Gerindra Diguncang Penolakan Kader Daerah atas Rencana Masuknya Budi Arie

Jingga News, (14 /11/2025) — Partai Gerindra tengah menghadapi riak internal setelah muncul penolakan dari sejumlah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) terhadap rencana bergabungnya mantan Menteri Komunikasi dan Informatika sekaligus Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi.

Penolakan ini datang dari berbagai daerah, termasuk Bangkalan, Solo, Tulungagung, Sidoarjo, dan Pati, menandai adanya ketegangan antara elite pusat dan kader akar rumput.

Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menanggapi gejolak tersebut dengan tenang.

Ia menyebut perbedaan pandangan sebagai hal lumrah dalam politik. “Ya namanya dinamika di politik, itu soal tidak menerima, atau ada yang menerima itu kan biasa,” ujarnya.

Namun bagi kader daerah, penolakan bukan sekadar riak, melainkan refleksi atas kekhawatiran mendalam terhadap arah partai.

Kader daerah menilai ada empat alasan utama mengapa mereka menolak keras masuknya Budi Arie:

1. Kekhawatiran gerbong politik baru

Masuknya tokoh besar dianggap berpotensi membawa kelompok baru yang bisa menggeser posisi kader lama.

2. Motif oportunis

Budi Arie dinilai sekadar mencari perlindungan politik pasca tidak lagi menjabat menteri, sehingga langkahnya dianggap tidak tulus.

3. Ketidaksesuaian ideologi

Latar belakang Projo yang dekat dengan Presiden Jokowi dinilai tidak sejalan dengan garis perjuangan Gerindra yang sejak awal mengusung narasi berbeda.

4. Faktor historis perjuangan

Kader lama merasa perjuangan mereka membesarkan partai sejak awal harus lebih dihargai dibanding tokoh yang baru bergabung.

Meski demikian, elite Gerindra menilai riak ini tidak akan mengganggu soliditas partai.

Ketua Umum Gerindra sekaligus Presiden terpilih, Prabowo Subianto, disebut sudah mendengar aspirasi penolakan tersebut dan akan mempertimbangkannya secara bijak.

Dinamika ini memperlihatkan tentang ketegangan klasik dalam partai besar:

  • Elite pusat cenderung melihat perebutan figur sebagai hal biasa dan bagian dari strategi politik.
  • Kader daerah lebih sensitif terhadap isu loyalitas, ideologi, dan distribusi kekuasaan.

Gerindra, sebagai partai besar yang kini memimpin pemerintahan, menghadapi tantangan menjaga soliditas internal.

Penolakan terhadap Budi Arie bukan sekadar resistensi personal, tetapi juga refleksi atas kekhawatiran kader bawah terhadap arah partai.

Jika tidak dikelola dengan baik, riak ini bisa berkembang menjadi gelombang yang mengganggu konsolidasi politik partai Gerindra menjelang agenda pemerintahan baru.

Namun jika aspirasi kader daerah diakomodasi, Gerindra justru bisa memperkuat posisinya sebagai partai yang mendengar suara akar rumput.

Di Senayan, elite menenangkan riak dengan menyebutnya dinamika biasa.

Namun di daerah, suara kader bergemuruh menolak keras masuknya tokoh baru.

Di antara tarik-menarik ini, Gerindra sedang diuji: apakah mampu menjaga keseimbangan antara strategi politik nasional dan loyalitas kader akar rumput.

Seperti ombak yang menghantam karang, riak penolakan ini bisa melukai, tetapi juga bisa menguatkan.

Dan di tengah hiruk-pikuk politik, kita belajar bahwa cinta pada bangsa adalah alasan mengapa perbedaan harus dirawat, bukan ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *