Kaca Mobil Pecah di Depan Balai Desa Sindang Mulya, Tokoh Cibarusah Jadi Korban

Jingga News, Cibarusah, (18/12/2925) —Di Cibarusah, Bekasi, kaca mobil tokoh masyarakat Munawar Fuad dipecahkan pelaku kejahatan jalanan di depan Balai Desa Sindang Mulya. Barang berharga seperti laptop, dompet, dan arsip pribadi raib, mengingatkan warga akan rapuhnya keamanan publik.

Senja yang seharusnya tenang berubah menjadi getir. Di depan Kantor Desa Sindang Mulya, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, sebuah aksi kriminal terjadi begitu dekat dengan pusat pelayanan publik. Kamis, 18 Desember 2025, sekitar pukul 18.11 WIB, kaca mobil milik Munawar Fuad, salah satu tokoh masyarakat Cibarusah, dipecahkan oleh pelaku tak bertanggung jawab.

Peristiwa itu terjadi saat Munawar Fuad memarkirkan kendaraannya di depan Bale Desa Sindang Mulya. Ia hanya berniat singgah sebentar membeli sate, sepulangnya dari ziarah ke makam orang tuanya, almarhum Raden Enoh Inayatillah, di kawasan Babakan. Namun ketika kembali, kaca mobil telah hancur, dan sejumlah barang berharga raib.

Barang-barang yang diambil pelaku di antaranya tas berisi laptop, dompet, flashdisk, uang tunai, serta arsip penting yang memiliki nilai pribadi dan administrasi tinggi. Kejahatan itu bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga melukai rasa aman warga.

Munawar Fuad langsung menghubungi Polsek Cibarusah. Respons aparat terbilang cepat. Tak lama berselang, petugas kepolisian tiba di lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan awal.

Pihak Polsek Cibarusah membenarkan adanya laporan tindak pencurian dengan perusakan tersebut dan menyatakan kasus kini dalam penanganan kepolisian.

Di tengah rasa kecewa dan kehilangan, Munawar Fuad memilih jalan yang tak biasa. Ia berharap pelaku beritikad baik untuk mengembalikan seluruh barang yang diambil. Bahkan, ia menyatakan siap mengganti sejumlah uang senilai barang tersebut, serta berjanji tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum dan merahasiakan identitas pelaku.

Ia juga telah memberikan nomor telepon pribadi, sebagai bentuk harapan terakhir agar nurani pelaku tergerak untuk mengembalikan barang-barang itu.

Peristiwa ini menjadi ironi pahit: kejahatan terjadi di ruang yang seharusnya paling aman—di depan kantor desa. Sebuah pengingat keras bahwa rasa aman di ruang publik masih rapuh, dan kejahatan bisa menyergap siapa saja, bahkan mereka yang baru saja pulang dari ziarah, membawa doa dan kenangan.

Meski kehilangan menyayat hati, Munawar Fuad tetap menatap malam dengan harapan. Di balik kaca yang pecah, tersimpan kepercayaan bahwa kebaikan manusia bisa menang, dan barang yang hilang bisa kembali, seiring doa yang tak pernah padam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *