Membongkar Korupsi MBG: Mengapa Koperasi Sekolah Lebih Baik dari Vendor?
Kenapa oknum pejabat gemetar jika dana masuk ke Koperasi Sekolah? Karena mereka tidak lagi berhadapan dengan satu orang yang ketakutan, melainkan dengan tembok solidaritas guru dan orang tua. Halaman ini membedah bagaimana koperasi menjadi benteng integritas yang mustahil ditembus oleh makelar proyek.
Daftar Analisis – Bagian 2
Koperasi: Benteng Keberanian Kolektif
Korupsi tumbuh subur saat korbannya sendirian. Dalam skema personal, pemilik kantin mudah diintimidasi. Jika oknum dinas minta jatah, mereka tak berani melawan. Takut izin kantin dicabut.
Koperasi sekolah mengubah aturan main. Pengurusnya adalah kumpulan guru dan staf. Mereka bekerja atas nama anggota. Oknum birokrat akan pikir panjang untuk menekan kelompok. Menekan satu orang itu mudah, menekan satu institusi itu repot.
Inilah kekuatan solidaritas. Rasa takut individu hilang saat menjadi bagian dari koperasi. Guru punya harga diri. Mereka tak akan membiarkan jatah makan muridnya dirampok oknum luar. Koperasi memberikan “otot” politik bagi warga sekolah.
Audit Rakyat Lewat Rapat Anggota
Vendor besar punya laporan keuangan rahasia. Koperasi sekolah punya buku yang terbuka bagi anggota. Setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Ini audit paling jujur.
Orang tua murid bisa bertanya: “Kenapa harga telur mahal? Kenapa porsi daging mengecil?”. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan nota fiktif. Karena anggota koperasi juga belanja di pasar yang sama. Mereka tahu harga lapangan.
Di koperasi, transparansi bukan sekadar dokumen. Ini adalah kontrol sosial harian. Kebocoran dana akan langsung terasa di pembukuan. Dan anggota tidak akan tinggal diam jika uang mereka menguap tanpa alasan.
Cara Koperasi Menolak “Uang Bensin” Oknum
Bagaimana koperasi menolak pungli? Caranya dengan berlindung di balik aturan. Jika oknum dinas minta “upeti”, pengurus bisa menjawab dengan lugas.
“Maaf Pak, semua pengeluaran kami dicatat dalam sistem koperasi. Jika kami beri bapak uang bensin, pembukuan kami akan pincang di RAT nanti.” Ini alasan yang tak bisa dibantah. Koperasi adalah badan hukum resmi.
Sistem kolektif ini mematikan budaya “ewuh pakewuh” atau sungkan. Pengurus punya alasan kuat untuk tetap jujur. Mereka lebih takut pada laporan anggota daripada tekanan oknum luar. Inilah cara kita memutus rantai korupsi dari akarnya.
Menghidupkan Mesin Ekonomi Desa
Koperasi sekolah adalah pembeli besar di tingkat desa. Mereka belanja ratusan porsi setiap hari. Ini volume grosir. Koperasi bisa langsung kontrak dengan peternak ayam lokal. Tanpa makelar.
Uang 15 ribu tetap berputar di desa itu. Petani sayur punya pasar tetap. Peternak telur punya pembeli pasti. Ekonomi desa yang tadinya lesu jadi bergairah kembali. Ini adalah subsidi berganda bagi rakyat kecil.
Berbeda dengan vendor yang membawa uang ke pusat. Koperasi sekolah meninggalkan kekayaan di daerah. Sisa Hasil Usaha (SHU) juga kembali ke sekolah. Bisa untuk bantu siswa miskin atau perbaikan kelas. Uang rakyat kembali ke rakyat.
Bukan Sekadar Makan, Tapi Didikan Karakter
Program MBG lewat koperasi adalah laboratorium karakter. Siswa melihat guru mereka mengelola dana dengan jujur. Mereka belajar bahwa ekonomi bisa dijalankan dengan gotong royong. Ini pelajaran kewargaan yang nyata.
Sekolah bukan lagi menara gading. Sekolah menjadi pusat kemandirian desa. Rasa memiliki warga terhadap sekolah akan meningkat. Mereka menjaga sekolah karena sekolah menghidupkan petani dan memberi makan anak mereka.
Ini adalah investasi jangka panjang. Kita tidak hanya membentuk fisik yang sehat. Kita membentuk mentalitas bangsa yang mandiri. Bangsa yang percaya pada kekuatannya sendiri, bukan pada kontraktor luar.
Kesimpulan: Mandat Rakyat untuk MBG
Sudah saatnya kita berhenti bereksperimen dengan vendor besar. Biaya korupsi dan inefisiensinya terlalu mahal.
Taruhannya adalah pertumbuhan otak anak-anak kita. Jangan biarkan mereka makan sisa-sisa margin katering.
Pindahkan anggaran MBG langsung ke dapur koperasi sekolah. Berikan kedaulatan kepada guru dan orang tua. Gunakan sistem pembayaran digital agar tak ada celah nota fiktif. Biarkan warga desa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Hanya dengan cara ini, 15 ribu rupiah akan benar-benar jadi daging dan susu. Bukan jadi mobil mewah pejabat atau laba perusahaan katering. Mari kita kawal piring anak-anak kita melalui jalur kejujuran koperasi.
“Anggaran MBG adalah amanah, bukan proyek pengadaan.”
Mari sebarkan kesadaran ini. Dukung kedaulatan pangan sekolah melalui Koperasi Sekolah untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat dan jujur.
Opini ini disusun untuk mengawal program Makan Bergizi Gratis agar tepat sasaran dan bebas korupsi.

