Kisah Jingga dari Cibarusah: Tentang Cinta yang Tak Pernah Pensiun

Senja yang Masih Menyala

Di Kampung Loji, Cibarusah Kota, Bekasi, dua jiwa sepuh terus menyalakan harapan.

Mereka—Ibu Zaenab dan Bapak Ujang Zubaedi—telah melewati tujuh dekade usia, namun semangatnya tetap seterang pagi.

Seratus meter dari kantor kecamatan, dekat Polsek, mereka menambatkan hidup sederhana.

Enam anak pernah mereka besarkan dengan kasih tanpa pamrih.

Kini rumah kecil mereka dihuni empat jiwa: suami, istri, anak bungsu, dan seorang cucu.

Sang bungsu bekerja sebagai buruh harian, sedang cucu lelaki mereka, bocah kelas lima SD, menjadi alasan untuk tetap tegar.

Cucu itu yatim piatu sejak kecil, namun tak pernah kekurangan pelukan dan doa.

Gerobak Tua, Semangat Baru

Setiap pagi, Ibu Zaenab dan Bapak Ujang berangkat membawa gerobak berderit, bukan menuju masa lalu, tapi masa depan.

Mereka memungut botol dan plastik bekas, lalu menatanya penuh telaten.

Dua hingga tiga kilometer mereka tempuh, beriring doa dan debu jalanan.

Barang rongsokan mereka jual pada pengepul, menukar lelah dengan secuil harapan.

Nilainya tak menentu, namun cukup untuk membeli beras dan bekal sekolah sang cucu.

Tak ada kata menyerah di kamus mereka, hanya “besok” yang selalu dihidupi dengan sabar.

Mereka juga menjaga dan membersihkan pemakaman umum—menyapu sunyi menjadi ladang pahala.

Setiap upah, sekecil apa pun, adalah bunga dari ketulusan.

Doa di Balik Peluh

Meski renta, keduanya tetap memilih mandiri. Mereka tak ingin merepotkan anak-anak yang juga sedang bertahan di badai ekonomi.

Kami hanya ingin cucu kami bisa sekolah sampai berhasil,” ucap Bapak Ujang dengan mata yang menyimpan ribuan kisah.

Dalam senja hidupnya, mereka menanam keyakinan bahwa kerja keras adalah bentuk cinta tertinggi.

Cinta yang tidak menuntut balasan, hanya mengharap keberhasilan generasi penerusnya.

Dari mereka kita belajar, bahwa tangan yang keriput masih bisa menggenggam masa depan.

Bahwa cinta tak mengenal usia, dan pengorbanan tak menunggu kaya.

Semoga ada hati-hati baik yang tergerak, menyulam kembali kesejahteraan untuk mereka.

Karena setiap lansia berhak menikmati masa tua yang damai, penuh rasa cukup, penuh kasih.

Di Cibarusah, senja bukan tanda berakhir. Ia adalah warna jingga—hangat, tabah, dan tetap bersinar.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Avatar of jhom
    jhom

    viralkan

    Balas
Sudah ditampilkan semua