Ribuan Guru Madrasah Kepung Monas, Suara Pendidik Menggema ke Istana
Jakarta — 30 Oktober 2025 | Jingganews.com — Langit Jakarta pagi itu berwarna kelabu, seakan menunduk menyambut gelombang langkah ribuan guru madrasah yang memenuhi jantung ibu kota.
Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, membawa spanduk, doa, dan tekad yang tumbuh dari ruang-ruang kelas sederhana.
Di wajah mereka terlukis keyakinan bahwa pengabdian tidak boleh terus menjadi sunyi.
Setiap langkah yang mereka ayunkan adalah surat terbuka kepada negara. Mereka menulis tuntutan dengan tinta kesabaran yang telah lama kering di papan kebijakan.
Langit Monas dan Lautan Guru
Ribuan guru bergerak menuju Monumen Nasional dengan tertib, mengubah halaman sejarah menjadi ruang kelas terbuka.
Seragam sederhana mereka berbaris rapi, menyatukan suara yang lahir dari pengabdian, bukan kemarahan.
Mereka menuntut kejelasan dari status, kesejahteraan, dan kesetaraan—seruan yang berpijar dari hati yang lelah namun tak menyerah.
“Guru madrasah juga guru bangsa. Jangan biarkan pengabdian kami tak dihitung oleh negara,” seru seorang orator dari atas mobil komando.
Di tengah keramaian, spanduk bertuliskan “Guru Madrasah Bukan Kelas Dua” berkibar seperti doa yang menolak padam.
Kota yang Berhenti, Nurani yang Bergerak
Lebih dari seribu lima ratus personel kepolisian menjaga jalannya aksi, memastikan kedamaian menjadi wajah perjuangan.
Beberapa ruas jalan di sekitar Monas ditutup, dan layanan TransJakarta sempat dialihkan untuk memberi ruang bagi suara rakyat pendidik.
Namun, suasana tetap teduh—dihiasi lagu perjuangan, doa bersama, dan aroma kapur yang seakan kembali hidup di udara kota.
Aksi itu bukan sekadar peristiwa politik, melainkan kesaksian nurani yang menolak diam di tengah birokrasi yang beku.
Dari papan tulis yang menua, lahirlah suara yang menggetarkan ruang kebijakan di istana.
Aspirasi Menembus Dinding Istana
Gelombang aspirasi itu akhirnya sampai ke telinga kekuasaan.
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro memastikan bahwa pesan para guru akan diteruskan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Ribuan guru madrasah berkumpul di depan istana membawa aspirasi yang akan kami sampaikan kepada Bapak Presiden,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Presiden Prabowo tengah berada di Korea Selatan menghadiri KTT APEC, sebuah tugas negara yang tak bisa ditinggalkan.
“Bukan karena tidak ingin menemui, tetapi karena beliau sedang menjalankan amanah di luar negeri,” jelas Juri dengan tenang.
Suara para guru, meski tak bersua langsung, telah resmi dicatat dan diterima negara.
Komitmen dan Janji yang Diuji
Pemerintah menegaskan bahwa komitmen terhadap pendidikan tidak pernah padam. “Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidak sekolah, baik di sekolah umum maupun madrasah,” ujar Juri menegaskan.
Ia menyampaikan bahwa Presiden telah memberi perhatian besar pada perbaikan fasilitas pendidikan dan peningkatan mutu pengajaran di seluruh daerah.
Untuk menindaklanjuti aspirasi para guru madrasah, pemerintah akan melakukan koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Agama.
“Semua aspirasi akan kami bahas secara menyeluruh dan disampaikan langsung kepada Presiden,” tambahnya dengan nada penuh tanggung jawab.
Di sinilah kejujuran kebijakan diuji: apakah negara benar-benar mendengar suara dari ruang kelas yang paling sunyi.
Ruang Kelas, Cermin Bangsa
Di bawah teduh langit Monas, guru-guru itu berdiri tegak—bukan sebagai pengemis perhatian, tetapi penjaga masa depan yang menolak dilupakan.
Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya keadilan yang sepadan dengan dedikasi mereka menyalakan cahaya di ruang-ruang gelap.
Dari kapur yang menipis dan kursi kayu yang retak, mereka mengajar arti ketulusan tanpa pamrih.
Kini, bola berada di tangan pemerintah: apakah suara dari papan tulis akan menjadi catatan kebijakan, atau sekadar gema yang hilang di antara gedung-gedung kekuasaan?
Karena bangsa yang mengabaikan gurunya, perlahan kehilangan aksara untuk menulis masa depan.
Dan pagi itu, Monas bukan hanya monumen batu—ia menjelma lentera, menyala oleh tekad para guru yang tak berhenti mencintai negeri dengan cara mengajar.

