Konferda PDIP Jawa Barat: Jeje Wiradinata dan Tafsir Baru Kepemimpinan

Jingga News, Jakarta, (08/11/2025) – Di tengah riuh rendah politik pasca-Pemilu, PDI Perjuangan kembali menata langkahnya.

Bukan dengan gegap gempita, melainkan melalui Konferensi Daerah (Konferda) Jawa Barat—sebuah ruang sunyi tempat partai menafsir ulang makna kekuasaan dan pengabdian.

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam pengarahan di Sekolah Partai Lenteng Agung, menyampaikan bahwa setiap Konferda harus melahirkan sikap politik yang menjawab persoalan rakyat.

Di setiap konferda selalu ada sikap politik yang diberikan oleh partai untuk menjawab persoalan-persoalan di daerah,” ujar Hasto, seperti dikutip dari laporan Viva.

Ia menegaskan bahwa perjuangan kerakyatan bukan sekadar slogan, melainkan kompas moral yang harus terus diperbarui.

Nama Jeje Wiradinata, mantan Bupati Pangandaran, mencuat sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin DPD PDIP Jawa Barat.

Dalam laporan Ambisius News, disebutkan bahwa Jeje telah mengikuti uji kelayakan bersama sejumlah calon lainnya.

Ia dikenal sebagai figur yang membumi, dekat dengan rakyat pesisir dan petani.

Namun, seperti semua manusia, Jeje juga membawa catatan: opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari BPK RI selama tiga tahun berturut-turut.

Catatan ini menjadi bahan evaluasi internal partai, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menguji kedewasaan dalam menilai rekam jejak.

Jawa Barat bukan sekadar provinsi. Ia adalah medan sejarah, tempat lahirnya gerakan rakyat dan benturan ideologi.

Dalam laporan JPNN, Konferda disebut sebagai wadah peneguhan arah politik partai di tingkat lokal.

Maka, siapa pun yang terpilih nanti, bukan hanya akan memimpin struktur, tetapi juga akan memikul harapan ideologis partai di tanah yang penuh dinamika ini.

Konferda ini bukan hanya tentang siapa yang akan duduk di kursi ketua. Ia adalah cermin: apakah partai masih mampu melihat wajah rakyat di balik angka-angka elektoral? Apakah suara petani di Ciamis dan nelayan di Pangandaran masih terdengar di ruang-ruang rapat partai?

Di tengah dunia yang semakin bising oleh algoritma dan ambisi, Konferda ini menjadi ruang kontemplasi.

Bahwa politik, pada akhirnya, bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang tetap setia pada luka dan harapan rakyat.

Dan di tanah Sunda yang lembut, PDIP kembali belajar berjalan—pelan, tapi semoga tak kehilangan arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *