Makan Siang Gratis, Utang Nyata: Mengapa MBG 2026 Adalah Skema Menggadaikan Masa Depan Demi Nasi Kotak?

Simulasi Investasi Beasiswa – Mengapa 5 Juta Sarjana Jauh Lebih Berharga dari 58 Juta Paket Nasi?

Mengalokasikan ratusan triliun untuk makan siang adalah kebijakan jangka pendek. Namun, menginvestasikannya untuk menciptakan 5 juta sarjana baru adalah strategi jangka panjang untuk melunasi utang negara. Mari kita bedah mengapa “isi otak” memiliki daya ungkit ekonomi ribuan kali lipat dibanding “isi perut”.


Daftar Isi (Halaman 2 dari 5)


Teori Human Capital: Mengapa Otak Adalah Aset Terkuat?

Dalam diskursus ekonomi pembangunan, terdapat perbedaan mendasar antara “kesejahteraan jangka pendek” dan “pembangunan aset manusia”. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk ke dalam kategori pertama. Ia adalah bentuk transfer sosial yang bertujuan menekan pengeluaran rumah tangga miskin. Namun, secara teoritis, pemberian makanan tidak secara otomatis meningkatkan kemampuan individu untuk menghasilkan nilai tambah (value added) di pasar global. Di sisi lain, investasi pada pendidikan tinggi atau *High-Level Skill Training* adalah bentuk akumulasi *Human Capital* yang sesungguhnya.

Mari kita bicara jujur: Seorang anak yang sehat karena makan siang gratis, namun hanya mampu menyelesaikan pendidikan sekolah menengah karena ketiadaan biaya kuliah, kemungkinan besar akan tetap terjebak dalam sektor informal berupah rendah. Sebaliknya, seorang anak yang mungkin makan seadanya namun berhasil mendapatkan beasiswa sarjana di bidang teknik, kedokteran, atau kecerdasan buatan, memiliki lintasan hidup yang berubah total.

Investasi pada otak memberikan *compounding interest* (bunga berbunga) bagi ekonomi negara, sementara investasi pada perut hanya memberikan rasa kenyang yang bertahan hingga sore hari.

Dengan menarik utang sebesar Rp832,2 Triliun pada 2026, negara sebenarnya sedang mempertaruhkan masa depan.

Jika dana sebesar itu digunakan untuk menciptakan 5 juta sarjana baru setiap tahunnya melalui beasiswa penuh, kita sedang membangun tentara produktif yang akan menyelamatkan APBN.

Mengapa demikian? Karena dalam ekonomi modern, kekayaan sebuah bangsa tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak penduduknya yang kenyang, melainkan oleh seberapa banyak penduduknya yang mampu menguasai teknologi dan inovasi.

MBG hanya memelihara populasi, tetapi Beasiswa menciptakan solusi.

Simulasi Angka: 5 Juta Sarjana vs 58 Juta Paket Nasi

Mari kita lakukan perhitungan matematis yang dingin. Anggaran MBG diperkirakan mencapai Rp335 Triliun per tahun. Jika kita mengambil Rp150 Triliun saja dari anggaran tersebut dan dialokasikan untuk “Mega Beasiswa Nasional”, apa yang terjadi?

Dengan biaya rata-rata Rp30 juta per mahasiswa per tahun (mencakup UKT dan biaya hidup), kita bisa membiayai sekitar 5 juta mahasiswa sekaligus. Ini adalah jumlah yang cukup untuk membuat Indonesia menjadi pusat talenta digital dan teknis di Asia Tenggara.

Sekarang, bandingkan dengan paket nasi. Rp150 Triliun tersebut jika dibelikan paket makan siang hanya akan bertahan beberapa bulan untuk 58 juta orang. Begitu uang itu berubah menjadi makanan, ia hilang dari sistem ekonomi.

Namun, jika uang tersebut berubah menjadi gelar sarjana bagi 5 juta anak muda, uang tersebut akan kembali ke negara dalam bentuk Pajak Penghasilan (PPh).

Seorang sarjana baru di bidang teknologi rata-rata memiliki penghasilan awal Rp8-10 juta per bulan. Dalam 10 tahun karirnya, ia akan menyumbangkan pajak yang jauh lebih besar daripada seluruh biaya beasiswa yang pernah ia terima.

Inilah yang disebut investasi produktif: negara mengeluarkan uang hari ini untuk mendapatkan pemasukan berkali-kali lipat di masa depan.

Masalahnya, kebijakan MBG tidak memiliki mekanisme pengembalian modal.

Negara berutang Rp832,2 Triliun, lalu uangnya dibelikan makanan, dan negara tidak mendapatkan pemasukan tambahan dari makanan tersebut.

Ini adalah kebocoran fiskal yang sistematis. Kita sengaja memilih jalur yang membuat kita semakin miskin demi terlihat dermawan di depan kamera.

Beasiswa mungkin tidak bisa difoto dengan estetik seperti deretan kotak nasi di sekolah, tetapi beasiswa adalah satu-satunya jalan logis untuk melunasi utang-utang yang menumpuk tersebut.

Multiplier Effect Pendidikan: Dari Penerima Menjadi Pembayar Pajak

Salah satu klaim pendukung MBG adalah adanya multiplier effect bagi ekonomi lokal. Namun, multiplier dari sektor konsumsi pangan sangatlah rendah dan bersifat statis. Ia tidak menciptakan industri baru; ia hanya memperkuat rantai pasok yang sudah ada (yang ironisnya seringkali didominasi oleh korporasi besar).

Berbeda dengan pendidikan tinggi. Ketika seseorang menjadi sarjana, ia tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Ia memiliki potensi untuk menjadi pengusaha, menciptakan inovasi, atau memimpin perusahaan yang menyerap tenaga kerja lainnya.

Dampak ekonomi dari seorang insinyur yang mampu mendesain sistem energi terbarukan atau seorang ahli pertanian yang mampu menciptakan benih unggul jauh melampaui dampak ekonomi dari seribu orang yang mendapatkan makan siang gratis.

Inovasi yang dihasilkan oleh pendidikan tinggi adalah motor utama pertumbuhan PDB. Tanpa inovasi, ekonomi Indonesia hanya akan berputar pada komoditas mentah dan konsumsi rumah tangga yang rapuh. Investasi pada pendidikan tinggi mengubah struktur ekonomi dari “Ekonomi Otot” menjadi “Ekonomi Otak”.

Selain itu, pendidikan tinggi adalah instrumen paling efektif untuk menurunkan angka rasio Gini (ketimpangan). MBG memberikan makanan yang sama kepada semua orang, kaya maupun miskin, yang seringkali salah sasaran.

Namun beasiswa yang ditargetkan (targeted scholarship) secara akurat mengangkat derajat keluarga miskin ke kelas menengah hanya dalam satu generasi. Inilah esensi dari “Indonesia Maju”.

Kemajuan tidak diukur dari seberapa banyak subsidi yang diterima rakyat, tapi dari seberapa banyak rakyat yang sudah tidak membutuhkan subsidi lagi karena mereka sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri berkat pendidikan.

Jebakan Middle-Income Trap: Ancaman Bangsa yang Hanya “Kenyang”

Indonesia saat ini sedang berjuang keluar dari Middle-Income Trap (jebakan pendapatan menengah).

Syarat utama untuk keluar dari jebakan ini adalah produktivitas tenaga kerja yang tinggi dan efisiensi birokrasi.

Program MBG, dengan segala kerumitan logistik dan potensi korupsinya, justru menambah beban birokrasi tanpa meningkatkan produktivitas tenaga kerja secara signifikan. Kita sedang menghabiskan energi nasional untuk mengurus dapur umum, bukan mengurus laboratorium riset.

Negara-negara seperti Korea Selatan dan Taiwan tidak mencapai kemakmuran dengan bagi-bagi makanan secara masif melalui utang luar negeri. Mereka melakukannya dengan memaksa anggaran negara masuk ke pendidikan sains dan teknologi secara ugal-ugalan pada tahun 70-an dan 80-an.

Mereka mengencangkan ikat pinggang di sektor konsumsi untuk “meledakkan” sektor produksi. Indonesia di tahun 2026 justru melakukan sebaliknya: kita mengencangkan ikat pinggang di sektor riset dan pendidikan untuk “meledakkan” sektor konsumsi.

Ini adalah strategi terbalik yang akan mengunci kita dalam status negara berkembang selamanya.

Beban utang Rp832,2 Triliun akan memaksa pemerintah menaikkan pajak di masa depan. Jika tenaga kerja kita hanya memiliki kemampuan rata-rata (karena anggaran pendidikan dikalahkan anggaran makan), mereka tidak akan mampu menanggung beban pajak tersebut. Hasilnya adalah pelarian modal (capital flight) dan stagnasi ekonomi. Kita akan memiliki penduduk yang sehat secara fisik namun tidak kompetitif secara global.

Mereka adalah penonton di tanah airnya sendiri saat ahli-ahli asing masuk mengelola sumber daya kita karena putra daerahnya “hanya disiapkan untuk kenyang, bukan untuk pintar”.

Ekonomi Pengetahuan vs Ekonomi Katering: Perbandingan Daya Saing

Mari kita lihat perbandingan lapangan kerja yang diciptakan.

MBG menciptakan lapangan kerja di sektor katering: juru masak, tukang cuci piring, dan pengantar makanan. Meskipun mulia, pekerjaan ini memiliki nilai tambah yang rendah dan mudah digantikan. Pendapatan di sektor ini cenderung stagnan dan tidak memiliki jenjang karir yang mampu mengangkat derajat ekonomi secara signifikan dalam skala nasional.

Sebaliknya, industri berbasis pengetahuan (knowledge – based economy) yang didorong oleh lulusan beasiswa menciptakan pekerjaan di sektor manufaktur tinggi, desain digital, dan layanan profesional. Sektor-sektor ini adalah kunci untuk memperbaiki neraca perdagangan kita.

Selama ini kita mengimpor teknologi karena kita tidak mampu membuatnya. Dengan mengalihkan dana MBG ke beasiswa teknologi, kita sedang membangun kemandirian jangka panjang. Setiap satu sarjana teknologi yang kita hasilkan adalah satu langkah menjauh dari ketergantungan impor.

Secara geopolitik, bangsa yang kuat adalah bangsa yang otaknya mandiri. Di era perang siber dan kompetisi ekonomi digital, 5 juta sarjana baru adalah “benteng pertahanan” yang jauh lebih kuat daripada 58 juta rakyat yang tergantung pada subsidi makanan.

Utang Rp832,2 Triliun itu harus menjadi investasi untuk kemandirian, bukan untuk memperpanjang ketergantungan.

Jika kita terus memilih jalan “Ekonomi Katering”, kita sebenarnya sedang menyiapkan rakyat kita untuk menjadi pelayan di masa depan, bukan pemimpin.

Kesimpulannya, setiap rupiah yang dialokasikan untuk MBG adalah rupiah yang dicuri dari potensi masa depan seorang calon ilmuwan, insinyur, atau dokter.

Kita harus berhenti terpesona oleh janji-janji perut kenyang yang bersifat sementara. Indonesia butuh ledakan kecerdasan, bukan sekadar ledakan kalori. Anggaran Rp335 Triliun per tahun itu terlalu berharga untuk sekadar “dihabiskan”; ia harus “ditanam” melalui beasiswa agar kelak bisa memanen kemakmuran yang cukup untuk melunasi seluruh utang negara tanpa perlu memeras keringat rakyat lewat pajak yang tidak masuk akal.

Membangun otak melalui beasiswa memberikan jaminan pelunasan utang negara di masa depan, sedangkan menghabiskannya untuk makan siang gratis hanyalah memperpanjang napas populisme sambil menambah beban bunga pinjaman yang akan meledak di tangan generasi mendatang.

Lanjut ke Halaman berikutnya?

KLIK DI SINI UNTUK HALAMAN 3: Revitalisasi UMKM vs Monopoli Katering – Menyingkap Siapa yang Sebenarnya “Kenyang” dari Anggaran MBG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *