Soeharto dan Wajah Baru Nasionalisme Indonesia: Kontroversi, Luka, dan Harapan di Ujung Reformasi
Kontroversi di Balik Gelar Pahlawan Nasional
Setiap bangsa memiliki pahlawan, namun tidak semua yang berjasa diangkat menjadi satu. Ketika nama Soeharto kembali disebut dalam daftar usulan gelar pahlawan nasional, perdebatan panjang pun kembali mengemuka.
Akar Kontroversi
Usulan agar Soeharto diberi gelar pahlawan nasional muncul dari sejumlah kelompok masyarakat dan tokoh yang menilai jasa besar sang presiden dalam pembangunan nasional.
Mereka melihat Orde Baru sebagai masa stabilitas ekonomi, percepatan infrastruktur, dan penguatan posisi Indonesia di kancah global.
Peran dan Warisan Pembangunan
Tak bisa dipungkiri, era Soeharto meninggalkan banyak warisan fisik: jalan raya, sekolah, waduk, dan program pertanian yang memperkuat fondasi ekonomi rakyat.
Bagi sebagian generasi, ini adalah kenangan tentang keteraturan dan arah.
Bagi yang lain, ini adalah kenangan tentang kesunyian dan ketakutan.
Awal dari Sebuah Perdebatan Nasional
Ketika wacana ini muncul, masyarakat terbelah.
Ada yang menyebutnya bentuk penghormatan terhadap jasa pemimpin.
Ada pula yang menilai itu sebagai pengkhianatan terhadap semangat reformasi.
Dalam pusaran ini, satu hal menjadi pasti: bangsa ini belum selesai menulis sejarahnya sendiri.
“Kadang bangsa besar bukan yang cepat memaafkan, tapi yang berani berdamai dengan luka.”
Lanjut ke: Suara yang Setuju — Menimbang Jasa dan Stabilitas

