Soeharto dan Wajah Baru Nasionalisme Indonesia: Kontroversi, Luka, dan Harapan di Ujung Reformasi
Di Antara Dua Pandangan: Mencari Jalan Tengah
Di tengah pro dan kontra yang membelah opini publik, muncul sekelompok masyarakat yang mencoba mencari jalan tengah — bahwa Soeharto bukan hanya satu warna, dan sejarah tak seharusnya disederhanakan.
Memisahkan Jasa dan Dosa
Bagi kelompok moderat, Soeharto bisa diingat sebagai pemimpin besar tanpa harus menutup mata terhadap kesalahannya.
Penghargaan terhadap jasa pembangunan tak harus berarti penghapusan terhadap catatan pelanggaran HAM.
Pentingnya Kejujuran Sejarah
Sejarah perlu ditulis dengan jujur dan seimbang. Bangsa ini harus belajar menghargai jasa tanpa menutupi luka.
Mengakui dua sisi Soeharto berarti kita dewasa dalam melihat masa lalu, bukan terjebak dalam glorifikasi atau kebencian.
Membangun Rekonsiliasi yang Sejati
Rekonsiliasi sejati bukan datang dari gelar atau simbol, tapi dari keadilan yang dijalankan.
Dari pengakuan kesalahan dan kesediaan untuk memperbaiki.
Bangsa yang berani berdamai dengan masa lalunya akan lebih kuat melangkah ke masa depan.
“Rekonsiliasi bukan soal melupakan, tapi keberanian untuk mengingat tanpa dendam.”
Lanjut ke: Luka, Cinta, dan Harapan di Ujung Reformasi

