PSO Transportasi Publik: Manfaat vs Untung-Rugi bagi Rakyat
Di balik janji heroik tentang transportasi publik, tersimpan dilema nyata: angka besar terlihat mulia, tapi manfaatnya belum tentu sampai ke rakyat. Tanpa pengawasan dan target yang jelas, janji itu hanyalah gema kosong yang menipu mata.
Gelombang Anggaran vs Jejak Rakyat
Dari Rp2,3 triliun pada 2018 hingga lebih dari Rp12,2 triliun pada 2024 (Indonesia.go.id), angka ini seperti gelombang yang menjanjikan kesejahteraan.
Namun kenyataannya, banyak keluarga masih harus mengeluarkan 12–16% pendapatan bulanan hanya untuk transportasi sehari-hari (Kompas.id).
Anggaran besar terlihat heroik, tapi apakah riaknya sampai ke kehidupan rakyat yang paling membutuhkan?
Janji Heroik yang Terjebak Retorika
Pernyataan Presiden bahwa Whoosh harus dinilai dari “manfaat untuk rakyat, bukan untung-rugi” terdengar heroik, tapi tanpa target terukur, indikator manfaat, dan mekanisme pengawasan, kata-kata itu hanyalah mantra moral.
Djoko Setijowarno menegaskan bahwa subsidi publik harus dirasakan dalam kualitas layanan dan aksesibilitas, bukan sekadar angka di laporan keuangan (NU Online).
Tory Damantoro menambahkan, tanpa evaluasi nyata, janji heroik bisa menjadi bumerang fiskal yang membebani APBN dan APBD (Detik Travel).
Agus Pambagio mengingatkan bahwa tanpa pengawasan, subsidi publik bisa disalahgunakan sementara rakyat tetap menanggung ongkos tinggi (Detik Travel).
Fakta yang Menohok
Penelitian Nur Budi Susanto (UGM, 2023) menunjukkan bahwa layanan kereta PSO antarkota di Pulau Jawa secara umum sudah memenuhi standar minimum, namun fasilitas dasar seperti CCTV, APAR, penerangan, dan toilet masih banyak kekurangan. Angka besar tidak otomatis menjamin kenyamanan, keamanan, dan akses yang adil bagi masyarakat.
Perspektif Global yang Mengingatkan
Dari OECD hingga Universitas Žilina, pengalaman negara maju menegaskan: angka besar tanpa indikator manfaat, standar layanan, dan monitoring berkala hanyalah simbol heroik yang memukau media, tapi tidak mengubah kehidupan rakyat.
Aldal M. Ø. (2025) menambahkan, di ASEAN transportasi publik masih belum menjadi prioritas mitigasi iklim—peringatan nyata bahwa janji besar tanpa strategi jangka panjang membawa risiko tinggi bagi fiskal negara.
Cahaya di Ujung Rel
Seperti matahari menembus kabut pagi dan menuntun kereta melalui lembah, janji besar hanya berarti jika dampaknya nyata dan dirasakan rakyat. Angka besar, retorika heroik, dan mantra moral hanyalah simbol kosong jika tidak menyentuh kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya kita akan masuk pada bahasan, Anggaran PSO membengkak, janji heroik terdengar mulia, tapi apakah manfaatnya benar-benar sampai ke rakyat atau hanya terserap di atas kertas?

