Pelawak Mahal, Manggung di Televisi. Pelawak Murah, Ngantor di Parlemen
Pelawak Mahal, Manggung di Televisi. Pelawak Murah, Ngantor di Parlemen
“Dari Lawakan ke Parlemen: Demokrasi Kita Sedang Jadi Dagelan?”
Politik seharusnya menjadi ruang serius untuk mengatur nasib bangsa. Namun, apa jadinya jika panggung demokrasi berubah menjadi panggung lawakan murahan? Editorial ini membahas secara ilmiah dan filosofis tentang fenomena politik dagelan di Indonesia—dari masuknya figur populer tanpa kapasitas, peran media yang menjadikan politik sebagai hiburan, hingga dampak serius bagi rakyat.
Melalui analisis Aristoteles, Hannah Arendt, Neil Postman, hingga Ignas Kleden, kita diajak memahami bagaimana demokrasi bisa kehilangan substansinya dan berubah menjadi tontonan belaka. Editorial ini juga menawarkan jalan keluar: pentingnya pendidikan politik rakyat, peran partai politik, serta kesadaran kritis pemilih.
💡 Tonton sampai habis, karena di dalamnya ada uraian mendalam yang akan membuka mata kita tentang betapa seriusnya tragedi demokrasi yang sedang kita alami.
👉 Jangan lupa like, komentar, subscribe, dan bagikan video ini agar semakin banyak orang ikut berpikir kritis demi perubahan bangsa.
politik indonesia, politik dagelan, demokrasi indonesia, filsafat politik, kritik politik, editorial politik, politik hiburan, komedi politik, neil postman amusing ourselves to death, aristoteles zoon politikon, hannah arendt ruang publik, ignas kleden demokrasi, politik indonesia terbaru, editorial youtube, politik dan rakyat, pendidikan politik, kesadaran kritis rakyat, partai politik indonesia, politik lucu atau tragis, demokrasi tanpa akal budi

