Tata Air Bekasi dan Kota yang Terlupa Drainasenya: Banjir dan Lupa pada Sungainya

Jingga News, Bekasi, 02 November 2025 – Tata air Bekasi kembali jadi cermin yang beriak.

Kali Cikarang menumpahkan keluh kesahnya, sementara kota berlari tanpa arah paritnya.

Banjir Bekasi kali ini bukan sekadar akibat hujan deras — tapi karena lupa pada akar air.

Kota yang Berlari Tanpa Menengok Sungainya

Bekasi tumbuh cepat, terlalu cepat untuk jantung drainasenya sendiri.

Dalam dua dekade, sawah berubah jadi perumahan, rawa menjelma menjadi pabrik.

GoBekasi.id mencatat, alih fungsi lahan di wilayah industri meluas tanpa diimbangi sistem resapan yang sehat.

Air hujan kehilangan tanah untuk pulang, lalu menyelinap ke rumah-rumah yang dulu kering.

Saluran yang Menyempit, Sungai yang Mengeluh

Di bawah permukaan kota, drainase Bekasi menua dalam diam.

AntaraNews.com menulis, banyak saluran sekunder kini separuh dari lebar aslinya, tercekik oleh lumpur dan sampah.

Sedimentasi membuat air mengendap lama, sementara kiriman dari hulu datang tanpa jeda.

Kali Cikarang seolah berbicara pelan: aku bukan musuhmu, aku hanya tak punya ruang untuk bernafas.

Janji Normalisasi dan Realitas yang Tersendat

Pemkab Bekasi menjanjikan perbaikan melalui program normalisasi Kali Cikarang Hilir sejak awal tahun.

Namun laporan dari Liputan6.com menyebut realisasinya baru mencapai 23 persen hingga Oktober.

Sementara air terus naik, warga menyiapkan sekop, menimbun pasir, dan menggali saluran kecil dengan tangan sendiri.

Gotong royong jadi perahu terakhir yang mereka percaya, saat janji pembangunan belum benar-benar datang.

BMKG Mengingatkan, Waktu Tak Banyak

BMKG Bekasi mengabarkan peningkatan curah hujan hingga 20 persen pada awal November.

Artinya, kota harus bergegas memperkuat infrastruktur air sebelum badai berikutnya datang.

Namun Bekasi masih sibuk menambal lubang-lubang lama di antara proyek baru yang menjulang.

Air menunggu dengan sabar, karena ia tahu — manusia sering belajar setelah tenggelam.

Bekasi di Antara Ambisi dan Alam

Kota ini berdiri di antara dua keinginan: tumbuh dan bertahan.

Infrastruktur megah dibangun di atas tanah yang haus penyerapan.

Di Karangbahagia, seorang warga berkata lewat Antara, “Kami tak butuh gedung tinggi, cukup saluran yang tak tersumbat.”

Sebuah kalimat sederhana yang terdengar seperti doa di tengah derasnya kemajuan.

Saat Kota Belajar Mendengar Air

Bekasi, dalam segala riuhnya, harus kembali menunduk pada sungai.

Sebab air tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk mengingatkan.

Bahwa setiap saluran adalah urat nadi kehidupan, dan setiap tetes air adalah pelajaran yang jatuh dari langit.

Jika kota mau mendengar, maka banjir hanyalah sementara — tapi kesadarannya bisa abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *