Pilkades Serentak 2026 Kabupaten Bekasi: Skala Besar, Risiko Besar
Uang, Kekuasaan, dan Desa: Biaya Mahal di Balik Pilkades
politik uang, Pilkades 2026, biaya politik, dana desa, korupsi lokal.
Pilkades sering dipahami sebagai kontestasi politik paling sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi realitas biaya politik yang tidak kecil. Di Kabupaten Bekasi, Pilkades bukan hanya pertarungan gagasan, melainkan juga pertarungan modal.
Menjadi kepala desa berarti mengelola kewenangan besar, termasuk dana desa dan proyek pembangunan. Posisi ini membuat Pilkades menjadi ajang yang mahal sejak awal.
Biaya Politik yang Tidak Pernah Tercatat
Secara formal, Pilkades tidak mengenal kampanye mahal. Namun dalam praktik, calon kepala desa sering mengeluarkan biaya besar untuk sosialisasi, konsumsi, hingga bantuan informal kepada warga.
Biaya ini jarang tercatat dan tidak pernah dilaporkan. Akibatnya, Pilkades berjalan tanpa transparansi keuangan.
Ketika biaya membengkak, kepala desa terpilih menghadapi tekanan untuk mengembalikan modal politik.
Politik Uang yang Sulit Dibuktikan
Politik uang di desa tidak selalu berbentuk amplop. Ia hadir dalam bentuk bantuan, sumbangan kegiatan, atau kepedulian sosial yang waktunya berdekatan dengan pemilihan.
Karena dibungkus norma sosial, praktik ini sulit dibuktikan sebagai pelanggaran.
Namun dampaknya nyata: pilihan politik warga tidak lagi sepenuhnya bebas.
Dana Desa sebagai Target Kekuasaan
Besarnya dana desa menjadikan jabatan kepala desa semakin strategis. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan berisiko dipersepsikan sebagai sumber pengembalian modal.
Ketika kepala desa merasa memiliki “utang politik”, kebijakan pembangunan bisa menjadi bias.
Akibatnya, desa terjebak dalam siklus kepemimpinan transaksional.
Lingkaran Setan Demokrasi Desa
Pilkades mahal melahirkan kepala desa mahal. Kepala desa mahal membutuhkan Pilkades berikutnya yang juga mahal.
Siklus ini merusak esensi demokrasi desa yang seharusnya sederhana dan partisipatif.
Tanpa intervensi negara, lingkaran ini sulit diputus.
Peran Pengawasan dan Penegakan Hukum
Pengawasan Pilkades sering kali fokus pada teknis pemungutan suara, bukan pada aliran uang.
Padahal tanpa pengawasan keuangan, Pilkades hanya adil di permukaan.
Penegakan hukum yang lemah membuat praktik politik uang terus berulang.
Penutup: Demokrasi Desa di Persimpangan Jalan
Pilkades adalah fondasi demokrasi Indonesia. Jika fondasi ini rapuh karena uang dan kepentingan sempit, maka demokrasi nasional ikut terancam.
Seri pertama ini menunjukkan bahwa Pilkades Serentak 2026 di Kabupaten Bekasi bukan sekadar agenda teknis, melainkan pertaruhan besar atas masa depan demokrasi desa.

