Jejak Musim Gugur di Cologne: Ketika Sujud Menjadi Bahasa Kepemimpinan
Di bawah langit musim gugur yang teduh, langkah Anies Baswedan menyusuri kota tua Cologne.
Hari itu, Rabu, 22 Oktober 2025, menjadi potret perjalanan intelektual sekaligus spiritual.
Sebelum berbicara tentang bangsa, ia terlebih dahulu menyapa Tuhannya.
Cologne Central Mosque berdiri anggun, kubah kacanya memantulkan cahaya lembut sore hari.
Di ruang biru berkaligrafi emas, ia menunaikan salat berjamaah bersama masyarakat Muslim setempat.
Kekhusyukan itu menjadi jeda spiritual di tengah padatnya agenda intelektual.
Sujudnya menghadirkan harmoni antara iman dan ilmu, antara hening dan gerak.
Dialog Peradaban dan Diaspora
Usai beribadah, ia menjelajahi sudut Cologne, kota tua yang berdenyut antara sejarah dan modernitas.
Dari tepi Sungai Rhein hingga menara Katedral Gotik, setiap langkahnya menandai dialog peradaban.
Kehadirannya di Jerman bukan sekadar lawatan biasa. Ia datang dalam program “Halo Dialog Diaspora” di Universität Duisburg–Essen. Di sana, ia berdiskusi dengan mahasiswa dan diaspora Indonesia.
Tema yang diangkat meliputi pendidikan, kebangsaan, dan kiprah anak bangsa di luar negeri.
Ia menekankan pentingnya menjaga identitas dan integritas. Namun, ia juga menegaskan perlunya membuka diri terhadap ilmu dan pengalaman global.
Dialog itu menjadi ruang tumbuh, tempat akar dan sayap bertemu dalam kesadaran bersama.
Menyulam Akar dan Sayap
Perjalanan intelektual berlanjut ke Wageningen University & Research dan University of Amsterdam.
Di dua kampus ternama Belanda itu, ia berbagi pandangan tentang demokrasi dan moralitas publik.
Ia menekankan peran generasi muda menjaga nilai kebangsaan di tengah tantangan global.
Setiap kata mengalir sebagai ajakan untuk merawat rumah bersama.
“Belajar di luar negeri bukan berarti meninggalkan akar,” ungkapnya penuh makna.
“Justru dari jauh, kita lebih memahami arti rumah — Indonesia.”
Pesan itu menjadi jembatan antara pengalaman global dan cinta tanah air.
Ia menghadirkan pandangan bahwa ilmu dan iman dapat berjalan seiring.
Bahwa moralitas publik dan demokrasi tumbuh dari kesadaran kolektif.
Harmoni Sujud dan Perjuangan
Langkahnya di Cologne menjadi simbol kepemimpinan yang menyatu dengan kerendahan hati.
Seorang pemimpin sejati tidak hanya berbicara di podium.
Ia juga menundukkan kepala dalam sujud, menyatukan iman, ilmu, dan perjuangan.
Hari itu, Cologne menjadi cermin: bahwa bangsa dibangun dengan doa dan dialog.
Bahwa masa depan lahir dari pertemuan spiritualitas dan juga pengetahuan.
Bahwa rumah bernama Indonesia selalu hadir, bahkan di tanah jauh.

