Viral! Jalan di Aceh Amblas Seketika

Di tanah Gayo, di Kabupaten Bener Meriah, Aceh — Rabu, 3 Desember 2025 — sebuah jalan berubah dari nadi kehidupan menjadi lubang menganga dalam hitungan detik. Sebab: upaya membuat parit darurat agar aliran air hujan tak lagi menenggelamkan pemukiman warga, justru menenggelamkan harapan — dan aspal.

Kronik Kesedihan: dari Niatan Baik ke Puing Infrastruktur

Sebelum peristiwa nahas itu terjadi, dengan degup harap untuk mencegah genangan, alat berat — ekskavator — mulai menggali sisi kanan badan jalan di ruas Jalan Pacuan Kuda. Rencananya sederhana: membuat saluran air agar hujan cepat mengalir, jauh dari rumah warga. Namun di balik ketenangan aspal polos, tanah di bawahnya menanggung luka — terdiri dari pasir gembur, rapuh, mudah tergerus.

Dalam sekejap, ketika air masuk ke parit baru, pondasi pun kalah. Aspal merosot, retak melebar, dan kemudian amblas. Badan jalan runtuh — lengkap dengan deru air, debu tanah, dan teriakan panik warga. Video kejadian itu beredar deras di media sosial, jadi saksi bahwa niat baik bisa berujung bencana.

Saksi dari lokasi menggambarkan suasana kala itu: panik, ngeri, tak percaya. “Warga dan pengendara langsung berhenti, menepi… lalu lari, menjauh dari jalan yang tiba-tiba amblas,” tulis salah satu laporan.

Akses Terputus, Harapan Terhenti — Sebuah Rute Penting Terslitik

Jalan yang roboh itu bukan jalan biasa. Jalan Pacuan Kuda adalah akses vital — penghubung antara sejumlah desa, dan jalur utama menuju bandara serta rute strategis: rute Jalan Pante Raya–Simpang Tiga. Warga kehilangan jalur utama. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi kerugian mobilitas, logistik, dan psikologis sudah nyata.

Beberapa warga terpaksa menempuh jalur alternatif — melewati sisi kanan video, menyebrangi aliran air, dengan motor atau berjalan kaki. Jauh, melelahkan, penuh risiko. Warga berharap: segera ada perbaikan, sebelum hujan berikutnya tiba.

Kritik Dalam Diam: Mitigasi yang Menjadi Penghancur

Apa yang salah? Bukankah parit itu untuk melindungi, bukan meruntuhkan?

Menurut laporan pakar dan warga setempat, kesalahan besar ada pada perencanaan: tanah di bawah aspal — pasir lembek — tidak pernah diuji daya dukungnya sebelum digali. Drainase darurat dibangun “serampangan,” seperti memberi pisau pada tanah yang tengah berdarah. Saat air deras mengalir, pasir menggerus — dan jalan amblas.

Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, kontraktor, dan siapapun yang terlibat pembangunan atau mitigasi bencana: “Pemeriksaan geologis mendalam bukan pilihan — melainkan keharusan.” Tanpa itu, proyek “penyelamatan” bisa berubah menjadi penghancuran.

Kesedihan Kolektif & Seruan Menuju Kesadaran Infrastruktur

Video jalan ambles itu viral — bukan karena sensasionalisme kosong, tapi karena ia menggambarkan satu kebenaran pahit: betapa rapuhnya infrastruktur kita ketika dibangun tanpa kejelian, tanpa rasa tanggung jawab.

Warga di Bener Meriah kini menggenggam harapan yang tersisa — bahwa segera ada perbaikan, agar jalan itu kembali menjadi jalur kehidupan, bukan lubang yang menelan nyawa atau harapan. Dan bahwa setiap proyek, sekecil apapun, harus dibangun di atas kesadaran bahwa tanah — dan kehidupan — punya harga.

Sebagai cermin bagi kita semua, insiden ini bukan hanya tentang aspal dan pasir. Ini tentang kemanusiaan, tanggung jawab, dan keadilan — bahwa setiap infrastruktur dibangun untuk melayani manusia, bukan mengkhianati mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *