Hopeng di Tengah Kekuasaan: Prabowo Tegaskan Persahabatan dengan Jokowi
Jingga News, Bekasi, (07/11/2025) — Di tengah gemuruh pabrik Cilegon, Prabowo menegaskan persahabatan dengan Jokowi — tanpa takut, penuh hormat atas capaian kepemimpinan beliau.
Ia junjung yang baik, menyimpan yang kurang, membangun sinergi politik yang menebar inspirasi bagi bangsa besar.
Hubungan mereka, dari rivalitas menjadi hormat, jadi cermin kepemimpinan yang menuntun langkah Indonesia ke masa depan.
Persahabatan di Balik Panggung Politik
Di bawah langit industri Cilegon yang berdenyut oleh mesin dan mimpi ekonomi, Presiden Prabowo Subianto berdiri tegap.
“Untuk apa saya takut sama Jokowi? Aku hopeng sama beliau kok takut?” katanya, menukik ke dalam makna persahabatan yang tak tergoyahkan oleh hiruk-pikuk politik.
Kata hopeng, sebuah istilah Hokkien untuk persahabatan, terucap ringan, menegaskan bahwa hubungan dua tokoh besar ini bukan soal bayang-bayang kekuasaan, melainkan tentang saling menghormati di tengah arus politik yang keras.
Tidak Takut, Tidak Dikendalikan
Prabowo menepis segala anggapan bahwa dirinya berada di bawah kendali Jokowi.
“Saya bukan Prabowo yang takut sama Jokowi. Prabowo masih dikendalikan sama Jokowi, enggak ada itu,” ujarnya tegas.
Kata-katanya seperti gelombang yang menenangkan, sekali Gus menegaskan kemandirian seorang pemimpin yang tetap menghormati seniornya.
Mengundang, Tapi Tak Dapat Hadir
Dalam peresmian New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia, Prabowo sempat mengusulkan agar Jokowi hadir. Namun, sang mantan presiden berhalangan.
“Beliau minta maaf, belum bisa datang. Saya sampaikan, kami maklumi,” kata Prabowo dengan nada lapang.
Di sini terlihat filosofi kepemimpinan: menghargai yang hadir, memaklumi yang absen, tanpa mengurangi rasa hormat.
Mengangkat yang Baik, Menyimpan yang Kurang
Dalam pidatonya, Prabowo menyanjung capaian Jokowi selama satu dekade memimpin Indonesia: inflasi terjaga, ekonomi tumbuh, stabilitas nasional terjaga.
“Ngono yo ngono,” ucapnya, disambut tawa ringan hadirin.
Filosofi Jawa mikul dhuwur mendhem jero hadir di setiap kata—menjunjung yang baik, memendam yang kurang, memetik hikmah dari perjalanan yang panjang.
Persahabatan yang Tak Lekang
Hubungan Prabowo dan Jokowi bukan sekadar cerita politik; ia adalah cermin perjalanan Indonesia sendiri. Dari rivalitas menjadi sinergi, dari kompetisi menjadi hormat.
“Ada yang mau misah-misahkan saya sama Pak Jokowi. Lucu juga, tapi janganlah. Itu cara lama, cara pecah belah,” kata Prabowo, mengingatkan bahwa politik yang sehat lahir dari persatuan, bukan perpecahan.
Antara Kekuasaan dan Kebersahabatan
Kini, di panggung kepresidenan dan di penghujung dekade Jokowi, relasi mereka menunjukkan satu kebenaran sederhana: bangsa besar dibangun bukan dengan caci-maki, tapi dengan rasa hormat.
Di tengah gemuruh mesin pabrik Cilegon, pesan itu bergema lirih tapi tegas:
“Mari kita junjung yang baik, dan perbaiki yang kurang — karena bangsa besar bukan dibangun dengan caci, tapi dengan rasa hormat.”
Di antara gema mesin dan riuhnya dunia politik, persahabatan Prabowo dan Jokowi bersemi seperti cahaya senja yang hangat—tenang, abadi, dan meneduhkan.
Dalam setiap langkah, ada hormat yang tulus, ada kebaikan yang dijunjung, dan ada janji tak tertulis bahwa bangsa ini akan terus diperbaiki, bukan dengan caci maki, tapi dengan hati yang mengakui, menghormati, dan merayakan setiap prestasi yang lahir dari kerja keras bersama.

