Subuh yang Belum Sempurna Terang: Para Pekerja Cibarusah Menjemput Rezeki Sebelum Matahari Bangun

‌Jingga News, Cibarusah, (18/11/2025) — Subuh di Cibarusah masih menyerupai malam yang belum rela pergi. Udara dingin bergerak pelan di antara pepohonan, sementara kabut tipis menggantung rendah menutupi sebagian pandangan.

Meskipun langit masih gelap, aktivitas manusia sudah dimulai. Di sepanjang jalan raya, puluhan pekerja berdiri mengetatkan jaket, menunggu bus jemputan yang membawa mereka menuju berbagai kawasan industri Cikarang: Lippo, EJIP, Hyundai, Jababeka, Delta Silicon, hingga yang bekerja lebih jauh di MM2100.

Kajian Lapangan Tim Jingga News

Pada Selasa (18/11/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, tim jingganews.com menyusuri jalur tersebut.

Kami berhenti di salah satu titik penjemputan yang tampak sunyi.

Sesekali motor melintas cepat, meninggalkan guratan cahaya di antara lampu jalan yang redup.

Dalam suasana remang itu, siluet-siluet tubuh berdiri tegap, menahan dingin dan kantuk, menunggu perjalanan panjang menuju tempat kerja.

Obrolan Hangat di Tengah Dingin Pagi

Kami mendekati seorang bapak paruh baya yang berdiri bersama beberapa rekannya. Wajahnya ramah, namun menyimpan lelah dari rutinitas yang berlangsung bertahun-tahun.

Setiap hari begini ya, Pak? Pagi buta sudah nunggu di pinggir jalan?” tanya kami.

Ia tersenyum kecil, senyum yang penuh penerimaan.

Iya, Mas. Ini masih mending. Sekarang subuh jam empat lewat, jadi saya masih sempat ngopi dan sarapan buatan istri. Kemarin waktu subuh hampir jam lima, boro-boro ngopi… sholat aja harus buru-buru biar nggak ketinggalan jemputan.”

Berangkat Lebih Awal Karena Macet Berkepanjangan

Ia bercerita bahwa jam masuk kerjanya pukul 07.00, tetapi kondisi lalu lintas memaksanya berangkat sangat dini.

Kalau enggak berangkat jam segini, bisa telat, Mas,” ujarnya.

Di sisi lain, waktu pulangnya sering tidak menentu.

Kadang saya baru nyampe rumah jam delapan atau sembilan malam. Sampai rumah cuma sempat mandi, makan sedikit, terus tidur. Besoknya ya gitu lagi.”

Obrolan singkat itu membuat subuh terasa semakin hening.

Bus Jemputan Menjadi Tempat Mengumpulkan Tenaga

Menurutnya, banyak pekerja datang ke titik penjemputan dengan mata berat karena minim istirahat. Akhirnya, bus jemputan menjadi ruang singgah kecil untuk beristirahat.

Di dalam bus itu, Mas, banyak yang langsung merem. Ada yang nyandar kaca, ada yang kepalanya jatuh-jatuh. Istirahat di rumah kurang, jadi ya tidur di bus lumayan bantu. Walaupun kursinya keras, kadang kebangun-bangun juga.”

Mereka tidak tidur karena malas, tetapi karena tubuh benar-benar meminta jeda sebelum memasuki ritme pabrik yang padat.

Saat Matahari Mulai Menyingsing

Ketika langit mulai merekah, semburat oranye perlahan muncul di ufuk timur. Suara mesin besar mendekat. Bus jemputan tiba. Para pekerja naik satu per satu, membawa ransel tipis, membawa doa, dan membawa harapan yang sama setiap hari.

Dalam beberapa menit, mereka kembali memejamkan mata, memeluk sisa tenaga sebelum hari panjang menanti di kawasan industri Cikarang.

Pagi yang Penuh Perjuangan di Cibarusah

Beginilah pagi di Cibarusah: syahdu, tenang, dan sarat perjuangan. Mereka berangkat sebelum matahari bangun dan pulang ketika hari hampir selesai. Semuanya dilakukan demi keluarga, demi kehidupan, dan demi rezeki yang halal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *