Gaya Kepemimpinan Jokowi Dinilai Jadi Pemicu Kekacauan Proyek Kereta Cepat Whoosh

Jingga News, Jakarta, 04 November 2025 — Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) kembali menjadi sorotan publik.

Bukan hanya karena kemegahannya sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia, tetapi juga karena dinamika di balik layar yang menguji keseimbangan antara kecepatan eksekusi dan ketepatan perencanaan.

Anggota Dewan Pakar Gerakan Rakyat, Nandang Sutisna, menilai, semangat percepatan yang diusung Presiden Joko Widodo memiliki sisi positif, namun perlu dikawal dengan tata kelola yang lebih matang agar hasilnya optimal dan berkelanjutan.

Kecepatan Jadi Ciri, tapi Perencanaan Tak Boleh Tertinggal

Menurut Nandang, gaya kepemimpinan Jokowi yang menekankan prinsip “gerak cepat” terbukti mampu mempercepat pembangunan nasional.

Namun, pada proyek besar seperti Whoosh, kecepatan perlu berjalan seiring dengan perencanaan teknis dan finansial yang kuat.

Proyek sebesar ini semestinya dijalankan dengan kajian menyeluruh dan tata kelola yang solid. Pendekatan cepat tetap penting, tapi harus diimbangi dengan kehati-hatian,” ujar Nandang dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11/2025).

Ia menilai, dorongan Jokowi untuk menyelesaikan proyek-proyek strategis sebelum akhir masa jabatan menunjukkan komitmen kuat terhadap pembangunan, namun juga menghadirkan tantangan dalam menjaga kualitas pelaksanaan.

Transformasi Skema Proyek: Dari B to B ke B to B Plus

Salah satu aspek yang menjadi perhatian Nandang adalah perubahan skema bisnis proyek Whoosh.

Awalnya dirancang sebagai kerja sama antar-perusahaan (business to business / B to B) antara konsorsium BUMN Indonesia dan mitra dari Tiongkok, proyek ini kemudian bertransformasi menjadi skema B to B plus.

Desain awalnya murni B to B, tanpa keterlibatan APBN. Namun ketika menghadapi kendala, pemerintah turun tangan untuk memastikan proyek tetap berjalan,” jelasnya.

Langkah ini, lanjut Nandang, memperlihatkan kepedulian pemerintah dalam menyelamatkan investasi dan menjaga kelangsungan proyek strategis nasional.

Meski demikian, ia menilai, perubahan tersebut juga menjadi pelajaran penting agar ke depan setiap proyek besar memiliki desain bisnis yang lebih matang sejak awal.

Tantangan di Lapangan dan Nilai Pembelajaran

Proyek Whoosh menghadapi beragam kendala teknis di lapangan—mulai dari pembebasan lahan hingga revisi desain—yang menyebabkan keterlambatan hingga empat tahun dan kenaikan biaya dari 6,05 miliar dolar AS menjadi sekitar 7,2 miliar dolar AS.

Kondisi ini hendaknya dijadikan pembelajaran berharga. Setiap hambatan memberi ruang untuk perbaikan tata kelola dan perencanaan pembangunan ke depan,” kata Nandang.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian agar setiap keputusan strategis didukung kajian teknokratik yang kuat, sehingga kecepatan tidak lagi berseberangan dengan kehati-hatian.

Harapan untuk Pemerintahan Baru

Menatap pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto, Nandang berharap semangat percepatan pembangunan tetap dilanjutkan, namun dengan sistem pengawasan dan evaluasi yang lebih ketat.

Presiden Prabowo perlu menjadikan pengalaman masa lalu sebagai bahan pembenahan. BUMN harus fokus pada efisiensi dan pelayanan publik agar benar-benar menjadi motor ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan refleksi:

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan pada banyaknya proyek yang berdiri, melainkan pada sistem yang mampu berjalan dengan baik meski kepemimpinan berganti.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *