Membongkar Korupsi MBG: Mengapa Koperasi Sekolah Lebih Baik dari Vendor?
Kenapa pejabat di kantor tinggi berani menyunat anggaran? Karena mereka tidak melihat wajah anak-anak yang lapar. Di tingkat sekolah, situasinya terbalik. Ada beban mental dan budaya malu yang menjadi pengawas paling galak. Halaman ini membedah sisi psikologis mengapa kejujuran rakyat kecil adalah kunci gizi anak kita.
Daftar Analisis – Bagian 3
Jarak Emosional: Statistik vs Wajah Manusia
Korupsi sering terjadi karena jarak. Bagi vendor besar di Jakarta, anak sekolah di pelosok hanyalah angka. Jika porsi dikurangi 10 gram, mereka tidak merasa menyakiti siapa pun. Mereka hanya melihat “optimasi laba” di layar komputer.
Di dapur sekolah, segalanya berbeda. Pengelola kantin atau pengurus koperasi melihat langsung wajah murid-muridnya. Mereka tahu siapa yang datang dengan perut kosong. Mereka tahu anak mana yang butuh gizi lebih. Jarak emosional yang dekat ini mencegah niat jahat.
Sulit bagi manusia normal untuk tega mencuri jatah makan anak di depan matanya sendiri. Rasa kemanusiaan ini tidak ada dalam kontrak vendor. Hanya ada di dapur-dapur sekolah yang dikelola dengan hati.
Budaya Malu: Pengawas Tanpa Gaji
Pejabat bisa bersembunyi di balik meja kantor. Jika ada masalah, mereka berlindung di balik prosedur. Namun, warga sekolah tidak punya kemewahan itu. Mereka tinggal di komunitas yang sama dengan wali murid.
Jika koperasi sekolah memberikan makanan sampah, beritanya akan menyebar dalam hitungan jam. Di pasar, di tempat ibadah, hingga di hajatan desa. Menyunat jatah makan anak tetangga adalah aib seumur hidup. Malunya tidak akan hilang sampai tujuh turunan.
Budaya malu inilah polisi paling efektif di Indonesia. Ia bekerja 24 jam tanpa perlu digaji negara. Rakyat kecil lebih takut dicap sebagai “pencuri jatah anak” daripada takut pada audit administrasi birokrasi.
Beban Moral “Kualat” di Akar Rumput
Masyarakat desa masih memegang teguh nilai spiritual. Ada ketakutan mendalam akan konsep “kualat” atau kualat. Mengambil hak anak-anak, apalagi anak miskin, dipercaya akan membawa petaka bagi keluarga sendiri.
Keyakinan ini adalah benteng integritas yang sangat kuat. Vendor katering tidak punya beban moral seperti ini. Mereka bekerja atas nama profit dan legalitas. Tapi rakyat kecil bekerja atas nama keberkahan hidup.
Bagi mereka, uang seribu rupiah hasil menyunat gizi anak tidak akan jadi daging. Malah akan jadi penyakit atau musibah. Logika spiritual ini jauh lebih ampuh mencegah korupsi dibanding aturan hukum yang sering bisa diakali.
Audit Piring: Setiap Orang Tua Adalah Intelijen
Jika MBG diserahkan ke koperasi, pengawasan menjadi sangat terbuka. Setiap orang tua yang menjemput anak adalah intelijen. Mereka bisa langsung sidak ke dapur sekolah. Mereka bisa menimbang porsi anak mereka sendiri.
Transparansi radikal ini hanya bisa terjadi di level sekolah. Vendor besar tidak akan membiarkan orang tua murid masuk ke dapur industri mereka. Alasannya rahasia perusahaan atau standar prosedur. Padahal itu hanya cara untuk menutup celah pengawasan.
Di koperasi sekolah, tidak ada rahasia. Dapur itu milik bersama. Ibu-ibu wali murid akan menjadi pengawas yang sangat galak jika urusannya adalah perut anak mereka. Inilah sistem audit sosial yang paling jujur dan gratis bagi negara.
Benteng Terakhir Harga Diri Guru
Guru adalah profesi yang paling dipertaruhkan harga dirinya. Melibatkan guru dalam koperasi MBG berarti mengaktifkan radar integritas mereka. Guru tak akan mau martabatnya hancur hanya demi “setoran” oknum luar.
Mereka berdiri sebagai benteng terakhir. Jika piring anak-anak kosong, guru yang akan pertama kali bersuara. Solidaritas korps guru jauh lebih kuat daripada tekanan birokrasi dinas yang korup. Koperasi sekolah mengembalikan marwah guru sebagai penjaga karakter bangsa.
Inilah alasan mengapa MBG harus berbasis rakyat sekolah. Karena di sana, kejujuran masih punya harga diri. Di sana, korupsi bukan sekadar salah administrasi, tapi pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Bagaimana Membangun Sistem Digital Agar Nota Belanja Koperasi Tidak Bisa Dimark-up?
Setelah urusan mental selesai, kita perlu teknologi sederhana. Halaman berikutnya membahas sistem pembayaran nontunai yang mematikan kreativitas korupsi nota pasar.

