Projo: Dari Bayang Jokowi ke Wajah Baru Kebangsaan
Jingga News, Jakarta — Di tengah bergesernya poros politik Indonesia, Budi Arie Setiadi mengguncang panggung nasional lewat pernyataannya tentang Projo.
Organisasi yang dulu dikenal pro-Jokowi itu kini berbenah arah, menyiapkan identitas baru di bawah langit kekuasaan Prabowo Subianto.
Dari rencana perubahan logo hingga kabar kedekatan dengan Partai Gerindra, langkah Projo menjadi simbol pergeseran besar dalam lanskap politik negeri.

Budi Arie: Projo Bukan Pro-Jokowi
Kongres III Projo di Hotel Grand Sahid Jaya, Sabtu (1/11), menjadi panggung perubahan besar.
Ketua Umum Budi Arie Setiadi membuka pidatonya dengan pernyataan yang mengguncang:
“Projo sejak awal bukan singkatan dari Pro-Jokowi. Projo berasal dari bahasa Sanskerta, artinya negeri. Dalam bahasa Jawa Kawi, Projo berarti rakyat.”
Selama satu dekade terakhir, publik mengenal Projo sebagai organisasi relawan paling setia pada Presiden Joko Widodo. Tapi kali ini, Budi Arie menggeser arah. Ia menegaskan bahwa Projo bukan lagi gerakan yang berdiri di bawah bayang seorang tokoh.
“Memang tidak ada singkatan. Media saja yang menulis Projo itu pro-Jokowi karena mudah diucap,” ujarnya sambil tersenyum.
Jejak Digital Masih Menyebut “Pro Jokowi”
Meski sudah menegaskan makna baru, jejak lama masih tertinggal.
Akun resmi DPP Projo di platform X (Twitter) masih menulis bio:
“Akun Resmi Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat PRO JOKOWI (ORMAS PROJO).”
Kontras ini mencuri perhatian publik. Di satu sisi, Budi Arie berupaya membentuk citra baru yang lebih ideologis. Di sisi lain, citra lama masih hidup di ruang digital — seolah kenangan yang sulit dihapus.
Perubahan citra membutuhkan waktu. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa Projo tengah menata ulang dirinya untuk masa depan politik yang berbeda.
Logo Baru, Arah Baru
Budi Arie juga mengumumkan rencana mengganti logo Projo.
Logo lama menampilkan siluet wajah Jokowi di latar merah menyala.
Kini, simbol itu akan diganti dengan lambang baru yang mewakili semangat kebangsaan.
“Kami ingin Projo menjadi rumah bagi rakyat, bukan sekadar simbol figur,” kata Budi Arie.
Pergantian logo ini bukan sekadar soal desain. Ia menandai pergeseran arah politik dan identitas organisasi.
Langkah Politik: Dari Relawan ke Gerakan Rakyat
Perubahan di tubuh Projo bertepatan dengan kabar lain.
Budi Arie disebut akan bergabung dengan Partai Gerindra, partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini menimbulkan tafsir baru dalam peta kekuasaan nasional.
Banyak pihak menilai, keputusan itu menggambarkan pergeseran kekuatan politik setelah era Jokowi. Projo tidak lagi berdiri sebagai mesin relawan, melainkan berusaha menjadi wadah aspirasi rakyat.
Kini, Projo berada di persimpangan sejarah. Antara masa lalu yang penuh loyalitas dan masa depan yang menuntut kemandirian.
Dan di situlah makna sejati kata projo menemukan kembali rumahnya — negeri dan rakyat yang saling mencintai tanpa kultus, tanpa sekat.
Pada akhirnya, kisah Projo bukan sekadar tentang nama, lambang, atau arah politik.
Ini tentang perjalanan panjang sebuah gerakan yang lahir dari cinta pada negeri.
Di tengah perubahan zaman dan pergantian pemimpin, Budi Arie Setiadi mencoba menyalakan kembali api yang dulu menyatukan rakyat — api yang tak menyala karena figur, tapi karena harapan.
Dan mungkin, seperti cinta yang matang oleh waktu, Projo kini belajar mencintai Indonesia dengan cara yang lebih dewasa: tidak lagi memuja sosok, melainkan menjaga makna.
Di antara siluet Jokowi yang memudar dan bayang Prabowo yang semakin jelas, Projo menatap langit baru — dengan keyakinan bahwa rakyatlah yang seharusnya selalu menjadi wajah sejati kekuasaan.

