Solidaritas Warga Bekasi di Tengah Genangan: Saat Banjir Menyatukan yang Terpisah

Jingga News, Bekasi, 02 November 2025 — Warga Bekasi kembali dihadapkan pada genangan, namun tak kehilangan arah.

Banjir mungkin merendam jalan, tapi tidak memadamkan empati.

Air datang tanpa izin, tapi manusia membalasnya dengan kebaikan yang tak pernah surut.

Gotong Royong, Tradisi yang Tak Pernah Tenggelam

Di tengah banjir yang meluas ke tujuh kecamatan, warga Bekasi saling menolong tanpa banyak bicara.

Di Karangbahagia, anak muda mendayung perahu rakit dari papan triplek, menjemput lansia yang terjebak air.

Sementara di Cikarang Selatan, ibu-ibu dapur umum menanak nasi dari sumbangan beras warga sekitar.

Seperti dikisahkan oleh Kumparan News, tawa kecil masih terdengar di antara lumpur — tanda bahwa harapan tak ikut hanyut.

Dari Masjid ke Balai Desa: Tempat Mengungsi, Tempat Berbagi

Masjid-masjid di Serang Baru berubah jadi pos pengungsian darurat.

Balai desa disulap jadi dapur, di mana warga bergantian menyiapkan makanan hangat.

Menurut laporan AntaraNews.com, lebih dari 3.500 jiwa kini bergantung pada logistik kolektif dan sumbangan sukarela.

Tak ada dinding pemisah di sana — hanya alas tikar, aroma kopi, dan cerita tentang keteguhan yang sama.

Anak-anak dan Hujan yang Jadi Mainan

Anak-anak, dengan tingkah polosnya, menjadikan genangan sebagai kolam sementara.

Mereka bermain di bawah hujan, tertawa, dan menyalakan warna di hari yang kelabu.

Seorang relawan dari Liputan6.com menggambarkan, “Mereka tak tahu apa itu kehilangan, hanya tahu cara tertawa di antara deras.”

Dan mungkin, itulah cara paling jujur manusia menghadapi bencana — tetap bahagia, meski basah kuyup oleh kenyataan.

Pemerintah Turun, Tapi Rakyat Lebih Dulu Bergerak

BPBD Kabupaten Bekasi menyalurkan bantuan darurat, menurunkan perahu karet, dan pompa di titik-titik kritis.

Namun sebagian besar bantuan awal datang dari warga sendiri — dari kelompok RT, karang taruna, hingga komunitas motor.

Banjir membuat manusia saling menemukan kembali makna kata kita.”
Di saat saluran air gagal bekerja, saluran hati manusia justru terbuka lebar.

Bekasi Belajar dari Kepeduliannya Sendiri

Musibah ini menguji, tapi juga menyatukan.

Warga yang biasanya terpisah oleh pagar perumahan kini duduk bersisian, berbagi nasi bungkus yang sama.

Banjir mungkin datang setiap tahun, tapi semangat saling menolong datang setiap saat.

Dan di situlah Bekasi menemukan identitasnya: bukan sekadar kota industri, tapi kota yang masih punya hati.

Di Balik Air, Ada Cinta yang Mengalir

Saat air surut, bekas genangan akan hilang.

Tapi jejak solidaritas akan tetap tertulis di setiap sudut kota.

Bekasi mungkin lelah, tapi cintanya pada sesama tak pernah kering.

Karena di kota ini, setiap bencana hanyalah alasan baru untuk saling menjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *