Nikuba & Bobibos: Antara Klaim Teknologi, Harapan Publik, dan Luka Kepercayaan

Di tengah naik-turunnya harga energi yang terus menguji napas rakyat kecil, dua nama melompat dari tepian wacana menjadi percakapan nasional: Nikuba dan Bobibos.

Publik mulai mengenal Nikuba ketika alat pengubah air menjadi bahan bakar itu dipresentasikan oleh Aryanto Misel, warga Lemahabang Wetan, Kabupaten Cirebon, berdasarkan laporan Detik pada 2022.

Sementara Bobibos muncul dari tangan seorang M. Ikhlas Thamrin, seorang pengembang energi nabati dari Jonggol, Bogor, yang menurut laporan Antara telah meneliti jerami selama lebih dari satu dekade.

Keduanya menyalakan bara harapan: energi murah, limbah jadi manfaat, dan kemandirian yang lama dirindukan.

Namun di balik cahaya itu, ada ruang gelap yang menuntut penjelasan lebih rinci — tentang riwayat, metode, uji laboratorium, serta posisi ilmiah yang sebenarnya.

Gelombang Teknologi Penantang Energi Konvensional

Kemunculan Nikuba dalam Lintasan Waktu & Tempat

Riwayat Nikuba bermula dari bengkel kecil di Cirebon. Aryanto, yang disebut Detik sebagai lulusan SMP dengan pengalaman panjang di dunia otomotif, mengaku memulai riset sekitar 2018 setelah lima tahun bereksperimen dengan elektrolisis air.

Media Disway menggambarkan tahap awal Nikuba sebagai perangkat penghemat BBM sebelum berkembang menjadi klaim bahan bakar berbasis hidrogen.

Nama Nikuba — singkatan dari “Niku Banyu” yang berarti “itu air” — muncul dalam pemberitaan nasional ketika Kodam III/Siliwangi melakukan uji pakai terbatas pada kendaraan operasional.

Dari Cirebon, langkah Aryanto merayap hingga Eropa; laporan Detik pada 2023 menyebut ia diundang ke Milan untuk mempresentasikan teknologinya kepada pihak otomotif Italia.

Walau begitu, riwayat ilmiah Nikuba tidak berjalan selancar kisah populernya.

Tempo mencatat bahwa BRIN mengirim tim peneliti pada 2022 untuk mengevaluasi klaim-klaim Nikuba.

Di sisi lain, sejumlah akademisi seperti dosen Teknik Mesin ITB mengingatkan bahwa sistem produksi hidrogen tanpa kontrol temperatur dan tekanan berpotensi berbahaya bila dipasang pada kendaraan standar.

Kelahiran Bobibos dari Laboratorium Mandiri di Jonggol

Jika Nikuba lahir dari eksperimen elektrolisis, maka Bobibos muncul dari laboratorium biokimia skala kecil di Jonggol.

Ikhlas Thamrin, sebagaimana dilaporkan Antara dan Kabar Energi pada 2025, telah meneliti jerami sebagai bahan bakar sejak lebih dari 10 tahun lalu.

Peluncuran resminya dilakukan pada tanggal 2 November 2025, sebagaimana dicatat Detik, dan langsung menyita perhatian karena klaim bahwa Bobibos—bahan bakar cair dari jerami—memiliki angka oktan setara RON 98.1.

Klaim ini merujuk pada hasil pengujian Lemigas yang diberitakan Monitor Indonesia, meski hasil lengkapnya masih belum dipublikasikan karena Ikhlas menyebut adanya perjanjian kerahasiaan dengan sejumlah pihak.

Bahan bakunya sederhana: jerami yang biasanya dibakar petani.

Namun prosesnya tidak sesederhana videonya yang viral; laporan Disway menjelaskan bahwa Bobibos melalui lima tahap proses biokimia dalam mesin ekstraksi khusus yang dibuat Ikhlas sendiri.

Dari satu hektare sawah, ia memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 3.000 liter bahan bakar nabati ini.

Riwayat Bobibos kemudian masuk ke ranah birokrasi energi setelah Direktorat Jenderal Migas menyatakan bahwa produk tersebut telah mengajukan uji resmi namun hasil teknisnya belum dapat diumumkan.

Radar Bogor melaporkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan berencana melakukan pilot project produksi di Lembur Pakuan.

Mengapa Dua Teknologi Ini Viral?

Mengamati perjalanan Nikuba dan Bobibos, ada pola yang cepat terlihat.

Keduanya muncul di tengah tekanan ekonomi, ketergantungan pada impor bahan bakar, dan kegelisahan petani yang selama ini tidak memiliki nilai tambah dari limbah panen.

Narasi “penemu lokal yang mengalahkan teknologi besar” selalu menjadi magnet, terlebih pada bangsa yang memiliki sejarah inovasi grassroots.

Namun viralnya teknologi ini bukan hanya karena harapan, tetapi karena ketidakjelasan data teknis.

Ketika publik hanya menerima video dan testimoni, sementara laporan uji laboratorium tidak sepenuhnya dibuka, ruang kosong itu diisi oleh spekulasi, antusiasme, dan keraguan yang tumbuh bersamaan.

Justru karena itu, riwayat kemunculan Nikuba dan Bobibos perlu dicatat lengkap — bukan sekadar siapa penemunya, tetapi bagaimana proses ilmiahnya, apa hasil uji resminya, serta siapa lembaga yang bertanggung jawab memverifikasi.

Di balik segala riuh inovasi ini, ada getaran halus yang membuat kita tetap percaya bahwa manusia selalu mencari cahaya di antara kelamnya kebutuhan.

Nikuba dan Bobibos mungkin bukan jawaban final, namun keduanya adalah puisi kecil tentang keberanian: keberanian bermimpi, bereksperimen, dan berharap. Pada akhirnya, sainslah yang akan mengukuhkan mana yang akan menjadi nyala peradaban, dan mana yang tinggal sebagai jejak angin yang pernah lewat.

→ Halaman berikutnya membedah Nikuba secara teknis: metode, kandungan gas, klaim energi, hasil uji, serta posisi ilmiah yang terverifikasi.

Nikuba terus berdenyut dalam ruang publik Indonesia sebagai kisah antara harapan dan keraguan.

Ia lahir dari bengkel kecil di Cirebon, dibawa oleh Aryanto Misel—lulusan SMP yang diyakini warga sekitar punya kejelian merangkai kabel dan pipa sejak masih muda.

Namun ketika alat ini disebut mampu membuat kendaraan berjalan hanya dengan air, dunia pun menoleh sambil bertanya: apakah ini terobosan, atau sekadar gema dari mimpi yang belum diuji?

Riwayat dan Cara Kerja Nikuba: Dari Bengkel Cirebon ke Perbincangan Nasional

Nikuba berasal dari kata “Niku Banyu,” yang berarti “itu air.”

Istilah ini dijelaskan Aryanto Misel dalam liputan DetikJabar yang menelusuri perjalanan lima tahun risetnya di sebuah bengkel kecil di Cirebon.

Dalam laporan yang sama ia mengungkap bahwa beberapa sepeda motor miliknya rusak selama proses eksperimen, sebelum akhirnya lahir prototipe Nikuba yang ia klaim stabil.

Dalam wawancara eksklusif yang direkam oleh tim DetikOto, Aryanto menjelaskan bahwa Nikuba bekerja menggunakan proses pemisahan hidrogen dan oksigen dari air melalui reaksi elektrolisis.

Hidrogen yang dihasilkan kemudian dialirkan menuju ruang bakar mesin kendaraan, sementara oksigen hasil pemecahan disebutnya disirkulasikan ulang agar reaksi tetap berlangsung.

Liputan DetikJabar juga mencatat bahwa menurut Aryanto, air yang digunakan harus “bebas logam berat” agar reaksi kimia di dalam sel Nikuba tidak terhambat.

Informasi serupa muncul dalam laporan Antara yang menampilkan pengujian lapangan yang dilakukan di Cirebon, di mana Aryanto memperagakan bagaimana satu liter air disebut mampu membawa sepeda motor menempuh perjalanan pulang–pergi antara Cirebon–Semarang.

Harga Nikuba, menurut penjelasan Aryanto kepada jurnalis DetikJabar, berada di kisaran empat setengah juta rupiah untuk satu unit. Bahkan, menurut laporan lain dari DetikOto, alat tersebut pernah dipasang pada tiga puluh satu kendaraan dinas TNI dari Kodam III/Siliwangi, setelah demonstrasi teknis yang ditunjukkan langsung oleh Aryanto kepada jajaran komando.

Nama Aryanto semakin dikenal setelah laporan Kompas Otomotif menyebutkan bahwa ia pernah mendapat undangan untuk mempresentasikan Nikuba di Milan, Italia, kepada sejumlah perusahaan otomotif Eropa yang tertarik dengan fenomena alat pemecah air ini.

Sikap Lembaga Riset dan Kritik Ilmiah

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pernah menyampaikan melalui pemberitaan DetikOto bahwa mereka bersedia memberikan fasilitas uji ilmiah terhadap Nikuba.

Namun pernyataan lanjutan dari Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu, yang disampaikan dalam wawancara di DetikNews, mengungkap bahwa Aryanto belum memberikan izin bagi BRIN untuk membuka dan menguji bagian internal alat secara menyeluruh.

BRIN menilai transparansi teknis mutlak diperlukan agar alat ini dapat dibuktikan secara ilmiah.

Profesor riset BRIN, Deni Shidqi Khaerudini, dalam penjelasan yang dikutip DetikNews menyampaikan bahwa elektrolisis air membutuhkan energi listrik sangat besar.

Ia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan satu kilogram hidrogen dibutuhkan sekitar 39 kilowatt jam listrik pada efisiensi ideal, sedangkan aki sepeda motor pada umumnya hanya menyimpan energi enam puluh watt jam.

Penjelasan ini digunakan sebagai dasar argumen bahwa klaim efisiensi energi Nikuba perlu diuji ulang karena berpotensi melanggar prinsip dasar termodinamika.

Peneliti BRIN lainnya, Eniya Listiani Dewi, dalam wawancara yang dikutip DetikOto, menjelaskan bahwa jika elektroda yang dipakai adalah stainless steel dan cairan aktifnya menggunakan senyawa semisal natrium klorida, natrium hidroksida, atau kalium hidroksida, maka reaksi yang terjadi kemungkinan bukan elektrolisis air murni, melainkan reaksi korosi yang menghasilkan gas campuran yang tidak stabil.

Menurutnya, hal ini dapat menimbulkan risiko teknis bila gas tersebut dialirkan langsung ke mesin pembakaran internal.

Paten, Potensi Bisnis, dan Tantangan Validitas

Dalam wawancara yang dirilis DetikJabar, Aryanto menyebut ia tengah mengurus paten Nikuba agar teknologinya mendapat perlindungan hukum.

Namun hingga laporan terakhir beredar, belum ada publikasi resmi mengenai nomor paten atau dokumen teknis yang sudah disahkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Soal pendanaan, Aryanto menjelaskan dalam liputan DetikOto bahwa ia membutuhkan modal besar untuk mengembangkan riset Nikuba dan tidak keberatan apabila hak cipta temuannya dibeli oleh investor asing.

Dalam pernyataan tersebut ia bahkan menyebut nominal lima belas miliar rupiah sebagai angka yang diusulkan untuk pelepasan hak teknologi, dengan alasan percepatan produksi dan perluasan riset.

Meski begitu, para peneliti energi—yang pendapatnya kembali dicatat oleh DetikNews—menilai bahwa tanpa data uji laboratorium yang terbuka, Nikuba akan sulit memasuki pasar global.

Selain syarat keamanan hidrogen yang ketat, investor juga memerlukan efisiensi energi yang dapat dibuktikan melalui laporan independen.

Skala produksi massal pun akan menuntut standarisasi teknis yang belum dapat dipastikan selama alat ini masih bersifat tertutup.

Tinjauan Risiko & Validitas

Nikuba menghadapi tantangan besar di ranah sains dan penerimaan teknis:

  1. Risiko Keamanan: Hidrogen sangat reaktif, dan bila sistem pipa atau integrasi dengan mesin tidak aman, bisa berbahaya.
  2. Efisiensi Energi: Karena elektrolisis butuh listrik, ada pertanyaan seberapa “energi bersih” proses ini jika listrik berasal dari sumber fosil atau aki motor.
  3. Transparansi Ilmiah: Tanpa uji independen dan dokumentasi terbuka (laporan lab, paten, peer review), klaim Nikuba tetap dalam ranah misteri dan skeptisisme.
  4. Komersialisasi & Skalabilitas: Membuat unit Nikuba di skala besar bukan hanya soal produksi alat, tetapi juga infrastruktur pasokan air, listrik, dan mekanik untuk integrasi ke kendaraan secara aman.

Nikuba, bagaimanapun, adalah gema dari sebuah harapan: bahwa dari bengkel sederhana pun bisa lahir mimpi yang menantang hukum sains.

Ia mungkin belum sempurna, mungkin masih tertutup kabut skeptisisme ilmiah, tetapi ia adalah tanda bahwa manusia tak pernah berhenti membayangkan dunia yang lebih mudah, lebih murah, lebih terang.

Dan suatu hari nanti—entah melalui Nikuba atau penemuan lain—barangkali mimpi itu menemukan bentuknya.

→ Halaman berikutnya akan mengeksplorasi Bobibos: mekanismenya, klaim dari jerami, dan kritik ilmiah yang menyertainya.

Bobibos muncul sebagai wacana yang mengguncang dunia energi lokal: bahan bakar cair dari jerami padi, hasil riset lebih dari satu dekade, diklaim punya oktan sekelas RON 98 – sebuah harapan hijau sekaligus tantangan regulasi.

Tapi, di balik gemerlap presentasi dan video promosi, pertanyaan ilmiah dan keamanan terus menyelimuti: apakah Bobibos benar-benar bisa menjadi bahan bakar masa depan?

Asal Usul Bobibos: Dari Limbah Sawah ke Inovasi Energi

Bobibos adalah singkatan dari “Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!”, sebuah produk bioenergi yang diciptakan PT Inti Sinergi Formula dan diperkenalkan secara resmi pada tanggal 2 November 2025 di Jonggol, Kabupaten Bogor, seperti dilaporkan Antara.

Pengembang utamanya adalah M. Ikhlas Thamrin, yang menurut laporan Antara dan KBEonline telah menekuni riset jerami sebagai bahan bakar selama lebih dari sepuluh tahun.

Ikhlas memilih jerami sebagai bahan baku karena ketersediaannya sangat melimpah di sawah-sawah Indonesia dan selama ini sering menjadi limbah pertanian yang dibakar.

Dalam laporan KBEonline, dia menyatakan bahwa konversi jerami menjadi bahan bakar bukan hanya soal energi, tetapi soal nilai tambah ekonomi bagi petani: jerami yang selama ini tak bernilai, kini bisa diubah menjadi komoditas energi sekaligus produk turunan seperti pakan ternak dan pupuk organik.

Mekanisme Produksi Bobibos: Lima Tahap Biokimia

Menurut laporan situs kumparan, proses pembuatan Bobibos melalui lima tahap biokimia dalam mesin ekstraksi yang dirancang khusus oleh tim Ikhlas.

Jerami diolah dengan menciptakan reaksi biologis dan kimia agar biomassa berubah menjadi cairan bahan bakar.

Proses ini melibatkan fermentasi, ekstraksi, konversi dan distilasi, meskipun detail teknis persisnya tidak dipublikasikan secara terbuka.

Hasil dari proses tersebut, menurut klaim pengembang, adalah cairan dengan performa tinggi dan sifat mesin yang stabil.

Bobibos tersedia dalam dua varian utama: satu untuk mesin bensin dan satu untuk mesin diesel, sesuai penjelasan Antara, sehingga potensi penggunaannya tidak terbatas pada mobil kecil tetapi bisa mencakup traktor dan alat-alat pertanian.

Klaim Performa dan Uji Lapangan

Dalam uji coba lapangan yang dilaporkan oleh Ngopi Produk, Bobibos pernah digunakan di traktor diesel di Lembur Pakuan, Subang, di hadapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Hasilnya, menurut laporan tersebut, mesin traktor bekerja lebih ringan, tarikan terasa halus, dan asap buangan lebih bersih dibandingkan bahan bakar konvensional.

Menurut uji laboratorium dari Lemigas, seperti dilaporkan Monitor Indonesia, Bobibos mencatat angka oktan RON sebesar 98,1.

Nilai ini mengejutkan karena melewati prediksi awal pengembang yang memperkirakan RON di kisaran 92, dan menjadikannya selevel atau bahkan lebih tinggi dari bahan bakar premium.

Klaim oktan tinggi ini juga diulang oleh Ikhlas saat wawancara publik, seperti dikutip oleh Republika, di mana ia menyebutkan bahwa sampel Bobibos diuji di Lemigas sesuai standar dan menunjukkan RON 98,1.

Aspek Lingkungan dan Ekonomi

Pengembang Bobibos juga menonjolkan klaim rendah emisi sebagai salah satu keunggulan. Dalam laporan Antara, Ikhlas mengklaim bahwa Bobibos “mampu menekan emisi gas buang hingga mendekati nol,” menjadikannya alternatif yang jauh lebih bersih daripada BBM fosil. Jika klaim ini benar, Bobibos bisa menjadi bagian dari transisi energi hijau sambil mengurangi polusi pertanian dari jerami yang sering dibakar.

Secara ekonomi, potensi jerami sangat besar. Ikhlas menyebutkan bahwa dari satu hektare lahan padi bisa dihasilkan hingga 3.000 liter Bobibos, menurut laporan kumparan. Jumlah itu menurut KBEonline dapat menciptakan skema ekonomi lokal: selain bahan bakar, proses konversi jerami juga bisa menghasilkan pakan ternak dan pupuk yang bisa dijual kembali, menciptakan model ekonomi sirkular bagi komunitas petani.

Lebih jauh, rencana jangka panjang tim Bobibos adalah mendirikan pabrik mini di desa-desa agar produksi lebih terdesentralisasi. Mereka bahkan mempertimbangkan skema distribusi lokal yang melibatkan warga desa, termasuk ibu-ibu PKK, sebagai agen penjualan — sebuah visi di mana petani turut menjadi penggerak energi di desa mereka sendiri (laporan Ngopi Produk).

Kritik Ilmiah, Regulasi, dan Tantangan Keamanan

Meski banyak klaim positif, Bobibos juga menghadapi pertanyaan serius dari pakar. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen Teknik Mesin di ITB, memberi peringatan bahwa klaim RON 98 harus diuji secara menyeluruh oleh laboratorium resmi agar keamanan mesin dan dampak jangka panjang bisa dipastikan, seperti dilaporkan oleh Muria Network.

Dari sisi regulasi, Kementerian ESDM menyatakan sikap hati-hati. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengkaji Bobibos lebih dalam sebelum memberikan izin edar, seperti diberitakan oleh Times Jakarta. Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman menegaskan bahwa produk baru ini baru diajukan untuk uji laboratorium dan belum bersertifikat BBM, meskipun sampel sudah dikirim ke Lemigas, menurut laporan Detik.

Beberapa kritik juga menyoroti klaim emisi “mendekati nol” sebagai sangat optimistis, karena proses pembuatan cairan biofuel biasanya melibatkan konsumsi energi dan bahan kimia yang dapat menghasilkan jejak karbon. Selain itu, pertanyaan logistik muncul: bagaimana menampung jerami secara berkelanjutan, terutama karena pasokan jerami musiman, dan bagaimana menjaga kualitas jerami agar selalu layak olah.

Potensi Strategis dan Risiko Sosial

Jika klaim Bobibos benar dan dapat ditingkatkan secara skala, dampak sosial-ekonominya bisa besar: petani padi bisa mendapat tambahan pendapatan dari jerami, dan desa-desa bisa menjadi pusat produksi bioenergi lokal. Selain itu, Bobibos dapat menjadi simbol inovasi anak bangsa yang mengubah limbah menjadi sumber daya.

Namun, risiko juga nyata. Ada bahaya overpromosi: jika Bobibos dijual publik sebelum uji laboratorium lengkap, bisa menimbulkan kegagalan teknologi atau bahkan kerusakan mesin pengguna. Ada pula risiko bahwa jerami yang sekarang dipandang “limbah” akan berubah menjadi komoditas energi, memicu persaingan antara sektor pertanian pangan dan bioenergi, serta potensi perubahan harga jerami yang berdampak sosial.

Bobibos adalah puisi bioenergi dari alam pertanian Indonesia: jerami yang dulu dianggap sampah kembali bernyanyi sebagai bahan bakar. Ia menumbuhkan harapan bahwa limbah bisa menjadi angin baru yang menyalakan masa depan. Tapi seperti semua lagu indah, melodi Bobibos harus terbukti di panggung ilmiah agar tidak sekadar nyanyian angan-angan.

→ Halaman selanjutnya akan membandingkan Bobibos dan Nikuba secara teknis: kelebihan, risiko, dan potensi energi jangka panjang.

Dua janji energi alternatif, dua jalan, dua kontroversi.

Bobibos dan Nikuba sama-sama lahir dari rahim keresahan bangsa terhadap harga BBM yang terus naik, impor energi yang membengkak, dan kebutuhan anak negeri untuk berdaulat. Keduanya membawa klaim besar: satu dari jerami, satu dari air. Namun di balik gemuruh dukungan dan keraguan, ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: siapa yang benar-benar bicara sains, siapa yang berbicara harapan?

1. Dua Teknologi, Dua Arah Filosofi

Bobibos berdiri di atas logika bioenergi: mengubah limbah jerami menjadi bahan bakar cair yang bisa menggantikan bensin atau solar. Filosofinya sederhana: “alam menyediakan, manusia mengolah”. Jerami berlimpah, energi terbarukan, dan proses kimia yang setidaknya masuk akal dari sudut pandang bioteknologi.

Nikuba (Akrab dengan konsep “air jadi bahan bakar”) bergerak dengan janji berbeda: mengurai molekul air menjadi hidrogen, lalu mengalirkannya ke mesin bakar. Dalam narasinya, air adalah sumber energi murah tanpa batas. Tetapi fisika berbicara: penguraian air membutuhkan energi lebih besar daripada energi yang keluar — hukum kekekalan energi tidak kenal kompromi.

Perbedaan ini membuat Bobibos cenderung berjalan dalam jalur possible science, sementara Nikuba sering diposisikan di wilayah boundary science yang berbatasan dengan misinterpretasi sains.

2. Klaim Kinerja: Antara Laboratorium dan Lapangan

Bobibos

  • Mengklaim nilai RON tinggi.
  • Punya uji awal di lapangan (traktor, motor, dan mesin kecil).
  • Memiliki varian bensin & diesel.
  • Memanfaatkan biomassa yang secara teori memang bisa menghasilkan bahan bakar cair.

Apakah semua klaim final? Belum. Tapi arah teknologinya inline dengan riset biofuel global.

Nikuba

  • Klaim tidak membutuhkan BBM.
  • Mesin disebut tetap hidup hanya dengan suplai air.
  • Tidak ada publikasi mekanisme termodinamika yang dapat diuji ulang ilmuwan.
  • Uji lapangan terbatas dan tak pernah dipublikasikan parameter teknisnya.

Di panggung sains, transparansi adalah napas. Tanpanya, klaim secanggih apa pun hanya menjadi dongeng teknologi.

3. Jejak Ilmiah: Mana yang Mendekati Kaidah Riset?

Bobibos masih banyak yang harus dibuktikan: keamanan jangka panjang, standar mutu, stabilitas, residu pembakaran, dan konsistensi produksi. Tetapi idenya berdiri di atas basis ilmu yang punya literatur global mengenai biofuel 2.0 dan proses biomassa-to-liquid.

Dengan kata lain: belum matang, tapi tidak “melawan” hukum fisika.

Nikuba prinsip elektrolisis air tidak mungkin menghasilkan energi “gratis”. Dibutuhkan daya eksternal besar, sementara klaim Nikuba menyatakan sebaliknya. Tidak ada peer review, tidak ada blueprint terbuka, dan tidak ada parameter pengujian.

Akhirnya, Nikuba dianggap banyak peneliti sebagai teknologi yang butuh kejujuran lebih daripada pujian.

4. Dampak Sosial: Antara Harapan dan Kewaspadaan

Bobibos

  • Jika benar bisa diproduksi massal: petani mendapatkan sumber pemasukan baru dari jerami.
  • Desa bisa memiliki pabrik mini bioenergi.
  • Ekonomi lokal bergerak dalam lingkaran sirkular dan ramah lingkungan.
  • Potensi membuka lapangan kerja alternatif di wilayah agraris.

Bobibos adalah narasi pemberdayaan yang bersentuhan langsung dengan rakyat kecil.

Nikuba

  • Jika benar terbukti: revolusi energi global, bukan hanya Indonesia.
  • Jika tidak terbukti: menyisakan kekecewaan massal dan menggerus kepercayaan publik terhadap inovasi lokal.

Harapan adalah pedang bermata dua: bisa menyelamatkan, bisa melukai.

5. Risiko, Ketidakpastian, dan Etika Promosi

Bobibos

Risiko terbesar: overklaim sebelum uji menyeluruh, distribusi publik tanpa sertifikasi bisa memicu kerusakan mesin, potensi monopoli bahan baku jerami jika energi menjadi komoditas besar. Tetapi setidaknya, Bobibos berada pada jalur yang mungkin diverifikasi.

Nikuba

Risiko utamanya jauh lebih tajam: bisa memunculkan sentimen anti-sains, memicu pembeli modul yang merasa tertipu, dan berbahaya jika proses elektrolisis tidak dikontrol (risiko ledakan hidrogen). Tanpa kerangka ilmiah yang jelas, produk seperti ini berpotensi menimbulkan kerugian sosial.

6. Analisis Filosofis: Sains Bukan Musuh, Tapi Penjaga

Kedua inovasi ini berbicara tentang mimpi Indonesia: ingin mandiri energi, ingin lepas dari impor, ingin murah, ingin berdaulat. Di ruang harapan itulah masyarakat mudah jatuh cinta pada klaim besar — sebuah kerinduan yang wajar.

Tapi sains punya tugas: memastikan harapan tidak menjerumuskan manusia. Dalam filsafat Karl Popper, sesuatu disebut ilmiah bukan karena ia benar, tetapi karena ia bisa diuji. Bobibos — bisa diuji. Nikuba — belum membuka ruang uji.

Indonesia sedang mencari nyala baru di tengah langit energi yang muram. Dua lentera muncul: satu dari jerami yang menguning, satu dari air yang bening. Tapi cahaya tak hanya dinilai dari terang, melainkan dari kebenaran yang memantiknya. Sains bukan belenggu — ia adalah kompas agar kita tak tersesat dalam cahaya palsu.

→ Halaman 5 akan membahas: “Bagaimana Memilah Inovasi Asli, Hoaks Teknologi, dan Cara Media Menyaring Klaim Energi Alternatif.”

Indonesia sedang berdiri di persimpangan masa depan. Di satu sisi, jalan ekonomi menuntut energi murah; di sisi lain, sains dan etika meminta kejujuran. Setelah riuh Nikuba dan Bobibos bergema tahun-tahun terakhir, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apa sebenarnya yang Indonesia kejar? Energi baru, atau sekadar ilusi yang memercik sesaat? Halaman ini merangkum perjalanan itu—data, dinamika, dan filosofi yang melingkari setiap klaim teknologi anak bangsa.

Jejak yang Sudah Ditinggalkan Nikuba & Bobibos

Ketika Narasi Mendahului Sains

Pada 2022–2023, Nikuba menjadi nama yang viral karena disebut mampu mengubah air menjadi hidrogen siap pakai. Namun hingga kini tidak ada publikasi ilmiah yang diverifikasi oleh tim fisika material atau lembaga riset nasional mana pun. Hal ini ditegaskan oleh para peneliti energi di Indonesia, termasuk penjelasan terbuka dari peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional yang menyebut bahwa teknologi elektrolisis tanpa input energi signifikan bertentangan dengan hukum kekekalan energi yang diajarkan dalam fisika dasar.

Sementara itu, Bobibos—yang muncul dari Jawa Tengah—mengusung narasi jerami sebagai sumber energi modern. Klaim tersebut awalnya terdengar progresif, selaras dengan potensi biomassa yang sudah lama diteliti. Namun biomassa tidak pernah bekerja secara “ajaib”, melainkan melalui proses baku seperti pirolisis, fermentasi, atau gasifikasi. Narasi Bobibos jarang menyebut proses teknis yang bisa diuji ulang oleh komunitas akademik, sehingga respons para pemerhati energi lebih bersifat skeptis hingga kini.

Kedua fenomena ini memperlihatkan satu hal: Indonesia sangat haus akan inovasi lokal, namun juga rentan pada narasi yang lebih cepat berlari daripada fakta.

Dampak Sosial & Psikologi Publik

Fenomena Nikuba dan Bobibos bukan sekadar teknologi—ia berubah menjadi harapan kolektif. Dalam masyarakat yang menghadapi tingginya harga BBM dan tekanan ekonomi, munculnya “penyelamat energi” terasa seperti angin sejuk. Narasi tentang “anak bangsa yang dilawan oleh korporasi besar” ikut mempercepat penerimaan publik.

Namun di sisi lain, fenomena psikologi sosial memperlihatkan bahwa masyarakat cenderung menerima kabar yang memberikan harapan cepat, bahkan sebelum rumus dan data diuji. Di sinilah pentingnya literasi sains: bukan untuk memadamkan mimpi, tetapi untuk mencegah harapan tumbuh di tanah yang rapuh.

Energi Masa Depan Indonesia yang Benar-Benar Realistis

Hidrogen Hijau yang Sedang Disiapkan Negeri Ini

Hidrogen yang benar-benar diakui secara ilmiah sedang dikembangkan pemerintah melalui langkah-langkah yang tercatat dalam Rencana Umum Energi Nasional. Beberapa perusahaan pelat merah kini menyiapkan proyek hidrogen hijau yang dihasilkan dari energi terbarukan. Semua prosesnya mengikuti riset global yang dipublikasikan luas oleh Badan Energi Internasional, yang menegaskan bahwa produksi hidrogen membutuhkan energi input yang besar dan tidak dapat dihasilkan “gratis”.

Ini kontras dengan narasi Nikuba, namun membuka ruang: Indonesia sebenarnya sedang bergerak, hanya tidak lewat jalur yang viral.

Biomassa sebagai Energi, Tapi Bukan Seperti Bobibos

Biomassa—jerami, limbah pertanian, sampah organik—memang dapat menjadi energi. Namun ia membutuhkan proses fisik dan kimia yang jelas, seperti gasifikasi suhu tinggi. Banyak penelitian perguruan tinggi Indonesia telah membuktikan efisiensi biomassa sejak satu dekade lalu. Klaim Bobibos menjadi penting untuk dikaji ulang karena harus ditempatkan dalam ekosistem riset yang terbuka, dapat direplikasi, dan memiliki laporan teknis yang bisa diuji oleh kampus maupun lembaga negara.

Indonesia tidak kekurangan ilmuwan. Yang kurang adalah ruang publik yang memuliakan data sama tingginya dengan memuliakan harapan.

Jalan Etis Menuju Inovasi Energi

Perlunya Kehati-hatian Dalam Klaim Teknologi

Fenomena Nikuba dan Bobibos adalah pengingat bahwa penemuan besar selalu memerlukan proses panjang—uji lab, publikasi, verifikasi, peer review, dan standar industri. Tanpa itu semua, teknologi hanya menjadi cerita yang sulit dibedakan dari fantasi.

Bangsa ini perlu merawat keberanian untuk bermimpi, namun juga keberanian untuk menguji mimpi tersebut di ruang terang fakta.

Negara, Akademisi, dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama

Masa depan energi Indonesia tidak akan lahir dari satu tokoh viral, tetapi dari ekosistem riset yang solid. Negara telah memulai banyak proyek energi terbarukan. Universitas terus mengembangkan teknologi biomassa, baterai, dan riset energi terdistribusi. Masyarakat pun makin cerdas dalam menilai klaim.

Ketika tiga unsur ini bersatu, Indonesia berada pada posisi yang jauh lebih kuat dibanding mengandalkan “jagoan tunggal” yang tidak terverifikasi.

Pada akhirnya, perjalanan energi Indonesia seperti perjalanan mencari cahaya. Kadang kita terseret oleh kilau yang terlalu cepat, kadang kita tersandung oleh janji yang terlalu indah. Namun langkah bangsa ini tidak akan berhenti—karena kita terus belajar membedakan apa yang bersinar karena sains, dan apa yang berkilau hanya karena cerita. Dan di antara semua itu, harapan tetap menjadi nyala kecil yang tidak pernah padam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *