Siswa SMAN 1 Babelan Menuntut Kejelasan dan Keadilan Pungutan Sekolah
Jingga News, Babelan (03/12/2025) — Ratusan siswa SMAN 1 Babelan, Kabupaten Bekasi berdiri di gerbang sekolah, menggelar aksi demonstrasi siswa yang lahir dari kegelisahan tentang pungutan sekolah.
Mereka menagih transparansi dana pendidikan agar setiap rupiah jelas penggunaannya, demi tercipta keadilan sekolah yang jujur dan aman bagi masa depan.
Di halaman SMAN 1 Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (25/11), udara pagi berubah menjadi ruang bagi suara-suara yang selama ini terpendam.
Ratusan siswa berkumpul dalam gerakan yang lahir bukan dari ajakan organisasi, melainkan dari kegelisahan bersama—tentang beban pungutan sekolah, dana pembangunan, dan janji-janji yang tak kunjung menjelma kenyataan.
Mereka berdiri di bawah langit yang sendu, membawa poster, membawa suara, dan membawa doa agar suara muda tak lagi dianggap angin lalu.
Gugatan dari hati para siswa
Sejumlah siswa menyampaikan keberatan terhadap berbagai pungutan yang diminta pihak sekolah: sumbangan pembangunan kelas, iuran kegiatan, renovasi masjid, hingga pembangunan taman.
Biaya-biaya itu, bagi sebagian keluarga, menjadi beban berat yang tak mudah ditanggung.
“Orang tua kami bekerja keras, dari pagi sampai malam. Kami tahu batas kemampuan mereka,” ujar seorang siswa, Rabu (3/12).
“Tapi pembangunan yang dijanjikan tak pernah selesai. Kami hanya ingin tahu ke mana dana itu pergi.”
Mereka menyebut pembangunan masjid dan taman telah berlangsung bertahun-tahun.
Tiang-tiang berdiri, namun hasilnya tak kunjung tampak. Keresahan pun tumbuh, mengalir seperti air yang perlahan menumbuhkan gelombang besar.
Aksi berulang, tuntutan meluas
Aksi serupa kembali terjadi pada Senin (1/12). Selain meminta penjelasan soal pungutan, para siswa juga menuntut pengusutan dugaan kekerasan seorang guru terhadap siswa lain dalam aksi sebelumnya.
Seragam abu-abu itu menggigil oleh campuran tegang dan keberanian.
Namun satu hal menyatukan mereka: keinginan memiliki sekolah yang jujur dan aman—tempat tumbuh, bukan tempat takut.
Penjelasan kepala sekolah
Kepala SMAN 1 Babelan, Woro Sawitri, mengakui adanya pungutan.
Ia menegaskan bahwa semuanya merupakan hasil kesepakatan komite sekolah dan digunakan untuk menutup kebutuhan yang tidak terdanai pemerintah.
“Kami punya guru honorer, dan beberapa kegiatan tidak terdanai dari BOS. Karena itu ada kesepakatan sumbangan,” ujarnya, Rabu (3/12).
Ia menambahkan, sejak keluarnya instruksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk menghentikan pungutan, pihak sekolah mengklaim telah mengikuti aturan tersebut sesuai ketentuan.
Pendidikan, kejujuran, dan masa depan
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal buku dan ruang belajar, melainkan perjalanan membangun kepercayaan.
Sekolah bukan sekadar institusi, melainkan rumah kedua—tempat anak-anak belajar memaknai dunia.
Ketika siswa berdiri di depan gerbang sekolah, mereka tidak sedang melawan. Mereka sedang belajar berpendapat.
Mereka sedang belajar bahwa masa depan tak hanya ditunggu, tetapi diperjuangkan.
Aksi mereka menjadi cermin bahwa generasi muda mulai mengerti arti transparansi: bahwa mereka bukan hanya penerima aturan, tetapi juga penjaga masa depan institusi pendidikan.
Dialog, jalan tengah yang diharapkan
Pihak sekolah menyatakan kesiapan membuka ruang dialog dengan siswa dan orang tua. L
Melalui meja diskusi itu, diharapkan angka-angka menjadi jelas, laporan dana terbuka, dan hubungan yang sempat keruh dapat kembali jernih.
Di bawah langit Bekasi yang perlahan menua sore itu, tuntutan para siswa menyisakan pesan dalam: bahwa di balik setiap iuran, ada jerih payah orang tua; di balik setiap pembangunan, ada harapan yang menunggu wujudnya; dan di balik setiap suara, ada masa depan yang ingin dijaga.
Akhir yang belum usai
Demonstrasi mungkin selesai, tetapi pertanyaan mereka tidak. Ia akan hidup di ruang kelas, di rapat komite, di ruang kepala sekolah, dan dalam ingatan orang tua.
Siswa-siswa itu pulang membawa lelah, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih besar: kesadaran bahwa keadilan adalah bagian dari pelajaran hidup.
Dan malam itu, ketika pintu gerbang sekolah perlahan ditutup, suara-suara mereka masih menggantung di udara—menjadi pengingat bahwa pendidikan, setinggi apa pun temboknya, hanya dapat berdiri kokoh bila dibangun di atas pondasi kepercayaan.

