Masjid Al-Mujahidin Cibarusah: Saksi Sejarah Perjuangan dan Peradaban Islam di Tanah Bekasi
Jingga News — Cibarusah, Bekasi | Jumat, 31 Oktober 2025 – Sebagai masjid tertua di Bekasi, Masjid Al-Mujahidin Cibarusah merekam sejarah Laskar Hizbullah serta meneguhkan peradaban dan peninggalan Islam di Bekasi.
Asal Usul Masjid Al-Mujahidin Cibarusah yang Penuh Sejarah
Di jantung Cibarusah, Kabupaten Bekasi, berdiri Masjid Al-Mujahidin, rumah ibadah yang menyimpan lebih dari sekadar kisah doa.
Ia adalah salah satu saksi sejarah, penandatanganan zaman, dan simbol peradaban Islam di tanah Bekasi.
Masjid ini beralamat di Jalan KH. Ma’mun Nawawi, Kampung Babakan, Desa Cibarusah Kota, Kecamatan Cibarusah, berdiri tenang namun gagah, seolah menjaga kenangan para mujahid yang pernah menapaki tanah ini.
Berdasarkan penelusuran tim jingganews.com, di dinding masjid terdapat ukiran bertuliskan:
“HERBOUWD 1935/1937 COMITE MASDJID”,
yang menandakan adanya renovasi besar pada era kolonial.
Namun, sejarahnya jauh lebih tua. Di sekitar masjid ditemukan nisan bertahun 1916, menandakan bahwa tempat suci ini telah berdiri sebelum masa itu.
Warga meyakini masjid ini dibangun sekitar awal tahun 1900-an, bahkan mungkin lebih awal — sebuah jejak peradaban yang menembus satu abad.
Dari cerita masyarakat, pembangunan masjid ini digagas oleh Penguasa Senapati, kerabat Penguasa Jayakarta Wijayakrama, yang melarikan diri dari serangan Belanda pada tahun 1916 dan kemudian menetap di wilayah ini.
Nama Cibarusah sendiri berasal dari bahasa Sunda: “Cai Baru Sah”, yang berarti “air ini sudah sah.”
Sebuah ungkapan yang lahir dari peristiwa spiritual: saat rombongan Penguasa Senapati menemukan sumber air pertama untuk berwudu — tanda kesucian, tanda keberkahan.
Arsitektur Masjid Al-Mujahidin yang Memadukan Islam dan Kolonial Belanda
Masjid Al-Mujahidin masih mempertahankan arsitektur kolonial Belanda yang menjadi ciri khasnya hingga kini.
Pintu dan jendela kayu besar bergaya Eropa klasik berpadu dengan nuansa tropis Nusantara.
Di dalamnya, enam tiang kayu utama berdiri kokoh — penopang yang telah menyaksikan ratusan khutbah dan ribuan sujud.
Salah satu tiang bahkan masih memuat tulisan “HERBOUWD”, tanda bahwa tangan-tangan umat pernah bergotong-royong membangunnya kembali.
Dekat mimbar khotbah, tersimpan tongkat kayu berujung besi, peninggalan masa lalu yang dulu digunakan para khatib untuk menegakkan khutbah dan semangat dakwah.
Peran Masjid Al-Mujahidin dalam Perjuangan Laskar Hizbullah di Bekasi
Pada masa pendudukan Jepang (1944–1945), masjid ini bukan hanya tempat ibadah.
Ia menjadi markas pelatihan Laskar Hizbullah, pasukan pemuda Islam yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia.
Sekitar 500 ulama dan pemuda muslim dari berbagai daerah Nusantara pernah ditempa di Cibarusah — dilatih langsung oleh KH. Wahid Hasyim, putra pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari.
Dari tanah sunyi inilah lahir semangat jihad kebangsaan yang menjalar ke seluruh penjuru negeri, hingga Laskar Hizbullah tumbuh menjadi 50.000 pejuang di berbagai daerah.
Cibarusah dipilih karena saat itu masih berupa hutan lebat, jauh dari pantauan militer Belanda maupun Sekutu.
Masjid Al-Mujahidin menjadi saksi bisu ketika sujud dan perjuangan berpadu dalam satu nafas: kemerdekaan.
Masjid Al-Mujahidin Kini: Warisan Islam dan Kebangsaan di Bekasi
Kini, meski telah beberapa kali direnovasi, keaslian interior dan enam tiang penyangga utama masih dijaga sepenuh hati oleh warga setempat.
Masjid ini bukan sekadar bangunan — ia adalah penanda sejarah, pembawa cahaya Islam, dan pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari iman dan ilmu.
Di setiap adzan yang berkumandang, seolah gema masa lalu ikut menjawab:
bahwa perjuangan tak pernah benar-benar berakhir, ia hanya berganti bentuk — dari bambu runcing menjadi pena, dari medan perang menjadi ruang pendidikan dan dakwah.


