Kritik Idrus Marham ke Anies Baswedan, Mazhar Gerakan Rakyat Bekasi: Pejabat Jangan Alergi Kenyataan!

Jingga News, Bekasi — Sorotan tajam mantan Sekjen Golkar Idrus Marham terhadap video Instagram Anies Baswedan yang dianggap “sekadar retorika” memicu reaksi keras dari daerah.

Tanggapan menohok datang dari Tokoh Masyarakat dan Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Bekasi, Mazhar, S.E., yang menilai kritik elite pusat terhadap suara-suara kritis merupakan bentuk kepanikan dan sikap alergi terhadap realitas sosial.

Saat ditemui oleh pihak Jingga News, Mazhar menyatakan bahwa apa yang disampaikan tokoh seperti Anies Baswedan di media sosial adalah potret nyata dari kegelisahan masyarakat bawah, bukan sekadar bualan politik atau upaya menakut-nakuti.

“Justru Elite yang Bikin Rakyat Cemas”

Mazhar mempertanyakan standar logika elite politik yang kerap mencap kritik sebagai narasi yang membuat cemas publik. Menurutnya, situasi ekonomi di akar rumput saat ini memang sedang tidak baik-baik saja.

“Lucu juga kalau rakyat diminta terus optimis, tapi pejabatnya alergi pada kenyataan. Kalau harga naik, daya beli turun, PHK meningkat, rupiah melemah, lalu semua itu disampaikan ke publik… itu disebut ‘membuat cemas’?” cetus Mazhar dengan nada heran kepada Jingga News.

Bagi politikus asal Kabupaten Bekasi ini, sumber kecemasan rakyat yang sesungguhnya bukanlah kritik dari para tokoh, melainkan kelalaian pemerintah dalam mengeksekusi kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Justru yang bikin rakyat cemas itu ketika elite sibuk meredam kritik dibanding menyelesaikan masalah. Demokrasi bukan panggung tepuk tangan untuk penguasa. Kritik bukan ancaman negara,” tegas Mazhar.

Sentil Pejabat yang Sibuk Cari Panggung

Lebih lanjut, Mazhar mengibaratkan kritik sebagai sebuah “alarm” penting agar penguasa tidak terlena dengan data-data di atas kertas yang sering kali berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.

Kritik adalah alarm agar pemerintah tidak terlalu nyaman hidup di menara statistik sambil lupa suara dapur rakyat,” ujarnya.

Ia juga melayangkan sindiran keras kepada oknum pejabat yang dianggapnya lebih sibuk menjaga citra diri dan mencari muka di hadapan atasan ketimbang memikirkan nasib masyarakat yang sedang kesulitan.

Aneh kalau rakyat diminta optimis terus, sementara pejabat sendiri tiap hari sibuk cari panggung dan menjilat tuannya. Kalau semua orang dipaksa bicara manis demi menjaga ‘psikologis pasar’, lalu siapa yang bicara jujur soal psikologis rakyat?” tambah Mazhar.

Menutup pernyataannya, Mazhar mengingatkan bahwa retorika politik atau imbauan untuk selalu optimis tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah mendasar, yaitu kebutuhan isi perut masyarakat.

“Karena perut kosong tidak bisa dihibur hanya dengan narasi optimisme,” pungkasnya menyudahi wawancara bersama Jingga News.

Duduk Perkara Polemik

Sebelumnya, mantan Sekjen Golkar Idrus Marham mengkritik keras konten video terbaru di Instagram Anies Baswedan yang mengulas kondisi sosial-politik nasional. Idrus menilai narasi Anies terlalu teoritis, menggunakan bahasa yang indah namun minim solusi praktis, serta berpotensi membelah opini publik pasca-pemilu.

Namun dengan mencuatnya suara dari tokoh daerah seperti Mazhar, S.E., diskursus ini bergeser menjadi benturan cara pandang: antara elite pusat yang menuntut narasi penyejuk, dan representasi daerah yang menuntut kejujuran atas realitas di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *