Polemik Whoosh: Bayangan Utang dan Harapan Rakyat

Harapan di Rel Baja

Meski beban terasa berat, pemerintah tetap menegaskan manfaat proyek ini: mengurangi kemacetan di koridor Jakarta–Bandung, menekan emisi karbon, dan menghidupkan ekonomi kawasan di sepanjang lintasan.

Setiap keberangkatan Whoosh dari Halim menuju Padalarang menjadi simbol harapan, bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju — bukan sekadar penonton di peta global teknologi.

Apakah kecepatan ini benar-benar untuk mereka? Atau hanya untuk mereka yang mampu membeli tiketnya?

Utang, Warisan, dan Waktu

Whoosh kini menjadi warisan besar di tangan Presiden Prabowo.

Jokowi membangun mimpi, Prabowo menanggung konsekuensinya.

Dan rakyat — seperti biasa — menunggu hasil akhirnya.

Jika proyek ini gagal, ia akan menjadi peringatan abadi bahwa

kecepatan tanpa perhitungan bisa membawa bangsa tergelincir dalam utang panjang.

Di ujung rel, waktu menjadi hakim paling adil.

Apakah Whoosh akan terus melesat membawa harapan, atau melambat di bawah beban tanggung jawab berat — sejarah yang akan menjawabnya.

Di antara gemuruh roda dan angin yang menampar wajah, harapan dan tanggung jawab berciuman, menyisakan aroma mimpi bagi bangsa yang belajar mencintai masa depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *