Soeharto dan Wajah Baru Nasionalisme Indonesia: Kontroversi, Luka, dan Harapan di Ujung Reformasi
Suara yang Menolak: Luka yang Belum Sembuh
Bagi sebagian besar aktivis dan korban pelanggaran HAM, pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto adalah bentuk pengingkaran terhadap sejarah kelam bangsa.
Luka Reformasi dan Pelanggaran HAM
Banyak yang menolak karena menilai masa pemerintahan Soeharto sarat dengan pelanggaran HAM: dari peristiwa 1965, pembungkaman kebebasan pers, hingga kekerasan menjelang Reformasi 1998. Luka itu belum sembuh, apalagi dilupakan.
Suara dari Korban dan Keluarganya
Bagi para korban dan keluarga mereka, wacana ini terasa seperti garam yang ditaburkan ke luka lama.
Mereka menuntut keadilan dan pengakuan, bukan penghargaan untuk sosok yang dianggap bertanggung jawab atas penderitaan mereka.
Aktivis dan Gerakan Reformasi
Aktivis reformasi menegaskan bahwa mengangkat Soeharto sebagai pahlawan berarti mengkhianati semangat perubahan yang mereka perjuangkan dengan darah dan air mata.
Mereka menolak pelupaan sejarah yang dikemas dengan narasi “rekonsiliasi nasional”.
“Bangsa yang menutup luka tanpa mengobatinya akan terus berdarah dalam diam.”
Lanjut ke: Di Antara Dua Pandangan — Mencari Jalan Tengah

