Nikuba & Bobibos: Antara Klaim Teknologi, Harapan Publik, dan Luka Kepercayaan
Nikuba terus berdenyut dalam ruang publik Indonesia sebagai kisah antara harapan dan keraguan.
Ia lahir dari bengkel kecil di Cirebon, dibawa oleh Aryanto Misel—lulusan SMP yang diyakini warga sekitar punya kejelian merangkai kabel dan pipa sejak masih muda.
Namun ketika alat ini disebut mampu membuat kendaraan berjalan hanya dengan air, dunia pun menoleh sambil bertanya: apakah ini terobosan, atau sekadar gema dari mimpi yang belum diuji?
Riwayat dan Cara Kerja Nikuba: Dari Bengkel Cirebon ke Perbincangan Nasional
Nikuba berasal dari kata “Niku Banyu,” yang berarti “itu air.”
Istilah ini dijelaskan Aryanto Misel dalam liputan DetikJabar yang menelusuri perjalanan lima tahun risetnya di sebuah bengkel kecil di Cirebon.
Dalam laporan yang sama ia mengungkap bahwa beberapa sepeda motor miliknya rusak selama proses eksperimen, sebelum akhirnya lahir prototipe Nikuba yang ia klaim stabil.
Dalam wawancara eksklusif yang direkam oleh tim DetikOto, Aryanto menjelaskan bahwa Nikuba bekerja menggunakan proses pemisahan hidrogen dan oksigen dari air melalui reaksi elektrolisis.
Hidrogen yang dihasilkan kemudian dialirkan menuju ruang bakar mesin kendaraan, sementara oksigen hasil pemecahan disebutnya disirkulasikan ulang agar reaksi tetap berlangsung.
Liputan DetikJabar juga mencatat bahwa menurut Aryanto, air yang digunakan harus “bebas logam berat” agar reaksi kimia di dalam sel Nikuba tidak terhambat.
Informasi serupa muncul dalam laporan Antara yang menampilkan pengujian lapangan yang dilakukan di Cirebon, di mana Aryanto memperagakan bagaimana satu liter air disebut mampu membawa sepeda motor menempuh perjalanan pulang–pergi antara Cirebon–Semarang.
Harga Nikuba, menurut penjelasan Aryanto kepada jurnalis DetikJabar, berada di kisaran empat setengah juta rupiah untuk satu unit. Bahkan, menurut laporan lain dari DetikOto, alat tersebut pernah dipasang pada tiga puluh satu kendaraan dinas TNI dari Kodam III/Siliwangi, setelah demonstrasi teknis yang ditunjukkan langsung oleh Aryanto kepada jajaran komando.
Nama Aryanto semakin dikenal setelah laporan Kompas Otomotif menyebutkan bahwa ia pernah mendapat undangan untuk mempresentasikan Nikuba di Milan, Italia, kepada sejumlah perusahaan otomotif Eropa yang tertarik dengan fenomena alat pemecah air ini.
Sikap Lembaga Riset dan Kritik Ilmiah
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pernah menyampaikan melalui pemberitaan DetikOto bahwa mereka bersedia memberikan fasilitas uji ilmiah terhadap Nikuba.
Namun pernyataan lanjutan dari Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu, yang disampaikan dalam wawancara di DetikNews, mengungkap bahwa Aryanto belum memberikan izin bagi BRIN untuk membuka dan menguji bagian internal alat secara menyeluruh.
BRIN menilai transparansi teknis mutlak diperlukan agar alat ini dapat dibuktikan secara ilmiah.
Profesor riset BRIN, Deni Shidqi Khaerudini, dalam penjelasan yang dikutip DetikNews menyampaikan bahwa elektrolisis air membutuhkan energi listrik sangat besar.
Ia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan satu kilogram hidrogen dibutuhkan sekitar 39 kilowatt jam listrik pada efisiensi ideal, sedangkan aki sepeda motor pada umumnya hanya menyimpan energi enam puluh watt jam.
Penjelasan ini digunakan sebagai dasar argumen bahwa klaim efisiensi energi Nikuba perlu diuji ulang karena berpotensi melanggar prinsip dasar termodinamika.
Peneliti BRIN lainnya, Eniya Listiani Dewi, dalam wawancara yang dikutip DetikOto, menjelaskan bahwa jika elektroda yang dipakai adalah stainless steel dan cairan aktifnya menggunakan senyawa semisal natrium klorida, natrium hidroksida, atau kalium hidroksida, maka reaksi yang terjadi kemungkinan bukan elektrolisis air murni, melainkan reaksi korosi yang menghasilkan gas campuran yang tidak stabil.
Menurutnya, hal ini dapat menimbulkan risiko teknis bila gas tersebut dialirkan langsung ke mesin pembakaran internal.
Paten, Potensi Bisnis, dan Tantangan Validitas
Dalam wawancara yang dirilis DetikJabar, Aryanto menyebut ia tengah mengurus paten Nikuba agar teknologinya mendapat perlindungan hukum.
Namun hingga laporan terakhir beredar, belum ada publikasi resmi mengenai nomor paten atau dokumen teknis yang sudah disahkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
Soal pendanaan, Aryanto menjelaskan dalam liputan DetikOto bahwa ia membutuhkan modal besar untuk mengembangkan riset Nikuba dan tidak keberatan apabila hak cipta temuannya dibeli oleh investor asing.
Dalam pernyataan tersebut ia bahkan menyebut nominal lima belas miliar rupiah sebagai angka yang diusulkan untuk pelepasan hak teknologi, dengan alasan percepatan produksi dan perluasan riset.
Meski begitu, para peneliti energi—yang pendapatnya kembali dicatat oleh DetikNews—menilai bahwa tanpa data uji laboratorium yang terbuka, Nikuba akan sulit memasuki pasar global.
Selain syarat keamanan hidrogen yang ketat, investor juga memerlukan efisiensi energi yang dapat dibuktikan melalui laporan independen.
Skala produksi massal pun akan menuntut standarisasi teknis yang belum dapat dipastikan selama alat ini masih bersifat tertutup.
Tinjauan Risiko & Validitas
Nikuba menghadapi tantangan besar di ranah sains dan penerimaan teknis:
- Risiko Keamanan: Hidrogen sangat reaktif, dan bila sistem pipa atau integrasi dengan mesin tidak aman, bisa berbahaya.
- Efisiensi Energi: Karena elektrolisis butuh listrik, ada pertanyaan seberapa “energi bersih” proses ini jika listrik berasal dari sumber fosil atau aki motor.
- Transparansi Ilmiah: Tanpa uji independen dan dokumentasi terbuka (laporan lab, paten, peer review), klaim Nikuba tetap dalam ranah misteri dan skeptisisme.
- Komersialisasi & Skalabilitas: Membuat unit Nikuba di skala besar bukan hanya soal produksi alat, tetapi juga infrastruktur pasokan air, listrik, dan mekanik untuk integrasi ke kendaraan secara aman.
Nikuba, bagaimanapun, adalah gema dari sebuah harapan: bahwa dari bengkel sederhana pun bisa lahir mimpi yang menantang hukum sains.
Ia mungkin belum sempurna, mungkin masih tertutup kabut skeptisisme ilmiah, tetapi ia adalah tanda bahwa manusia tak pernah berhenti membayangkan dunia yang lebih mudah, lebih murah, lebih terang.
Dan suatu hari nanti—entah melalui Nikuba atau penemuan lain—barangkali mimpi itu menemukan bentuknya.
→ Halaman berikutnya akan mengeksplorasi Bobibos: mekanismenya, klaim dari jerami, dan kritik ilmiah yang menyertainya.

