Membongkar Korupsi MBG: Mengapa Koperasi Sekolah Lebih Baik dari Vendor?

Niat baik saja tidak cukup, kita butuh sistem yang mengunci ruang gerak para pemain nota fiktif. Halaman ini membedah bagaimana teknologi sederhana dan belanja langsung ke petani lokal bisa mematikan kreativitas korupsi, sekaligus memastikan uang negara tidak lari ke kantong makelar kota.


Sistem Nontunai: Membunuh Nota Fiktif

Korupsi belanja sering terjadi pada uang tunai dan nota tulisan tangan. Sangat mudah menulis harga ayam lebih mahal seribu rupiah di nota pasar. Namun, di era digital ini, celah itu bisa ditutup dengan mudah.

Koperasi sekolah wajib menggunakan transaksi nontunai (QRIS atau Transfer). Setiap rupiah yang keluar harus terdaftar ke rekening petani atau pedagang pasar. Tidak ada lagi uang tunai yang berceceran di kantong pengelola. Jejak digital adalah auditor paling kejam bagi pelaku mark-up.

Dengan sistem ini, bendahara sekolah tidak perlu pusing memeriksa nota lecek. Semua data belanja terekam otomatis di aplikasi. Inilah cara teknologi melindungi kejujuran orang kecil dari godaan serakah.

Potong Kompas: Belanja Langsung ke Kandang

Vendor besar harus membeli dari distributor, yang membeli dari makelar, yang mengambil dari petani. Setiap tangan minta untung. Di piring anak, harga bahan jadi mahal tapi kualitasnya menurun karena sudah berhari-hari di perjalanan.

Koperasi sekolah punya keunggulan jarak. Mereka bisa langsung belanja ke peternak ayam atau petani sayur di desa sekitar. Harga kandang tentu jauh lebih murah daripada harga pasar induk. Selisih harga inilah yang dialihkan menjadi tambahan daging atau susu untuk anak-anak.

Ini bukan eceran. Belanja untuk ratusan siswa setiap hari adalah kuota besar bagi petani desa. Koperasi sekolah menjadi penyelamat ekonomi petani lokal. Uang negara langsung mendarat di tangan orang yang benar-benar bekerja di sawah.

Standardisasi Gizi Tanpa Seragamisasi Vendor

Alasan pemerintah memakai vendor biasanya adalah standar gizi. Tapi gizi bukan berarti makanannya harus sama bentuknya dari Sabang sampai Merauke. Gizi adalah kandungan protein dan vitaminnya.

Koperasi sekolah bisa mengikuti panduan menu dari ahli gizi pusat, namun bahan bakunya menyesuaikan apa yang tumbuh di desa tersebut. Di pesisir pakai ikan segar, di pegunungan pakai sayur mayur. Ini jauh lebih sehat daripada memaksa anak makan makanan kemasan yang diawetkan demi distribusi vendor yang jauh.

Kesegaran bahan makanan adalah kunci kesehatan utama. Bahan yang dipetik pagi ini dan dimasak siang ini punya nilai gizi jauh lebih tinggi daripada daging beku milik vendor katering raksasa.

Membangun Kedaulatan Pangan dari Kantin

Jika puluhan ribu sekolah belanja ke petani lokal, maka ketahanan pangan kita terbangun secara alami. Petani punya kepastian pembeli. Mereka jadi semangat menanam karena pasarnya jelas: sekolah di sebelah rumah mereka.

Kita tidak perlu lagi impor bahan pangan besar-besaran untuk program ini. Koperasi sekolah menjadi mesin penggerak produksi pangan nasional dari bawah. Ini adalah sistem pertahanan pangan yang paling tangguh karena berbasis kekuatan rakyat, bukan ketergantungan pada impor.

Anak-anak sehat, petani makmur. Ini adalah simbiosis mutualisme yang hanya bisa terwujud jika kita berani memecat makelar dan mempercayai koperasi sekolah.

Pajang Harga di Mading Sekolah

Transparansi paling ampuh adalah keterbukaan informasi. Koperasi sekolah wajib memajang daftar belanja harian di mading atau grup WhatsApp orang tua. Berapa kilo ayam yang dibeli, berapa harganya, dan siapa penjualnya.

Saat semua orang bisa melihat, tidak ada yang berani bermain harga. Ibu-ibu wali murid adalah pemeriksa harga yang sangat teliti. Jika harga ayam di pasar 35 ribu tapi koperasi menulis 40 ribu, protes akan langsung meledak saat itu juga.

Inilah yang disebut pengawasan berbasis komunitas. Ia jauh lebih cepat dan akurat daripada tim pengawas dinas yang datang setahun sekali. Kejujuran dipaksa hadir melalui mata publik yang selalu terjaga.


Bagaimana Mengubah MBG Menjadi Warisan Ekonomi Nasional yang Permanen?

Di halaman terakhir, kita bicara tentang visi besar. Bagaimana skema koperasi ini akan menyelamatkan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

LANJUT KE HALAMAN 5: MANIFESTO EKONOMI RAKYAT & MASA DEPAN


↑ Kembali ke Daftar Isi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *