Jembatan Cipamingkis — Di Antara Deras Air dan Harapan yang Tak Pernah Surut

Urat Nadi yang Tak Pernah Tidur

Cibarusah, Jingga News, 26 Oktober 2025 — Di antara lengkung bukit dan gemuruh arus Sungai Cipamingkis, berdirilah sebuah jembatan yang telah menua dalam pengabdian: Jembatan Loji, begitu warga menyapanya.

Ia bukan sekadar hamparan beton dan besi; ia adalah denyut yang menghubungkan Cibarusah dengan Sirnajati, Bekasi dengan Karawang, dan Karawang dengan Cianjur.

Setiap pagi, langkah kaki dan deru mesin melintasinya, membawa hasil bumi, harapan, dan cerita hidup dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Seolah di tiap paku dan bautnya tersimpan nadi tiga wilayah yang menolak berhenti berdenyut.

Namun, seperti kisah tua yang berulang, jembatan ini kembali merintih.

Perbaikan terakhir yang menelan anggaran miliaran rupiah ternyata hanya mampu bertahan seumur satu musim hujan—sekitar enam bulan saja.

Setelah itu, ia kembali rapuh, seperti tubuh renta yang menanggung beban terlalu berat.

Ketika Alam Bicara Lebih Keras dari Beton

Menurut Bapak Rahmat, pengatur lalu lintas yang saban hari menjaga aliran kendaraan di sekitar jembatan, kerusakan ini bukan semata salah manusia, melainkan bisikan alam yang keras kepala.

Arus Sungai Cipamingkis itu deras, Mas. Kalau debit air naik, tebingnya yang berpasir dan berbatu langsung tergerus,” ujarnya pada Minggu pagi (26/10/2025).

Rahmat berbicara dengan nada yang tahu benar medan itu: bagaimana air bisa menggigit perlahan dasar tanah, lalu menelan tumpuan jembatan tanpa ampun.

Ia menyarankan agar dinding sungai diperkuat dan bendung dibangun di hilir, untuk menahan deras arus yang selalu membawa pesan: bahwa alam tak bisa ditaklukkan, hanya bisa dihormati.

Rp29,4 Miliar untuk Sebuah Janji

Pemerintah Kabupaten Bekasi sejatinya telah berupaya.

Tahun anggaran 2024 mencatatkan proyek rehabilitasi Jembatan Cipamingkis senilai Rp29,4 miliar dari kantong APBD Kabupaten Bekasi.

Pekerjaan dimulai Mei 2024 dan selesai Desember 2024. Namun, tujuh bulan kemudian, Juli 2025, timbunan jalan penyekat jembatan dilaporkan ambrol.

Pihak Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK) Kabupaten Bekasi menyebut proyek itu masih dalam masa pemeliharaan.

Artinya, tanggung jawab atas luka di tubuh jembatan belum berakhir.

Tapi publik bertanya: mengapa jembatan yang seharusnya menjadi simbol ketahanan, justru kembali retak sebelum waktunya?

Sebagian masyarakat bahkan mulai mendesak agar penegak hukum menelusuri kemungkinan adanya kejanggalan dalam pelaksanaan proyek tersebut.

Dugaan korupsi berembus, seperti angin yang berputar di tebing sungai—tidak terlihat, tapi terasa.

Sebuah Renungan di Ujung Gelagar

Jembatan Cipamingkis bukan hanya urusan beton dan baja. Ia adalah kisah manusia tentang kerja, tanggung jawab, dan waktu.

Ia menantang setiap pemangku kuasa agar tidak sekadar membangun, tapi juga menjaga.

Sebab, yang dibutuhkan masyarakat bukan peresmian dengan pita merah, melainkan jaminan bahwa roda kehidupan mereka tak akan terhenti karena ambruknya satu ruas jalan.

Masyarakat di Cibarusah dan sekitarnya kini menunggu dengan sabar—dan sedikit getir.

Mereka ingin jembatan itu kembali berfungsi, agar pedagang bisa menyeberang tanpa cemas, agar anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa harus memutar jauh, agar truk hasil panen tak harus berhenti di tengah jalan.

Di Antara Sungai dan Semangat

Di bawah jembatan itu, air Cipamingkis terus mengalir, membawa batu, pasir, dan waktu.

Ia seperti menertawakan manusia yang sibuk memperbaiki tapi sering lupa memperhatikan akar masalahnya.

Namun, harapan tetap hidup. Sebab bagi warga Bekasi, Karawang, dan Cianjur, jembatan ini bukan sekadar benda mati—ia adalah saksi hidup tentang keteguhan mereka.

Bahwa sekeras apa pun arus kehidupan, manusia selalu bisa membangun kembali apa yang pernah runtuh, selama masih ada niat untuk memperbaiki, bukan sekadar mengganti.

Jembatan Cipamingkis berdiri di atas sungai yang tak pernah diam. Dan seperti air yang terus mencari jalan pulang ke laut, begitulah semestinya pembangunan: mengalir jujur, menembus batu, menuju kebaikan bersama.

Muzfikri Ujank
Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *