Soeharto Ditetapkan Pahlawan Nasional: Antara Penghormatan dan Luka Sejarah
Jakarta, JinggaNews.com — Langit Istana Negara tampak teduh pagi itu, 10 November 2025. Namun di antara tepuk tangan dan penghormatan, udara terasa berat.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto — sosok yang sekaligus dipuja dan diperdebatkan dalam sejarah bangsa.
Seremonial di Istana, Riuh di Luar Gerbang
Upacara penganugerahan berjalan khidmat. Para tamu undangan berdiri, beberapa meneteskan air mata. Namun di luar gerbang istana, sejumlah aktivis dan keluarga korban pelanggaran HAM menyuarakan protes.
“Ini bukan soal menolak sejarah, tapi menolak lupa,” ujar salah satu peserta aksi dari KontraS.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Pratikno menegaskan bahwa penetapan Soeharto telah melalui mekanisme resmi dan kajian panjang oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Nasional sesuai UU No. 20 Tahun 2009.
Pakar Bicara: Antara Layak dan Luka
Agus Suwignyo (Sejarawan, UGM) menyebut, “Secara teknis Soeharto memenuhi syarat formal. Tapi kita tidak boleh mengabaikan bayangan panjang dari 1965.”
Slamet Rosyadi (Unsoed) menilai bahwa Soeharto adalah simbol kompleks: “Pembangunan dan pelanggaran, stabilitas dan ketakutan berjalan beriring.”
Zainal Arifin Mochtar (UGM) menyebut keputusan ini sebagai “upaya mencuci dosa Orde Baru.” Gelar pahlawan nasional seharusnya tak hanya soal jasa, tapi juga moral dan jejak kemanusiaan.
Antara Jasa dan Dosa
Soeharto dikenang karena membangun infrastruktur, mengendalikan inflasi, dan membuka jalan bagi industrialisasi. Tapi sejarah juga mencatat: represi politik, pembungkaman media, dan ribuan korban kekerasan negara di era Orde Baru.
Narasi Bangsa yang Belum Usai
Penganugerahan ini bukan sekadar penghormatan formal — ia menjadi cermin dari pertarungan narasi: antara yang ingin menutup luka dan yang menuntut penjelasan.
“Bisakah bangsa yang belum tuntas menulis bab kelamnya benar-benar memuliakan pahlawannya?”
Di antara riuhnya kontroversi, sejarah tetap menunggu kita menatapnya dengan hati yang lembut dan jernih.
Selanjutnya: Kontroversi Gelar Pahlawan Soeharto: Suara Rakyat dan Bayangan Reformasi

