Gebrakan Global, Anies Baswedan Ditunjuk Jadi Penasihat Komisi Kerajaan Kota Riyadh: Apa Saja Tugasnya?
Jingga News – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, resmi ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh (RCRC). Berbekal kesuksesan integrasi transportasi JakLingko di Jakarta, Anies kini memikul tanggung jawab strategis bersama para ahli global untuk merumuskan tata kota, mentransformasi sistem transportasi massal, hingga mendongkrak daya saing ibu kota Arab Saudi tersebut menuju Visi 2030.
Daftar Isi
- 1. Mengenal RCRC: Motor Penggerak Visi Arab Saudi 2030
- 2. Mengapa Anies Baswedan? Tolok Ukur Keberhasilan Jakarta
- 3. Bedah Tugas: Apa Saja Tanggung Jawab Anies di Riyadh?
- 4. Dampak bagi Hubungan Bilateral Indonesia-Arab Saudi
- 5. Analisis Mendalam: Relevansi JakLingko untuk Cetak Biru Riyadh
- 6. Tantangan Masa Depan Megapolitan Riyadh
Gebrakan Global, Anies Baswedan Ditunjuk Jadi Penasihat Komisi Kerajaan Kota Riyadh: Apa Saja Tugasnya?
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali mencatatkan namanya di panggung internasional.
Kali ini, tokoh yang dikenal dengan berbagai terobosan penataan kota semasa memimpin ibu kota Indonesia tersebut resmi didapuk menjadi salah satu anggota Dewan
Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh atau Royal Commission for Riyadh City (RCRC) di Arab Saudi. Langkah ini menjadi sorotan hangat, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di kawasan Timur Tengah.
Bergabungnya Anies ke dalam lembaga prestisius besutan Kerajaan Arab Saudi ini menegaskan bahwa rekam jejaknya dalam membenahi megapolitan seperti Jakarta diakui secara global.
Amanah besar ini sebenarnya telah berjalan sejak tahun 2025 lalu, dan kini publik mulai melihat implementasi serta kontribusi nyata dari kolaborasi strategis tersebut.
Lantas, apa sebenarnya Royal Commission for Riyadh City itu, mengapa Anies Baswedan yang dipilih, and apa saja tugas serta tanggung jawab besar yang kini berada di pundaknya?
Artikel ini akan mengupas secara tuntas, mendalam, dan komprehensif mengenai peran baru sang arsitek kebijakan publik asal Indonesia di tanah Arab.
1. Mengenal RCRC: Motor Penggerak Visi Arab Saudi 2030
Sebelum membedah tugas Anies Baswedan, penting untuk memahami apa itu Royal Commission for Riyadh City (RCRC). Lembaga ini bukan sekadar dinas tata kota atau dewan tata ruang biasa yang berada di bawah kementerian biasa.
RCRC adalah komisi tinggi negara yang bertanggung jawab langsung atas transformasi total Kota Riyadh—ibu kota Arab Saudi—baik dari segi infrastruktur, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan modern.
Di bawah komando langsung putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), RCRC menjadi ujung tombak dalam mewujudkan agenda nasional mahabesar bertajuk Saudi Vision 2030.
Target yang dipatok oleh kerajaan tidak main-main: mereka berambisi menyulap Riyadh menjadi salah satu dari 10 kota dengan ekonomi terbesar di dunia, serta melipatgandakan populasi kota dari yang saat ini sekitar 7,5 juta jiwa menjadi 15 hingga 20 juta jiwa pada tahun 2030 nanti.
Untuk mencapai ambisi raksasa yang membutuhkan lompatan kuantum tersebut, Kerajaan Arab Saudi mengumpulkan para pakar global terbaik ke dalam sebuah Dewan Penasihat (Advisory Board).
Dewan elit ini bersifat sangat eksklusif, hanya diisi oleh sekitar 10 hingga 12 orang ahli terpilih dari berbagai belahan dunia, termasuk salah satunya adalah Anies Baswedan.
2. Mengapa Anies Baswedan? Tolok Ukur Keberhasilan Jakarta
Penunjukan Anies Baswedan sebagai penasihat RCRC bukanlah sebuah keputusan politik tanpa dasar yang kuat.
Pihak Kerajaan Arab Saudi secara khusus menyoroti keberhasilan nyata Anies dalam memimpin Jakarta periode 2017–2022, terutama di sektor penataan ruang publik dan pengelolaan transportasi massal yang inklusif.
Salah satu tolok ukur utama yang menarik perhatian RCRC adalah kemampuan Anies mengeksekusi integrasi transportasi massal melalui sistem JakLingko.
Di bawah sistem ini, berbagai moda transportasi di Jakarta—mulai dari MRT yang modern, LRT, TransJakarta, hingga angkutan kota skala kecil (mikrotrans)—berhasil dikoneksikan ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Integrasi ini mencakup rute yang saling terhubung, manajemen fisik stasiun dan halte, hingga sistem pembayaran satu kartu atau aplikasi nontunai.
Bagi Riyadh, yang saat ini sedang gencar-gencarnya membangun proyek transportasi massal ambisius seperti Riyadh Metro (salah satu proyek kereta kota terbesar di dunia) dan jaringan bus kota skala besar, pengalaman nyata Jakarta dalam melakukan migrasi budaya bertransportasi publik dinilai sangat relevan dan memiliki nilai yang sangat mahal.
3. Bedah Tugas: Apa Saja Tanggung Jawab Anies di Riyadh?
Sebagai anggota Dewan Penasihat RCRC, Anies Baswedan memikul tanggung jawab strategis tingkat tinggi. Tugas-tugasnya tidak bersifat teknis harian yang mengurusi administrasi lapangan, miris melainkan berada pada ranah konseptual, evaluatif, komparatif, dan visioner.
3.1 Memberikan Panduan Strategis Tata Kota Global
Anies bersama jajaran penasihat dunia lainnya bertugas merumuskan dan memberikan panduan strategis (strategic guidance) kepada dewan direksi RCRC yang dipimpin oleh para pangeran dan menteri senior Arab Saudi.
Mereka bertugas menelaah blueprint pembangunan jangka panjang kota Riyadh agar tetap berada di jalur yang benar (on track) menuju kota global modern, tanpa harus kehilangan identitas nilai budaya serta sejarah lokal yang menjadi akar masyarakat Arab.
3.2 Mengawal Transformasi Sistem Transportasi Makro
Fokus utama yang dibawa Anies ke meja RCRC adalah berbagi best practices mengenai pengelolaan transportasi publik yang inklusif.
Riyadh saat ini menghadapi tantangan besar berupa tingginya ketergantungan warganya pada kendaraan pribadi yang memicu kemacetan parah di koridor-koridor utama.
Anies bertugas memberikan masukan bagaimana membangun konektivitas antar-moda yang ramah pengguna, efisien, dan yang paling krusial: bagaimana merancang strategi insentif dan disinsentif agar terjadi perubahan perilaku (behavioral shift) mobilitas masyarakat kota gurun menjadi lebih berkelanjutan.
3.3 Meningkatkan Daya Saing Kota (City Competitiveness)
Di bawah arahan Visi 2030, Riyadh sedang bersaing ketat dengan kota-kota besar dunia lainnya seperti Dubai, Singapura, London, dan New York untuk menarik investasi asing, talenta global berkualitas tinggi, serta gelombang pariwisata internasional.
Tugas dewan penasihat adalah menganalisis indikator-indikator daya saing global dan memberikan rekomendasi kebijakan guna menciptakan ekosistem kota yang menarik bagi bisnis internasional.
Hal ini selaras dengan kehadiran Anies dalam Riyadh Competitiveness Forum (RCF) yang baru-baru ini diselenggarakan, di mana isu-isu daya saing makro kota dunia dibahas secara komprehensif.
3.4 Optimalisasi Ruang Publik dan Kota Ramah Pejalan Kaki
Jakarta di era Anies mencatatkan revitalisasi trotoar besar-besaran, pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) ikonik, dan pembangunan ruang ketiga (ruang publik gratis tempat warga berinteraksi seperti taman-taman kota).
Pengalaman empiris ini sangat dibutuhkan di Riyadh, yang saat ini tengah menjalankan proyek hijau berskala raksasa seperti Green Riyadh dan Sports Boulevard.
Anies ikut memberikan perspektif tentang bagaimana merancang ruang publik yang hidup (vibrant space) di tengah karakteristik iklim gurun yang ekstrem, sehingga mampu meningkatkan indeks kebahagiaan warga kota (livability index).
3.5 Mitigasi Dampak Sosial Pembangunan Cepat
Mengubah sebuah kota secara fisik dalam waktu singkat sering kali memicu fenomena gegar sosial dan ketimpangan bagi penduduk asli.
Dengan latar belakangnya sebagai seorang akademisi, mantan menteri pendidikan, dan mantan kepala daerah megapolitan, Anies diharapkan mampu memberikan masukan mengenai pendekatan sosiologis dalam pembangunan kota.
Bagaimana memastikan bahwa modernisasi masif di Riyadh tetap bersifat inklusif, humanis, berkeadilan, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada yang merasa terpinggirkan.
4. Dampak bagi Hubungan Bilateral Indonesia-Arab Saudi
Kiprah Anies Baswedan di dalam internal RCRC ini membawa dampak positif yang cukup signifikan bagi posisi tawar Indonesia di mata internasional.
Ini membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar konsumtif, sumber tenaga kerja informal, atau penonton dalam tren pembangunan global, melainkan telah mampu mengekspor “arsitek pemikir” tingkat tinggi untuk ikut merancang kota masa depan di negara lain yang kaya raya.
Secara tidak langsung, posisi strategis ini juga membuka peluang emas bagi penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi.
Hubungan ini bisa bermanifestasi dalam transfer teknologi tata kota, kerja sama investasi, hingga terbukanya peluang lebar bagi korporasi infrastruktur, badan usaha milik negara (BUMN) sektor konstruksi, serta arsitek-arsitek muda asal Indonesia untuk ikut memenangkan tender dan berkontribusi langsung dalam proyek-proyek raksasa yang sedang berjalan di Riyadh.
5. Analisis Mendalam: Relevansi JakLingko untuk Cetak Biru Riyadh
Jika ditelaah lebih dalam, konsep JakLingko yang diusung Anies di Jakarta memecahkan masalah mendasar yang juga dihadapi oleh Riyadh: fragmentasi transportasi.
Sebelum adanya JakLingko, operator angkutan di Jakarta berjalan sendiri-sendiri, menciptakan inefisiensi biaya dan waktu bagi penumpang.
Riyadh, yang secara historis memiliki budaya berkendara mobil pribadi yang sangat kuat akibat subsidi bahan bakar di masa lalu, memerlukan lompatan paradigma yang radikal.
Riyadh Metro dengan enam jalur utamanya tidak akan sukses jika tidak didukung oleh sistem pengumpan (feeder system) yang menjangkau kawasan permukiman padat.
Di sinilah formula mikrotrans dan manajemen rute JakLingko milik Jakarta diadopsi pemikirannya.
Bagaimana mengintegrasikan angkutan kecil atau bus medium ke dalam satu sistem manajemen di bawah payung komisi kerajaan, memastikan ketepatan waktu, kebersihan, dan kemudahan pembayaran bagi warga Riyadh.
Anies membawa studi kasus nyata mengenai tantangan resistensi angkutan konvensional di Jakarta dan bagaimana cara merangkul mereka ke dalam sistem modern, sebuah pelajaran berharga yang menghemat waktu uji coba bagi RCRC.
6. Tantangan Masa Depan Megapolitan Riyadh
Tentu saja, mengelola Riyadh berbeda dengan Jakarta. Tantangan geografis seperti suhu udara yang bisa mencapai di atas 45 derajat Celsius pada musim panas menuntut inovasi yang tidak pernah diterapkan di Jakarta.
Transportasi publik harus dilengkapi dengan sistem pendingin udara yang super prima, dan ruang publik harus dirancang dengan pelindung matahari yang masif atau kanopi hijau terintegrasi.
Dewan Penasihat RCRC dituntut untuk melahirkan ide-ide di luar batas konvensional (out of the box).
Kombinasi antara keahlian teknologi dari penasihat asal Barat/Asia Timur dengan keahlian sosiologis-manajemen dari penasihat seperti Anies Baswedan diharapkan mampu melahirkan solusi kota gurun pintar (smart desert city) yang ramah lingkungan, rendah emisi carbon, namun tetap memiliki akselerasi pertumbuhan ekonomi yang sangat agresif.
Bergabungnya Anies Baswedan ke dalam Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh menegaskan sebuah pesan penting bahwa tantangan megapolitan di seluruh dunia memiliki benang merah yang sama.
Bagi Anies, amanah internasional ini menjadi ruang aktualisasi diri untuk menyumbangkan pemikiran makro, sementara bagi Arab Saudi, kehadiran figur berpengalaman dari Jakarta diharapkan mampu memberikan akselerasi nyata bagi terwujudnya ambisi besar visi megapolitan Riyadh 2030.

