Di Balik Baju Bekas dan Tudingan Tak Bersyukur: Relawan Ungkap Fakta Lapangan di Sumatra Barat

Jingga News, Babelan, (10/12/2025) —  Bencana yang melanda Sumatra Barat kembali menguji alur bantuan kemanusiaan, terutama ketika para relawan di lapangan harus menjelaskan fakta seputar polemik pakaian bekas yang disebut-sebut ditolak para pengungsi.

Di tengah derasnya arus informasi, klarifikasi menjadi penting agar empati masyarakat tidak salah arah dan tetap berpijak pada realitas yang sebenarnya.

1. Bencana Meluas, Luka Bertambah

Banjir dan longsor yang terjadi sejak 24 November 2025 meninggalkan kerusakan parah di sejumlah wilayah Sumatra Barat.

Hujan yang tak henti-henti memicu aliran air dari pegunungan meluap tak terkendali. Rumah warga hanyut, lahan pertanian rusak berat, jembatan dan akses jalan terputus, sementara ribuan orang terpaksa mengungsi ke lokasi darurat.

Ratusan jiwa meninggal dunia dan sebagian lainnya masih dinyatakan hilang. Di banyak titik pengungsian, sendu wajah para penyintas bukan hanya karena kehilangan harta dan tempat tinggal, tetapi juga karena masa depan yang tiba-tiba berubah tanpa peringatan.

2. Viralnya Tuduhan “Tak Bersyukur” di Media Sosial

Di tengah situasi darurat, berbagai daerah di Indonesia bergerak mengirim bantuan kemanusiaan—mulai dari makanan, obat-obatan, hingga pakaian bekas.

Namun pada 5 Desember 2025, media sosial menjadi gaduh ketika muncul narasi bahwa para pengungsi menolak bantuan pakaian bekas.

Narasi tersebut langsung memicu komentar pedas. Ada yang menuduh penyintas “pilih-pilih”, ada pula yang menilai mereka tidak tahu diri. Namun opini tersebut ternyata tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Relawan yang bertugas di posko-posko pengungsian menegaskan: bukan penolakan terhadap bantuan, tetapi seleksi terhadap barang yang tidak layak pakai.

3. Fakta Lapangan: Pakaian Bekas Banyak yang Tidak Layak

Relawan di sejumlah titik menyampaikan bahwa banyak pakaian yang datang dalam kondisi kotor, rusak, basah, berjamur, atau mengeluarkan bau menyengat.

Beberapa pakaian bahkan tidak sesuai ukuran, terlalu tipis untuk cuaca dingin, atau tidak layak diberikan kepada siapa pun.

Tumpukan pakaian tidak layak itu membuat proses logistik tersendat. Relawan harus memilah satu per satu, menyita tenaga yang seharusnya difokuskan pada pendistribusian makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lain.

Di lokasi pengungsian yang lembap dan minim sanitasi, pakaian kotor atau berjamur berpotensi menimbulkan masalah kesehatan—mulai dari iritasi kulit hingga gangguan pernapasan.

“Ini bukan soal tidak bersyukur. Banyak pakaian yang datang memang tidak bisa digunakan. Daripada jadi masalah baru, kami prioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan,” ujar salah seorang relawan.

4. Mengapa Ada Penolakan? Ini Alasannya

  • Kondisi rusak atau kotor: berjamur, robek, atau berbau.
  • Membebani logistik: penyortiran menyita waktu dalam situasi darurat.
  • Risiko kesehatan: pakaian lembap dapat memicu infeksi dan iritasi.
  • Menumpuk jadi sampah: barang tak layak berubah menjadi tumpukan sampah baru.
  • Tidak sesuai kebutuhan: bahan tipis atau ukuran tak relevan dengan cuaca.
  • Pertimbangan martabat: penyintas tetap berhak diperlakukan manusiawi.

Penjelasan ini sekaligus membantah stigma yang berkembang di dunia maya dan mengembalikan empati ke jalur yang tepat.

5. Rekomendasi Bantuan yang Lebih Bermanfaat

BNPB, PMI, dan lembaga kemanusiaan merekomendasikan agar masyarakat mengutamakan bantuan yang sesuai kebutuhan di lapangan. Beberapa bentuk bantuan yang disarankan:

  • Donasi uang tunai, agar tim di lapangan dapat membeli kebutuhan paling mendesak.
  • Barang baru, seperti selimut, pakaian dalam, dan perlengkapan bayi.
  • Makanan siap saji dan air minum untuk kebutuhan segera.
  • Obat-obatan dan perlengkapan sanitasi untuk mencegah wabah penyakit.
  • Peralatan kebersihan untuk pemulihan lingkungan.

Koordinasi sebelum pengiriman sangat dianjurkan agar bantuan yang diterima sesuai kebutuhan, tidak menambah beban relawan, dan tidak menghambat alur penanganan bencana.

Catatan Redaksi: Menjaga Martabat di Tengah Bencana

Bencana selalu membuka tabir betapa rapuhnya hidup manusia. Namun di tengah kerentanan itu, setiap orang tetap berhak diperlakukan dengan hormat.

Bantuan kemanusiaan bukan sekadar memberikan apa yang ada, tetapi memastikan bahwa pemberian itu tepat guna, tidak melukai perasaan, dan tetap menjaga martabat penerimanya.

Empati bukan hanya soal memberi, tetapi juga tentang memahami, mendengar, dan menghargai mereka yang sedang berjuang untuk bangkit.

Sumatra Barat mungkin tengah diuji oleh air bah dan tanah yang bergerak, tetapi semoga Indonesia tidak ikut terhanyut oleh prasangka.

Karena badai bisa meruntuhkan bangunan, tetapi tidak seharusnya meruntuhkan kepedulian manusia terhadap sesama.

Di tengah tanah yang retak dan air yang masih menyisakan dingin, kita belajar bahwa kepedulian bukan sekadar memberi barang, tetapi menghadirkan hati dalam setiap uluran tangan.

Semoga setiap bantuan menjadi pelukan kecil yang menenangkan para penyintas, dan setiap langkah solidaritas menjadi cahaya yang menuntun mereka pulang dari kelelahan panjang.

Pada luka-luka yang belum kering itu, semoga kita semua tetap menemukan alasan untuk saling menguatkan—perlahan namun pasti—seperti fajar yang selalu kembali setelah malam terkelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *