Membongkar Korupsi MBG: Mengapa Koperasi Sekolah Lebih Baik dari Vendor?

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar urusan perut kenyang. Ini adalah soal kemandirian bangsa. Jika kita terus bergantung pada vendor, kita sedang membangun fondasi ekonomi yang rapuh. Halaman terakhir ini menegaskan mengapa koperasi sekolah adalah harga mati bagi masa depan ekonomi dan gizi Indonesia.


Ekonomi Sirkular: Uang Rakyat Kembali ke Rakyat

Anggaran triliunan rupiah untuk MBG adalah uang pajak dari rakyat. Sangat tidak adil jika uang ini hanya numpang lewat di desa lalu terbang kembali ke kantong pemilik vendor di kota besar. Ini adalah pemiskinan struktural yang harus dihentikan.

Dengan koperasi sekolah, uang itu menetap di desa. Ia berputar dari tangan sekolah ke tangan petani, peternak, dan pedagang pasar lokal. Uang yang berputar di desa akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat bawah. Inilah ekonomi sirkular yang nyata.

Setiap butir telur yang dibeli dari peternak desa adalah nafas bagi ekonomi lokal. Kita tidak hanya memberi makan anak, tapi juga memberi makan ekonomi desa yang selama ini sering terabaikan.

Mengembalikan Koperasi sebagai Soko Guru Bangsa

Kita sering berteriak tentang ekonomi Pancasila, tapi praktiknya seringkali kapitalistik. Program MBG lewat vendor besar adalah contoh nyata pengkhianatan terhadap cita-cita koperasi. Kita justru memperkuat monopoli daripada membangun kolektif.

Menjadikan koperasi sekolah sebagai pengelola MBG adalah cara terbaik menghidupkan kembali marwah ekonomi kerakyatan. Koperasi bukan lagi sekadar nama di buku pelajaran. Ia menjadi mesin ekonomi yang hidup, bergerak, dan menghidupi ribuan orang di setiap sekolah.

Jika koperasi sekolah kuat, sekolah menjadi mandiri. Keuntungan atau SHU bisa digunakan untuk beasiswa atau memperbaiki atap kelas yang bocor. Inilah kemandirian yang kita impikan.

Memutus Rantai Ketergantungan pada Elit

Selama ini daerah selalu bergantung pada keputusan pusat dan proyek-proyek besar. Skema vendor memperpanjang rantai ketergantungan ini. Jika vendor bermasalah atau korupsi, ribuan anak di daerah langsung terkena dampaknya tanpa bisa melawan.

Koperasi sekolah memutus rantai itu. Kedaulatan ada di tangan warga sekolah. Mereka tidak perlu menunggu instruksi vendor untuk memastikan ayam yang dimasak hari ini segar. Mereka punya kendali penuh atas piring anak-anak mereka.

Kemandirian adalah pertahanan terbaik. Dengan koperasi, program MBG tidak akan mudah goyah oleh permainan politik elit di tingkat pusat. Rakyat menjaga programnya sendiri karena mereka merasakan langsung manfaat ekonominya.

Warisan Kejujuran untuk Generasi Emas

Tahun 2045 kita ingin memiliki Generasi Emas. Tapi emas tidak bisa dibentuk dari makanan sisa korupsi. Emas dibentuk dari gizi yang bersih dan teladan kejujuran yang mereka lihat setiap hari di sekolah.

Saat siswa melihat orang tua dan gurunya mengelola makanan mereka dengan jujur, mereka belajar tentang integritas. Mereka belajar bahwa mencari rezeki tidak harus dengan menipu. Pelajaran ini jauh lebih berharga daripada rumus matematika di dalam kelas.

Kita sedang menanam benih karakter. Jika fondasinya adalah kejujuran koperasi, maka masa depan Indonesia akan diisi oleh pemimpin-pemimpin yang tahu cara menjaga amanah. Bukan pemimpin yang mahir mencari celah dalam kontrak pengadaan.

Manifesto Penutup: Pilihan di Tangan Kita

Kita sampai pada titik kesimpulan yang tegas. Hentikan MBG berbasis vendor yang hanya menjadi ladang korupsi tersembunyi. Skema itu adalah penghinaan bagi gizi anak dan pengkhianatan bagi ekonomi rakyat kecil.

Alihkan seluruh mandat dan anggaran kepada dapur sekolah berbasis koperasi. Percayalah pada kejujuran rakyat kecil. Mereka mungkin tidak punya ijazah manajemen katering internasional, tapi mereka punya hati dan rasa malu sosial.

Rp15.000 harus menjadi 100% hak anak dan 100% keberkahan bagi petani. Jangan biarkan satu rupiah pun mengalir ke kantong pejabat rakus dan pengusaha serakah. Mari kita kawal program ini bukan sebagai proyek, tapi sebagai gerakan suci untuk menyelamatkan masa depan bangsa.


AKHIR ANALISIS: DAULAT RAKYAT ATAS GIZI

“Kejujuran orang kecil adalah benteng terakhir yang dimiliki bangsa ini. Mari kita titipkan masa depan gizi anak-anak kita di sana.”

Selesai – Bagian 1 Sampai 5


↑ Kembali ke Daftar Isi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *