Banjir Bandang Kalikeruh Lumpuhkan Akses Desa Adisana Brebes Selama Lima Hari
Jingga News.com, (12/11/2025) — Sudah lima hari lamanya warga Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, hidup dalam kepungan air.
Sejak Sabtu (8/11/2025) malam, aliran Sungai Keruh berubah arah setelah tanggul jebol di wilayah hulu, tepatnya di sekitar Kalikeruh. Akibatnya, air bah kini mengalir deras melewati jalan utama desa hingga ke kawasan Dukuh Kweni.
Kondisi tersebut membuat jalur penghubung antar-dukuh di Adisana lumpuh total. Aktivitas warga tersendat, kendaraan tidak bisa melintas, dan sebagian rumah di bantaran sungai tergenang air hingga setinggi pinggang orang dewasa.
“Airnya deras sekali, seperti sungai pindah ke jalan. Sudah lima hari belum surut,” ujar Sutarmo (48), warga Dukuh Kweni, saat ditemui di lokasi, Rabu (12/11/2025).
Menurut pantauan di lapangan, arus air tampak terus mengalir di ruas utama desa.
Jalan yang biasanya menjadi jalur warga menuju pasar kini berubah menjadi aliran sungai sementara.
Warga terpaksa menggunakan perahu darurat dari drum plastik untuk menyeberang antar-dukuh.
Tanggul Jebol, Sungai Pindah Jalur
Peristiwa bermula ketika hujan deras mengguyur wilayah Bumiayu pada Sabtu malam.
Tanggul Sungai Keruh yang berada di kawasan Penggarutan tidak mampu menahan debit air dan akhirnya jebol. Air kemudian mengalir ke arah lebih rendah, yakni Desa Adisana.
Kepala Desa Adisana, Slamet Riyanto, membenarkan bahwa aliran sungai kini benar-benar berpindah ke jalur utama desa.
“Jalur sungai lama sudah tertutup lumpur dan material. Sekarang air mengambil jalur baru melewati jalan desa. Ini sangat berbahaya kalau tidak segera ditangani,” ujarnya.
Pihak Pemerintah Kecamatan Bumiayu bersama BPBD Kabupaten Brebes sudah menurunkan alat berat untuk menutup tanggul yang jebol serta mengalihkan aliran air kembali ke jalur semula. Namun, prosesnya terkendala derasnya arus dan kondisi tanah yang labil.
Warga Terisolasi dan Kekurangan Air Bersih
Hingga Rabu (12/11), sejumlah dukuh seperti Kweni, Sidamukti, Baruamba, dan Baru Untung masih terisolasi. Akses darat nyaris tak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat.
Sementara itu, bantuan air bersih dan logistik mulai disalurkan oleh aparat kepolisian dan relawan setempat.
“Kami sudah menurunkan tim untuk distribusi air bersih dan kebutuhan pokok. Warga di titik terisolasi jadi prioritas,” terang Kapolsek Bumiayu, AKP Dwi Hartono, kepada JinggaNews.com.
Perlu Penanganan Cepat
BPBD Brebes menyebut pergeseran aliran sungai ini bisa menimbulkan risiko jangka panjang jika tidak segera dinormalisasi. Selain mengancam permukiman warga, perubahan jalur sungai juga dapat menyebabkan erosi berat dan longsor di sisi tebing.
“Kami masih melakukan assessment untuk menentukan langkah teknis permanen. Jika curah hujan tinggi, potensi banjir bandang bisa berulang,” kata Koordinator Pusdalops BPBD Brebes, Eko Prasetyo.
Peristiwa ini menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap sistem pengendalian banjir di wilayah selatan Brebes.
Selain memperbaiki tanggul, perlu langkah preventif seperti pengerukan sedimentasi sungai dan peningkatan kapasitas drainase desa agar aliran air tidak lagi mencari jalur baru melewati permukiman warga.
Dan di antara arus yang tak kunjung reda, harapan tetap berdenyut—seperti doa yang mengalir di antara langkah-langkah kecil warga Adisana, menunggu langit cerah yang membawa pulang ketenangan.


