Menelisik Makam Mbah Buyut Sena: Jejak Penyebar Islam di Cibarusah, Bekasi
Bekasi, Jingga News, 29 Oktober 2025 — Kabut pagi menyelimuti Cibarusah ketika langkah kami menapaki jalan tanah menuju Makam Raden Senapati Natakusuma — sosok yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Buyut Sena, penyebar agama Islam dan tokoh pejuang di tanah selatan Bekasi.
Makam itu terletak di Kampung Babakan, Desa Cibarusah Kota, Kecamatan Cibarusah, wilayah yang bersentuhan langsung dengan perbatasan Kabupaten Bogor.
Di area itu berdiri Masjid Baitul Hamdi, masjid tua yang menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di kawasan ini.
Uniknya, tempat wudhunya berbentuk menyerupai perahu — simbol spiritual sekaligus kisah historis yang tersisa di antara arsitektur dan doa.
Sang Penyebar Islam dari Hutan Cibarusah
Menurut Ujang Khoirudin, tokoh muda sekaligus budayawan dari LSM Tri Nusa Kabupaten Bekasi, Mbah Buyut Sena atau Raden Senapati Natakusuma bin Raden Zaen Natadimanggala (Syekh Senan) merupakan sosok yang membuka wilayah Cibarusah dari hutan belantara menjadi perkampungan beriman.
“Mbah Buyut Sena itu bukan hanya penyebar agama Islam, tapi juga pejuang. Dulu, wilayah ini masih rimba. Setelah kedatangan beliau, Cibarusah menjadi pemukiman dan pusat syiar Islam,” ujar Ujang kepada Jingga News, mengenang sejarah yang diwariskan dari mulut ke mulut masyarakat setempat.
Secara silsilah, Mbah Buyut Sena diyakini masih terhubung dengan keturunan Mbah Ratu Galuh Pakuan Bogor — garis darah bangsawan yang banyak menurunkan penyebar Islam di tanah Pasundan.
“Kalau dilihat dari silsilah, hampir semua keturunan Mbah Ratu Galuh jadi tokoh penyebar Islam. Ada Syekh Abdul Karim di Tanara, Pangeran Natadimanggala di Cianjur, dan Pangeran Sawidak Reana di Garut. Saya yakin, Mbah Buyut Sena masih ada kaitannya dengan Prabu Siliwangi,” tambahnya.
Masjid Baitul Hamdi dan “Perahu Dakwah”
Salah satu daya tarik di area makam adalah bangunan tempat wudhu berbentuk perahu, peninggalan unik yang mengundang rasa ingin tahu setiap pengunjung.
Ujang menjelaskan, perahu itu bukan sekadar simbol, tapi juga penghormatan.
“Bangunan berbentuk perahu ini bantuan dari TNI AL sekitar tahun 1996. Konon, semasa hidupnya Mbah Buyut Sena dikenal ahli dalam peperangan di laut melawan penjajah. Jadi, bentuk perahu itu punya makna sejarah,” ujarnya.
Di sela gemericik air wudhu dan bisik doa para peziarah, terasa ada napas panjang peradaban Islam yang pernah berhembus dari tempat ini — tenang tapi kokoh.
Harapan agar Tak Hilang Ditelan Waktu
Ujang berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, lebih memberi perhatian terhadap situs-situs bersejarah seperti makam Mbah Buyut Sena.
“Kami hanya berharap agar pemerintah peduli. Kalau bisa, tempat-tempat bersejarah seperti ini dijaga dan dirawat. Karena di sinilah akar spiritual dan budaya Bekasi berasal,” harapnya.
Bekasi hari ini tumbuh menjadi kota industri, tapi di balik deru mesin dan beton, masih ada makam tua yang menjaga identitas — mengingatkan bahwa setiap kemajuan tanpa sejarah hanyalah langkah tanpa akar.
Di bawah langit Cibarusah yang mendung, makam Mbah Buyut Sena berdiri dalam diam.
Ia bukan sekadar situs ziarah, melainkan penanda tentang bagaimana Islam tumbuh di tanah pejuang, dibawa oleh ketulusan dan keberanian.
Dalam kesunyian itu, kita belajar: bahwa warisan sejati bukan hanya batu dan bangunan — melainkan nilai dan cahaya yang tak padam di hati umatnya.

