Nikuba & Bobibos: Antara Klaim Teknologi, Harapan Publik, dan Luka Kepercayaan
Di tengah naik-turunnya harga energi yang terus menguji napas rakyat kecil, dua nama melompat dari tepian wacana menjadi percakapan nasional: Nikuba dan Bobibos.
Publik mulai mengenal Nikuba ketika alat pengubah air menjadi bahan bakar itu dipresentasikan oleh Aryanto Misel, warga Lemahabang Wetan, Kabupaten Cirebon, berdasarkan laporan Detik pada 2022.
Sementara Bobibos muncul dari tangan seorang M. Ikhlas Thamrin, seorang pengembang energi nabati dari Jonggol, Bogor, yang menurut laporan Antara telah meneliti jerami selama lebih dari satu dekade.
Keduanya menyalakan bara harapan: energi murah, limbah jadi manfaat, dan kemandirian yang lama dirindukan.
Namun di balik cahaya itu, ada ruang gelap yang menuntut penjelasan lebih rinci — tentang riwayat, metode, uji laboratorium, serta posisi ilmiah yang sebenarnya.
Gelombang Teknologi Penantang Energi Konvensional
Kemunculan Nikuba dalam Lintasan Waktu & Tempat
Riwayat Nikuba bermula dari bengkel kecil di Cirebon. Aryanto, yang disebut Detik sebagai lulusan SMP dengan pengalaman panjang di dunia otomotif, mengaku memulai riset sekitar 2018 setelah lima tahun bereksperimen dengan elektrolisis air.
Media Disway menggambarkan tahap awal Nikuba sebagai perangkat penghemat BBM sebelum berkembang menjadi klaim bahan bakar berbasis hidrogen.
Nama Nikuba — singkatan dari “Niku Banyu” yang berarti “itu air” — muncul dalam pemberitaan nasional ketika Kodam III/Siliwangi melakukan uji pakai terbatas pada kendaraan operasional.
Dari Cirebon, langkah Aryanto merayap hingga Eropa; laporan Detik pada 2023 menyebut ia diundang ke Milan untuk mempresentasikan teknologinya kepada pihak otomotif Italia.
Walau begitu, riwayat ilmiah Nikuba tidak berjalan selancar kisah populernya.
Tempo mencatat bahwa BRIN mengirim tim peneliti pada 2022 untuk mengevaluasi klaim-klaim Nikuba.
Di sisi lain, sejumlah akademisi seperti dosen Teknik Mesin ITB mengingatkan bahwa sistem produksi hidrogen tanpa kontrol temperatur dan tekanan berpotensi berbahaya bila dipasang pada kendaraan standar.
Kelahiran Bobibos dari Laboratorium Mandiri di Jonggol
Jika Nikuba lahir dari eksperimen elektrolisis, maka Bobibos muncul dari laboratorium biokimia skala kecil di Jonggol.
Ikhlas Thamrin, sebagaimana dilaporkan Antara dan Kabar Energi pada 2025, telah meneliti jerami sebagai bahan bakar sejak lebih dari 10 tahun lalu.
Peluncuran resminya dilakukan pada tanggal 2 November 2025, sebagaimana dicatat Detik, dan langsung menyita perhatian karena klaim bahwa Bobibos—bahan bakar cair dari jerami—memiliki angka oktan setara RON 98.1.
Klaim ini merujuk pada hasil pengujian Lemigas yang diberitakan Monitor Indonesia, meski hasil lengkapnya masih belum dipublikasikan karena Ikhlas menyebut adanya perjanjian kerahasiaan dengan sejumlah pihak.
Bahan bakunya sederhana: jerami yang biasanya dibakar petani.
Namun prosesnya tidak sesederhana videonya yang viral; laporan Disway menjelaskan bahwa Bobibos melalui lima tahap proses biokimia dalam mesin ekstraksi khusus yang dibuat Ikhlas sendiri.
Dari satu hektare sawah, ia memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 3.000 liter bahan bakar nabati ini.
Riwayat Bobibos kemudian masuk ke ranah birokrasi energi setelah Direktorat Jenderal Migas menyatakan bahwa produk tersebut telah mengajukan uji resmi namun hasil teknisnya belum dapat diumumkan.
Radar Bogor melaporkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan berencana melakukan pilot project produksi di Lembur Pakuan.
Mengapa Dua Teknologi Ini Viral?
Mengamati perjalanan Nikuba dan Bobibos, ada pola yang cepat terlihat.
Keduanya muncul di tengah tekanan ekonomi, ketergantungan pada impor bahan bakar, dan kegelisahan petani yang selama ini tidak memiliki nilai tambah dari limbah panen.
Narasi “penemu lokal yang mengalahkan teknologi besar” selalu menjadi magnet, terlebih pada bangsa yang memiliki sejarah inovasi grassroots.
Namun viralnya teknologi ini bukan hanya karena harapan, tetapi karena ketidakjelasan data teknis.
Ketika publik hanya menerima video dan testimoni, sementara laporan uji laboratorium tidak sepenuhnya dibuka, ruang kosong itu diisi oleh spekulasi, antusiasme, dan keraguan yang tumbuh bersamaan.
Justru karena itu, riwayat kemunculan Nikuba dan Bobibos perlu dicatat lengkap — bukan sekadar siapa penemunya, tetapi bagaimana proses ilmiahnya, apa hasil uji resminya, serta siapa lembaga yang bertanggung jawab memverifikasi.
Di balik segala riuh inovasi ini, ada getaran halus yang membuat kita tetap percaya bahwa manusia selalu mencari cahaya di antara kelamnya kebutuhan.
Nikuba dan Bobibos mungkin bukan jawaban final, namun keduanya adalah puisi kecil tentang keberanian: keberanian bermimpi, bereksperimen, dan berharap. Pada akhirnya, sainslah yang akan mengukuhkan mana yang akan menjadi nyala peradaban, dan mana yang tinggal sebagai jejak angin yang pernah lewat.
→ Halaman berikutnya membedah Nikuba secara teknis: metode, kandungan gas, klaim energi, hasil uji, serta posisi ilmiah yang terverifikasi.

