Jingga News, Bekasi, (06/11/2025) — Bumi Lancang Kuning kembali menatap sejarah kelam kepemimpinan daerah.
Korupsi Gubernur Riau, dugaan pemerasan pejabat, dan APBD defisit bukan hanya soal hukum, tapi luka masyarakat yang berharap pada integritas pemimpin.
Kasus Abdul Wahid, seperti halnya Saleh Djasit, Rusli Zainal, dan Annas Maamun sebelumnya, menjadi pengingat pahit bahwa transparansi, kejujuran, dan tata kelola pembangunan daerah yang baik adalah pondasi yang tak boleh diabaikan.
KPK Getir: Empat Gubernur Riau Terjerat Korupsi, Sejarah yang Terus Berulang
Bumi Lancang Kuning kembali diselimuti kabut keprihatinan.
Korupsi Gubernur Riau Abdul Wahid kembali menoreh tinta kelam dalam catatan kepemimpinan daerah. L
KPK menetapkan Abdul Wahid sebagai tersangka dugaan korupsi dan pemerasan terhadap bawahannya, menambah daftar panjang sejarah kelam yang seharusnya menjadi pelajaran.
“Ini sungguh keprihatinan bagi kami,” ujar Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
“Sudah empat kali Gubernur Riau ditangani KPK karena korupsi. Kasusnya berbeda-beda, tapi polanya berulang. Kami berharap, cukup sampai di sini.”
Lingkaran Korupsi yang Tak Pernah Putus
Nama Abdul Wahid kini berdiri sejajar dengan tiga mantan Gubernur Riau lain yang lebih dulu tersandung kasus korupsi:
- Saleh Djasit, kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran.
- Rusli Zainal, divonis karena suap Pekan Olahraga Nasional.
- Annas Maamun, terseret alih fungsi lahan sawit.
Dalam kasus terbaru ini, KPK menduga Abdul Wahid memeras sejumlah pejabat di Dinas PUPR PKPP Riau.
Bersamanya, dua orang lain turut ditetapkan sebagai tersangka: M. Arief Setiawan, Kepala Dinas PUPR, dan Dani M. Nursalam, Tenaga Ahli Gubernur.
Ironi di Tengah APBD Defisit
Penggeledahan di kediaman Abdul Wahid di Jakarta Selatan menyita uang tunai dalam berbagai mata uang asing, dari pound sterling hingga dolar AS.
Ironisnya, kasus ini terjadi saat APBD Riau defisit, membuat masyarakat semakin merasakan dampak korupsi gubernur Riau.
“Lagi masa prihatin, seharusnya fokus memperbaiki keuangan daerah, bukan menambah beban dengan meminta uang dari staf,” tegas Asep.
“Bangunlah daerah dengan sumber daya yang ada. Bukan malah memperkeruh keadaan dengan perilaku koruptif.”
Bisikan Rindu Riau
Di bawah langit Lancang Kuning, Riau menanti tangan yang tulus, bukan tangan yang gemar menyalahgunakan kekuasaan.
Seperti sungai yang terus mengalir, harapan tetap menetes, menunggu pemimpin yang mampu menebus sejarah kelam ini.

