukulan telak bagi masyarakat Bekasi. Kekuasaan yang seharusnya melindungi, justru ditelanjangi oleh hukum. Sepuluh orang diamankan KPK. Dua nama paling mengguncang: penguasa daerah dan darah dagingnya sendiri.

Bukan Sekadar Penangkapan, Ini Pengkhianatan

Penangkapan Ade Kuswara Kunang bukan sekadar peristiwa hukum. Ini adalah pengkhianatan politik yang telanjang. Seorang kepala daerah, yang dipilih melalui proses demokrasi, kini berdiri di hadapan hukum dengan dugaan pemerasan dan suap proyek.

Lebih menyakitkan, kasus ini tak berdiri sendiri. Ayahnya, Haji Kunang—yang diketahui menjabat sebagai Kepala Desa Sukadami—ikut tercatat sebagai salah satu dari sepuluh orang yang dicokok KPK. Dinasti yang selama ini dibungkus citra religius dan kedekatan dengan rakyat, kini terseret ke pusaran gelap kekuasaan.

Bagi warga, ini bukan sekadar kabar. Ini tamparan keras. Pilihan yang dulu diyakini, kini berubah menjadi rasa malu kolektif.

KPK Membuka Tabir Gelap Kekuasaan Lokal

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan bahwa Ade Kuswara Kunang termasuk dalam pihak yang diamankan. Meski KPK belum merinci peran masing-masing, sumber internal menyebut dugaan kuat adanya praktik pemerasan yang melibatkan Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, serta aliran suap proyek.

Posisinya bisa sebagai pemberi, bisa juga sebagai penerima,” ujar sumber di KPK.

Kalimat itu sederhana, tapi mematikan. Ia menegaskan bahwa kekuasaan di Bekasi diduga telah berubah menjadi alat tawar-menawar, bukan alat pelayanan. Hukum tak lagi berdiri tegak—ia dinegosiasikan di balik meja.

Gedung Merah Putih dan Jalan Sunyi Kekuasaan

Usai ditangkap, Ade Kuswara Kunang langsung digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Namun, ia tidak masuk melalui pintu utama. Sebuah simbol sunyi: kekuasaan yang dulu dielu-elukan, kini menyelinap masuk sebagai pesakitan.

OTT disebut belum sepenuhnya selesai. KPK masih memburu pihak lain, termasuk Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi. Artinya, skandal ini bukan sekadar satu bab—melainkan rangkaian panjang dari cerita busuk yang baru mulai dibuka.

PDIP, Kekuasaan, dan Luka Moral Publik

Ade Kuswara Kunang bukan hanya Bupati. Ia juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi. Posisi politik ini menambah luka publik. Partai yang selama ini berbicara tentang wong cilik, kini kembali diuji oleh perilaku kadernya di daerah.

Bagi masyarakat, ini bukan soal partai semata. Ini soal moral kekuasaan. Soal bagaimana jabatan publik kerap diwariskan, dijaga, lalu diperdagangkan dalam lingkaran keluarga dan elite.

Rakyat hanya kebagian janji. Elite kebagian proyek.

Rakyat Menatap, Kecewa Tak Terucap
Di warung kopi, di pos ronda, di pabrik-pabrik yang berganti sif, warga Bekasi membicarakan satu hal yang sama: kecewa. Tak ada teriakan. Tak ada amarah yang meledak. Hanya diam panjang yang berat.

Mereka ingat baliho, ingat pidato, ingat janji perubahan. Kini semua itu terasa seperti puisi palsu—indah di awal, busuk di akhir.

Romansa Terakhir Bernama Harapan

Namun di tengah puing kepercayaan, rakyat masih menyimpan satu romantisme: harapan pada hukum. Bahwa KPK benar-benar berdiri tegak. Bahwa kebenaran tak bisa diwariskan seperti jabatan. Bahwa kekuasaan, setinggi apa pun, akan selalu punya ujung: pertanggungjawaban.

Malam itu, Bekasi tak hanya kehilangan bupatinya. Bekasi kehilangan ilusi. Tapi mungkin, dari runtuhnya ilusi itulah, kejujuran akan tumbuh kembali—pelan, pahit, dan jujur.

Sumber: RMOL.ID

Dasman Latif
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *