Ketika Amerika Lapar: Krisis SNAP dan Luka Kemanusiaan di Negeri Pangan

Jingga News — 01 Nov 2025 Di negeri yang dulu dijuluki lumbung pangan dunia, antrean panjang kini merayap di depan dapur umum.

Bukan karena perang, bukan pula karena bencana alam — melainkan karena kebuntuan politik yang membuat 41 juta warga Amerika Serikat terancam kehilangan bantuan pangan mereka.

Program Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP), yang selama ini menjadi nadi bagi keluarga miskin, anak-anak, dan lansia, nyaris berhenti berdenyut akibat shutdown pemerintahan federal yang tak kunjung berakhir.

Mulai awal November, jutaan penerima bantuan belum tahu apakah saldo kartu pangan mereka akan terisi.

People can die from even short gaps in nutrition and food access,” Lindsay Allen, ekonom kesehatan dari Northwestern University (Stat News, 27 Oktober 2025)

Allen tak berlebihan. Banyak penerima SNAP hidup dari minggu ke minggu, mengandalkan bantuan itu untuk membeli roti, susu, dan obat bagi keluarga.

Ketika dana tersendat, hidup mereka pun ikut membeku.

Mereka yang Paling Rentan

Profesor Colleen Heflin dari Syracuse University menyebut, keluarga berpendapatan rendah kini dipaksa memilih: makan malam atau obat? listrik atau sarapan anak?

Ia menilai krisis ini menelanjangi nurani bangsa: “Kita telah kehilangan arah tentang siapa sebenarnya yang perlu dilindungi.”

Di New York, Gubernur Kathy Hochul menetapkan keadaan darurat pangan, mengalihkan dana negara untuk menopang bank makanan yang kehabisan stok.

Di lapangan, relawan bekerja siang-malam, menyiapkan paket makanan darurat bagi lansia dan tunawisma.

Reuters mencatat, hilangnya pendanaan SNAP setara dengan potensi kerugian ritel hingga 8 miliar dolar AS per bulan,

namun angka itu tak seberapa dibanding nilai air mata para ibu yang kini menghitung sisa biskuit di dapur mereka.

Ironi Negeri Kaya

The Guardian menyebut peristiwa ini “the greatest hunger catastrophe since the Great Depression.”

Sebuah ironi pahit bagi negara yang mengekspor gandum ke dunia namun gagal memastikan rakyatnya sendiri tak lapar.

Dari sudut pandang global, pengamat menilai krisis pangan AS bisa mengguncang pasar dunia.

Harga jagung, gandum, dan kedelai berpotensi naik jika ketidakpastian berlanjut.

Namun yang lebih menakutkan bukanlah inflasi, melainkan degradasi moral — ketika politik memutus jalur hidup bagi yang paling miskin.

Krisis Nilai, Bukan Sekadar Anggaran

Chris Edwards dari Cato Institute menyebut krisis ini “cermin dari sistem yang rapuh,” dan menyerukan reformasi agar bantuan pangan tidak tergantung pada satu keputusan di Washington.

Ketika satu pena politik bisa menghentikan makan malam jutaan orang, berarti yang gagal bukan hanya kebijakan — tapi hati nurani bangsa,” tulisnya.

Manusia, Bukan Angka

Lebih dari sekadar data ekonomi, krisis SNAP adalah kisah manusia.

Tentang anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan.

Tentang lansia yang menatap kosong rak dapur.

Tentang para relawan yang menolak untuk menyerah, menambal celah kemanusiaan di antara retakan politik.

Mungkin inilah saatnya dunia belajar kembali:

pangan bukan komoditas, melainkan janji. Dan setiap janji yang diingkari—setiap perut yang dibiarkan kosong—adalah kegagalan kita bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *