Sumpah Pemuda 28 Oktober: Korupsi Pemuda, Integritas, dan Moral Bangsa

Sumpah Pemuda 28 Oktober menjadi momen penting bagi integritas pemuda, moral bangsa, dan kepemimpinan generasi muda.

Namun realita menunjukkan tantangan serius: sejumlah pemuda yang seharusnya menjadi penjaga nilai, justru terseret kasus korupsi pemuda, godaan kekuasaan, dan kepentingan pribadi.

Contohnya, Rajiv, politisi muda Fraksi NasDem, terjerat kasus dana CSR Bank Indonesia dan OJK, serta

Immanuel Ebenezer, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, tertangkap OTT pemerasan sertifikat K3.

Sepanjang 2024–2025, KPK dan Kejaksaan Agung menangani 43 kasus korupsi dengan kerugian negara Rp320,4 triliun.

Kasus ini menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar seremonial, melainkan janji moral yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan integritas yang konsisten.

Pemuda dan Tantangan Janji

Pemuda seharusnya menjadi mercusuar moral bangsa, namun sebagian terseret oleh kepentingan pribadi, tekanan lingkungan, dan godaan materi.

Rajiv dari Fraksi NasDem dan Immanuel Ebenezer dari pemerintahan muda hanyalah sebagian contoh yang mengingatkan kita akan pentingnya nilai luhur generasi muda.

Statistik KPK menegaskan bahwa menjaga integritas bukan sekadar kewajiban simbolik, tetapi tanggung jawab yang memerlukan keberanian dan keteguhan hati.

Dengan demikian, kontradiksi antara janji dan kenyataan menjadi pengingat penting: sejarah menuntut generasi muda mempertahankan komitmen moral, menegaskan identitas, dan menyalakan api perubahan.

Momen peringatan 28 Oktober harus menjadi kesempatan membangun kesadaran dan tindakan nyata, bukan sekadar mengulang kata-kata indah.

Kontradiksi yang Menginspirasi

Sumpah Pemuda menekankan persatuan, tetapi realita menampilkan dinamika yang menantang.

Keputusan yang benar sering bertabrakan dengan godaan sesaat, sehingga integritas dan keberanian diuji.

Pertanyaan kritis muncul: apakah generasi sekarang mampu menepati janji moral, menghadapi tantangan, dan menerapkan nilai luhur secara konsisten?

Fakta-fakta ini seharusnya memicu refleksi dan strategi, bukan hanya peringatan simbolik.

Warisan yang Membimbing Aksi

Sumpah Pemuda bukan sekadar simbol sejarah, melainkan warisan yang memerlukan penguatan melalui tindakan nyata.

Menjaga janji berarti menolak praktik merugikan bangsa, menghadapi tekanan, dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.

Bangsa ini tidak kekurangan pemuda berbakat, tetapi yang paling dibutuhkan adalah mereka yang menepati komitmen, mengedepankan integritas, dan menerapkan kecerdasan secara bijaksana.

Menyalakan Api Inspirasi

Sumpah yang terluka dapat kembali hidup jika pemuda berani menatap sejarah, memetik pelajaran, dan menegaskan komitmen moral.

Dengan berkata: “Inilah tanah airku, ini bangsaku, ini bahasa kita,” pemuda menegaskan identitas sekaligus tanggung jawab.

Mengambil keputusan yang benar bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud nyata dari kesadaran yang membimbing bangsa maju.

Bangsa ini tidak sekadar membutuhkan pemuda cerdas dan berprestasi; yang paling penting adalah mereka yang menegakkan janji, melaksanakan nilai, dan menyalakan nyala integritas.

Sumpah Pemuda bukan sekadar kata, tetapi api yang menuntun bangsa tetap hidup, bermartabat, dan berani menghadapi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *