Polemik Whoosh: Bayangan Utang dan Harapan Rakyat
Jingga News, Bekasi, (06/11/2025) — Di balik gemuruh roda baja yang melesat di jalur Jakarta–Bandung, gema pertanyaan tentang utang Whoosh, tanggung jawab, dan masa depan rakyat Indonesia terus bergema.
Kereta cepat Whoosh — kebanggaan era Presiden Joko Widodo — kini melaju di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Namun di rel kemajuan itu, muncul pertanyaan: seberapa mahal harga “kecepatan” bagi sebuah bangsa?
Dari Mimpi Megah ke Realita Berat
Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung dibangun oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), hasil kolaborasi Indonesia dan Tiongkok.
Ia lahir dari mimpi besar: mempersingkat jarak, mempercepat waktu, dan membawa Indonesia ke era transportasi modern.
Namun di balik keindahan stasiun megah dan rel baja, tersimpan biaya fantastis lebih dari 7,3 miliar dolar AS, sebagian besar dari pinjaman luar negeri.
Visi besar Jokowi kini berhadapan dengan realita: beban finansial yang berat, target penumpang belum tercapai, dan utang jangka panjang menanti pelunasan.
“Ini bukan hanya proyek transportasi, tapi juga proyek keberanian — dan mungkin juga proyek pelajaran.” kata Iwan Setiawan, Direktur Indonesia Political Review (IPR)
Prabowo Menanggung, Purbaya Ogah Bayar, Rakyat Menanti
Kini di bawah pemerintahan baru, tanggung jawab itu berpindah tangan.
Presiden Prabowo Subianto dengan nada tegas menyatakan akan menanggung utang Whoosh dan memastikan proyek ini tetap berlanjut.
“Saya yang tanggung jawab,” ujarnya, menegaskan sikap seorang pemimpin yang siap menanggung warisan kebijakan pendahulunya.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pernyataan berbeda: pemerintah tidak akan menggunakan APBN untuk menutup utang proyek kereta cepat ini.
“Kalau pakai APBN dulu agak lucu, karena untungnya ke dia (Danantara), susahnya ke kita.”
Sikap dua pejabat ini — Prabowo yang siap memikul, dan Purbaya yang menolak membebani APBN — menempatkan rakyat di antara dua kutub kebijakan yang belum seirama.
Di atas rel baja yang berkilau, mimpi dan kenyataan berkelindan seperti senja yang memeluk malam; setiap detik perjalanan Whoosh adalah nyanyian hati bagi mereka yang menunggu.
🔔 Pada halaman berikutnya kita akan menyingkap harapan di rel baja dan beban utang yang membayangi rakyat
Harapan di Rel Baja
Meski beban terasa berat, pemerintah tetap menegaskan manfaat proyek ini: mengurangi kemacetan di koridor Jakarta–Bandung, menekan emisi karbon, dan menghidupkan ekonomi kawasan di sepanjang lintasan.
Setiap keberangkatan Whoosh dari Halim menuju Padalarang menjadi simbol harapan, bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju — bukan sekadar penonton di peta global teknologi.
Apakah kecepatan ini benar-benar untuk mereka? Atau hanya untuk mereka yang mampu membeli tiketnya?
Utang, Warisan, dan Waktu
Whoosh kini menjadi warisan besar di tangan Presiden Prabowo.
Jokowi membangun mimpi, Prabowo menanggung konsekuensinya.
Dan rakyat — seperti biasa — menunggu hasil akhirnya.
Jika proyek ini gagal, ia akan menjadi peringatan abadi bahwa
kecepatan tanpa perhitungan bisa membawa bangsa tergelincir dalam utang panjang.
Di ujung rel, waktu menjadi hakim paling adil.
Apakah Whoosh akan terus melesat membawa harapan, atau melambat di bawah beban tanggung jawab berat — sejarah yang akan menjawabnya.
Di antara gemuruh roda dan angin yang menampar wajah, harapan dan tanggung jawab berciuman, menyisakan aroma mimpi bagi bangsa yang belajar mencintai masa depannya.

