Hujan 10 Menit, Jalan Ki Hajar Dewantara Tergenang

KARANG BAHAGIA, BEKASI — Hujan singkat 10 menit kembali memicu banjir Bekasi di Jalan Ki Hajar Dewantara, Karang Bahagia. Genangan Jalan Ki Hajar Dewantara muncul akibat dugaan drainase Karang Bahagia yang tidak berfungsi, sehingga warga mendesak perbaikan drainase Bekasi sebelum puncak musim penghujan. Kondisi ini menegaskan rawannya kawasan terhadap hujan singkat Bekasi yang langsung menimbulkan gangguan lalu lintas.

Hujan singkat sekitar 10 menit pada Senin (8/12/2025) sudah cukup membuat Jalan Ki Hajar Dewantara di kawasan Suka Raya, Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, tergenang air. Genangan menutup hampir seluruh badan jalan dan memperlambat arus kendaraan yang melintas. Kondisi ini menimbulkan keresahan warga karena dianggap mencerminkan buruknya sistem drainase di wilayah tersebut.

Air mulai memenuhi jalan hanya beberapa menit setelah hujan turun. Para pengendara, khususnya pengguna sepeda motor, terpaksa mengurangi kecepatan karena khawatir mesin kendaraan mogok. Di sejumlah titik, ketinggian air bahkan mencapai bagian bawah mesin motor sehingga membuat pengendara harus ekstra hati-hati. Beberapa kendaraan roda dua terlihat berhenti sejenak di tepi jalan untuk memastikan mesin tetap menyala.

Warga menyebut peristiwa ini bukan kali pertama terjadi. Hampir setiap kali hujan turun, meski dengan durasi singkat, jalan tersebut kerap berubah menjadi kubangan. Mereka menduga saluran drainase di sisi kiri dan kanan jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Baru hujan sebentar sudah langsung penuh air. Drainase seperti tidak bekerja,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang di sekitar lokasi. Menurut mereka, genangan air membuat pembeli enggan singgah karena akses jalan sulit dilalui. “Kalau sudah begini, orang malas berhenti. Jalan becek, motor susah parkir,” kata Siti, pedagang makanan di kawasan Suka Raya.

Masyarakat mendesak pemerintah daerah bersama dinas terkait segera melakukan pengecekan dan perbaikan sistem drainase. Kondisi ini dinilai membahayakan pengendara serta mengganggu aktivitas warga, terutama pada jam sibuk ketika arus kendaraan meningkat. Selain itu, genangan air berpotensi merusak lapisan aspal jalan jika dibiarkan berulang kali.

Tokoh masyarakat Karang Bahagia, Ahmad Junaedi, menilai persoalan drainase harus menjadi prioritas. “Ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi keselamatan. Kalau motor mogok di tengah genangan, bisa menimbulkan kecelakaan beruntun,” ujarnya. Ia berharap pemerintah segera menurunkan tim teknis untuk melakukan survei lapangan dan memastikan saluran air berfungsi normal.

Kondisi serupa pernah terjadi di beberapa ruas jalan lain di Kabupaten Bekasi. Minimnya perawatan saluran air dan pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang disebut-sebut sebagai penyebab utama. Warga khawatir jika masalah ini tidak segera ditangani, genangan akan semakin parah saat intensitas hujan meningkat memasuki puncak musim penghujan.

Sejumlah pengendara juga mengeluhkan kurangnya rambu peringatan di lokasi. “Tidak ada tanda kalau jalan rawan banjir. Tiba-tiba saja air sudah tinggi. Harusnya ada peringatan agar pengendara lebih waspada,” kata Dedi, seorang pengemudi ojek online.

Masyarakat berharap pembenahan dilakukan secepatnya. Mereka menilai perbaikan drainase tidak hanya akan mengurangi genangan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga sekitar. “Kalau jalan bebas banjir, aktivitas lancar, ekonomi juga ikut bergerak,” tambah Siti.

Dengan intensitas hujan yang diperkirakan meningkat dalam beberapa minggu ke depan, warga Karang Bahagia menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah. Mereka berharap Jalan Ki Hajar Dewantara tidak lagi menjadi langganan genangan setiap kali hujan turun, meski hanya sebentar.

Di balik genangan yang menutup Jalan Ki Hajar Dewantara, tersisa harapan sederhana warga Karang Bahagia: melihat air kembali mengalir ke tempatnya, bukan menahan langkah di jalan. Seperti hujan yang turun lalu reda, mereka percaya setiap masalah bisa menemukan jalan keluar. Dan ketika drainase akhirnya diperbaiki, semoga jalan ini bukan lagi kubangan, melainkan ruang yang mengalirkan cerita baru tentang Bekasi yang lebih tertata dan penuh harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *