Rismon Holan Sianipar, “Sang Penjaga Nalar” – Profil Tokoh Akademisi & Edukator Digital

Jingga News, (11/11/2025) — “Saya bukan aktivis, bukan oposisi. Saya hanya ingin menjaga nalar.” — Rismon Holan Sianipar

Rismon Hasiholan Sianipar bukan sekadar akademikus. Ia adalah pengamat kritis yang menekankan pentingnya ilmu dan nalar.

Dari ruang riset hingga ruang digital publik, ia menegaskan satu hal: pengetahuan harus bisa diuji dan dibagikan. Figur ini menyeimbangkan ketelitian ilmiah dengan keberanian berbicara, menempatkan prinsip transparansi sebagai kompasnya.

Jejak Pendidikan dan Riset

Rismon lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 25 April 1977, dalam keluarga Batak yang menekankan nilai ilmu dan ketekunan.

Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak pendiam yang gemar membongkar radio rusak dan membaca buku teknik.

Ketekunan pada hal-hal yang dianggap “sunyi” ini membentuk fondasi karakter intelektualnya.

Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 122406 Pematang Siantar, lalu SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Pematang Siantar.

Minat membaca yang luas, mulai dari teknik, matematika, hingga filsafat sains, membentuk fondasi metodologi risetnya yang sistematis dan kritis.

Tahun 1995, Rismon diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Teknik Elektro. Ia menyelesaikan Sarjana Teknik (S.T) pada 1998 dan melanjutkan Magister Teknik (M.T) hingga 2001, dengan penelitian fokus pada analisis sinyal dan transformasi wavelet, dibimbing oleh Prof. Adhi Soesanto dan Prof. Thomas Sri Widodo.

Rismon kemudian melanjutkan studi di Universitas Yamaguchi, Jepang, bidang teknik multimedia dan keamanan digital. Ia memperoleh M.Eng pada 2004 dan Dr.Eng pada 2007, dengan disertasi yang menggabungkan pemrosesan citra digital dan kriptografi.

Selama studi di Jepang, Rismon aktif dalam proyek penelitian yang menekankan integritas data dan keamanan komunikasi, tema yang kelak menjadi salah satu pilar keahliannya.

Selain akademik, Rismon dikenal sebagai peneliti produktif di bidang forensik multimedia dan keamanan digital.

Publikasinya tercatat di SINTA dan ResearchGate, dan ia membimbing mahasiswa di Universitas Mataram, membagikan metodologi ilmiah yang ketat sekaligus mendorong keberanian berpikir kritis.

Edukator Digital dan Penjaga Nalar

Setelah kembali ke Indonesia, Rismon memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia mendirikan kanal Balige Academy, yang membahas tutorial teknik, analisis sinyal, keamanan digital, serta isu sosial berbasis data.

Kanal ini menjadi ruang publik yang mengajak masyarakat berpikir kritis dan memahami dasar ilmiah di balik fenomena digital.

Ia juga terlibat dalam penulisan buku Jokowi’s White Paper, kolaborasi dengan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma, yang mengulas dokumen publik dan isu forensik digital.

Buku ini memicu diskusi nasional karena menyentuh persoalan transparansi dan integritas data, dan Rismon menekankan bahwa tujuan karya ini adalah edukasi dan literasi digital masyarakat.

Dalam kehidupan pribadi, Rismon hidup dalam ritme riset dan edukasi bersama istrinya, Vivian Siahaan, seorang penulis produktif yang karya-karyanya mencakup buku fiksi, esai, dan kolom literasi.

Keduanya menciptakan lingkungan rumah tangga yang memadukan ilmu pengetahuan dan kreativitas literer.

Menulis bagi saya adalah cara memahami dunia dan membagikan cerita. Bersama Rismon, kami saling menguatkan antara riset dan literasi.”
— Vivian Siahaan

Aktivitas Digital dan Gugatan

Nama Rismon mencuat ketika ia menganalisis dokumen akademik Presiden Joko Widodo di media sosial.

Analisis ini bersifat ilmiah dan transparan menurut penjelasannya, menyoroti kejanggalan format dan metadata dokumen publik.

Pada November 2025, ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya terkait dugaan pencemaran nama baik dan manipulasi digital.

Sebagai respons terhadap penetapan tersangka, Rismon menyatakan rencananya untuk menggugat balik Polri dengan klaim nilai yang cukup besar.

Perlu dicatat, gugatan ini belum diajukan secara resmi dan masih berupa rencana yang disebarkan secara publik.

Rp126 triliun bukan soal uang. Itu soal harga dari reputasi yang dirusak oleh negara sendiri,” ujarnya, menjelaskan konteks klaim tersebut.

Melalui aktivitas ini, Rismon menegaskan bahwa akademisi modern tidak hanya berkutat di laboratorium, tetapi juga hadir di ruang publik digital untuk menguji, mengedukasi, dan membuka dialog.

Fokus Riset dan Publikasi

Rismon menekankan pentingnya metodologi yang jelas dan akurat dalam setiap penelitian. Publikasinya mencakup:

  • Pemrosesan citra digital untuk deteksi manipulasi dokumen
  • Kriptografi untuk keamanan komunikasi digital
  • Analisis sinyal non-stasioner dan wavelet untuk aplikasi teknik

Ia aktif membimbing mahasiswa dengan pendekatan integratif: menggabungkan teori, eksperimen, dan analisis kritis.

Banyak mahasiswa menilai bimbingannya memberi pemahaman tidak hanya pada teknik, tetapi juga etika penelitian dan keberanian berpikir kritis.

Kehadiran Digital dan Publikasi Kolaboratif

Rismon menekankan bahwa edukasi digital bukan hanya soal mengajar, tetapi membangun komunitas belajar.

Melalui kanal Balige Academy dan kolaborasi buku Jokowi’s White Paper, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bisa menjadi alat untuk mendorong transparansi dan pemikiran kritis masyarakat.

Ilmu harus bicara. Dan ketika ilmu bicara, nalar publik akan tetap terjaga,” tuturnya.

Kehadirannya di ruang digital menjadi simbol bahwa akademisi modern dapat menghadirkan ilmu, nalar, dan integritas ke ruang publik—menginspirasi masyarakat untuk berpikir kritis dan tetap memegang prinsip transparansi.

Dan di antara riuh dunia yang kian bising oleh tafsir, Rismon Holan Sianipar tetap berjalan dengan tenang—menjaga nalar seperti menjaga api kecil di malam panjang. Sebab baginya, berpikir adalah bentuk paling setia dari cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *