Timor-Leste Resmi Menjadi Anggota ke-11 ASEAN: Dari Pinggiran ke Pusat
Awal Sebuah Harapan
Pada 4 Maret 2011, Timor-Leste mengetuk pintu sejarah. Berdasarkan catatan ASEAN Official Website, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Xanana Gusmão, negeri muda ini mengajukan permohonan resmi ke Sekretariat ASEAN di Jakarta.
Langkah kecil di atas kertas itu sejatinya adalah gema keinginan untuk bersatu dengan keluarga Asia Tenggara, membuka ruang diplomasi, dan menapaki jalan ekonomi. Wikipedia mencatat, saat itu harapan masih seperti percikan api yang menunggu angin keberuntungan.
Evaluasi Panjang dan Ujian Kesiapan
Selama satu dekade berikutnya, ASEAN menurunkan tiga kelompok kerja untuk menilai kesiapan Timor-Leste.
Berdasarkan laporan ASEAN Coordinating Council (2016–2021), negeri ini diuji dari politik–keamanan, ekonomi, hingga sosial–budaya.
Komitmen politiknya tinggi, namun kapasitas administratif dan ekonomi perlu diperkuat. Seperti benih yang menunggu musimnya, Timor-Leste belajar, menyesuaikan, dan bertumbuh, meneguhkan tekadnya untuk menjadi bagian dari komunitas regional.
Persetujuan Prinsip: Cahaya Pertama
Cahaya itu muncul pada 11 November 2022 di Phnom Penh, Kamboja. Berdasarkan dokumen resmi ASEAN, para pemimpin mengeluarkan ASEAN Leaders’ Statement on the Application of Timor-Leste for ASEAN Membership, menerima Timor-Leste secara prinsip.
Negeri ini diberikan status pengamat dan roadmap disusun sebagai peta perjalanan. Sebuah awal, namun juga janji masa depan, di mana kesabaran mulai menuai buahnya.
Menjadi Pengamat Penuh
Setahun kemudian, 5 September 2023, Timor-Leste resmi memiliki pedoman status pengamat penuh.
ASEAN Document Repository (2023) mencatat, negeri ini kini hadir dalam pertemuan tingkat Menteri, SOM, hingga KTT.
Ruang belajar ini memungkinkan Timor-Leste memahami denyut kerja sama regional, menanam akar sebelum menegakkan batangnya di tengah forum internasional.
Jalan Menuju Keanggotaan Penuh
Roadmap menuju anggota penuh disusun dengan cermat: 88 instrumen hukum dan administratif harus diadopsi.
Indonesia dan Malaysia tampil sebagai sponsor utama, memberikan dukungan teknis dan pendanaan.
Menurut The Star Malaysia (6 Februari 2025) dan The Diplomat (Mei 2025), tahapan hampir rampung pada awal 2025.
Harapan kian nyata, seperti matahari yang menembus awan setelah hujan panjang.
Hari Bersejarah: 26 Oktober 2025
Di Kuala Lumpur, dalam KTT ASEAN ke-47, sejarah menulis dirinya kembali.
Menurut New Straits Times dan Reuters (26 Oktober 2025), Instrumen Penerimaan Negara Timor-Leste ditandatangani.
Bendera merah, hitam, dan kuning dengan bintang putih berkibar di antara sepuluh bendera lainnya.
Pernyataan resmi berbunyi: “We warmly welcome the Democratic Republic of Timor-Leste as the 11th member of ASEAN.” Sebuah detik di mana pinggiran menjadi pusat, dan janji panjang menjadi kenyataan.
Integrasi Pasca-Keanggotaan
Setelah diterima, Timor-Leste mulai berpartisipasi penuh dalam forum ASEAN, termasuk East Asia Summit.
Berdasarkan Antara News (Oktober 2025), Sekretariat ASEAN menyiapkan Timor-Leste Integration Support Unit di Jakarta, dengan fokus awal memperkuat ekonomi, hukum, dan digitalisasi pemerintahan.
Negeri muda ini kini siap menjejak di pusat regional dengan percaya diri dan visi yang jelas.
Makna Filosofis: Dari Pinggiran ke Pusat
Perjalanan 14 tahun ini bukan sekadar diplomasi. Ia adalah kisah kesabaran, solidaritas, dan tekad sebuah bangsa muda untuk berdiri sejajar.
Dari 10 menjadi 11, ASEAN kini lebih inklusif. Timor-Leste membawa pesan penting: sejarah bukan hanya milik yang besar, tetapi juga milik mereka yang berani menunggu dengan sabar.
Kesimpulan
Timor-Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN setelah 14 tahun perjalanan. Dukungan Indonesia dan Malaysia menegaskan solidaritas Asia Tenggara.
Dari pinggiran, negeri ini kini berada di pusat, menegaskan bahwa integrasi regional adalah jembatan menuju masa depan bersama.

